Homili Paus di Skopje

Paus di Makedonia Utara: Teks lengkap homili Misa di Skopje
Paus Fransiskus pada hari Selasa merayakan Misa Kudus di Alun-alun Makedonia, alun-alun utama ibu kota, Skopje. Dalam khotbahnya, Paus menjelaskan bagaimana Yesus, “roti hidup,” memuaskan rasa lapar dan haus yang sejati dari manusia.

“Aku adalah roti kehidupan.” Dengan mendasarkan homilinya pada kata-kata Yesus ini dalam Injil hari itu, Paus Fransiskus merenungkan rasa lapar dunia dan bagaimana para pengikut Yesus dapat membantu memuaskan rasa lapar ini.

Teks lengkap homili Paus sbb.:

“Akulah roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Kita baru saja mendengar Tuhan mengucapkan kata-kata ini.

Dalam Injil, dikisahkan orang banyak telah berkumpul di sekitar Yesus. Mereka baru saja melihat penggandaan roti. Mukjizat itu adalah salah satu peristiwa yang tetap terukir dalam pikiran dan hati komunitas para murid pertama. Ada pesta: pesta yang menunjukkan kemurahan hati dan kepedulian Tuhan yang luar biasa terhadap anak-anak-Nya, yang menjadi saudara dan saudari dalam berbagi roti. Mari kita bayangkan sejenak kerumunan itu. Sesuatu telah berubah. Selama beberapa saat, orang-orang yang haus dan diam yang mengikuti Yesus dalam pencarian sebuah kata, dapat menyentuh dengan tangan mereka dan merasakan di dalam tubuh mereka mukjizat dari sebuah persaudaraan yang mampu memuaskan secara luar biasa.

Tuhan datang untuk memberikan hidup kepada dunia. Dia selalu melakukannya dengan cara menentang kesempitan perhitungan kita, kesederhanaan dari harapan kita dan kedangkalan dari rasionalisasi kita; cara, yang mempertanyakan sudut pandang dan kepastian kita, sambil mengundang kita untuk pindah ke cakrawala baru yang memungkinkan kita untuk melihat kenyataan dengan cara yang berbeda. Dia adalah Roti hidup yang turun dari surga, yang memberi tahu kita: “Barangsiapa datang pada-Ku, tidak akan lapar, dan barangsiapa percaya pada-Ku, tidak akan pernah haus”.

Semua orang itu menemukan bahwa rasa lapar akan roti memiliki nama lain juga: rasa lapar akan Tuhan, rasa lapar akan persaudaraan, rasa lapar akan perjumpaan dan pesta bersama.

Kita sudah terbiasa makan roti basi dari informasi yang salah dan berakhir sebagai tawanan-tawanan dari ketidakjujuran, label, dan aib. Kita berpikir bahwa konformisme akan memuaskan dahaga kita, tetapi akhirnya kita hanya meminum ketidakpedulian dan ketidakpekaan. Kita memberi makan diri kita dengan mimpi akan kemuliaan dan kemegahan, dan berakhir dengan mengonsumsi kebingungan, kepicikan dan kesunyian. Kita menyibukkan diri di jejaring, tetapi kehilangan rasa persaudaraan. Kita mencari hasil-hasil yang cepat dan aman, tetapi akhirnya hanya mendapati diri kita kewalahan oleh ketidaksabaran dan kecemasan. Dengan menjadi tahanan dari realitas maya, kita kehilangan rasa dan aroma yang benar-benar nyata.

Janganlah kita takut untuk berseru dengan jelas: Tuhan, kami lapar. Kami lapar, Tuhan, akan roti firman-Mu, yang dapat membuka kepicikan dan kesunyian kami. Kami lapar, Tuhan, untuk suatu pengalaman persaudaraan di mana ketidakpedulian, aib dan cela tidak akan memenuhi meja kami atau bangga berada di rumah kami. Kami lapar, Tuhan, untuk perjumpaan di mana firman-Mu dapat membangkitkan harapan, membangunkan kelembutan dan menyadarkan hati dengan membuka jalan transformasi dan pertobatan.

Kami lapar, Tuhan, untuk mengalami, seperti kerumunan itu, penggandaan belas kasih-Mu, yang dapat menghancurkan stereotip kami dan mengomunikasikan belas kasih Bapa untuk setiap orang, terutama mereka yang tidak dipedulikan: yang dilupakan atau dihina. Janganlah kita takut untuk mengatakannya dengan jelas: kami lapar akan roti, Tuhan: roti perkataan-Mu, roti persaudaraan.

Dalam beberapa saat, kita akan mendekati meja altar, untuk diberi makan oleh Roti Kehidupan. Kita melakukannya untuk menaati perintah Tuhan: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi”(Yoh 6:35). Yang Tuhan minta dari kita adalah datang. Dia mengundang kita untuk berangkat, bergerak, untuk maju. Dia mendorong kita untuk mendekat kepada-Nya dan menjadi pembagi dalam kehidupan dan misi-Nya. “Ayo,” kata-Nya. Bagi Tuhan, itu tidak berarti hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebaliknya, itu berarti membiarkan diri kita digerakkan dan diubah oleh firman-Nya, dalam pilihan kita, perasaan kita dan prioritas kita, berani dengan cara ini untuk meniru cara-Nya sendiri dalam bertindak dan berbicara. Karena Dia adalah “bahasa dari roti yang berbicara mengenai kelembutan, persahabatan, pengabdian yang murah hati kepada orang lain” (Homili Tubuh Kristus, Buenos Aires, 1995), bahasa cinta yang konkret dan nyata, karena ada setiap hari dan nyata.

Dalam setiap Ekaristi, Tuhan memecahkan dan membagikan diri-Nya. Dia mengundang kita untuk memecahkan dan membagikan diri kita bersama-Nya, dan untuk menjadi bagian dari penggandaan ajaib yang ingin menjangkau dan menyentuh, dengan kelembutan dan kasih sayang, setiap sudut kota ini, negara ini, dan tanah ini.

07 Mei 2019
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s