Gereja itu Feminin

Paus kepada Pemimpin Umum perempuan: misi adalah pelayanan, bukan perbudakan
Paus Fransiskus bertemu para peserta Majelis Pleno XXI dari International Union of Superiors General (UISG) untuk menjawab pertanyaan mereka dan berterima kasih atas pelayanan mereka.

Paus Fransiskus pada hari Jumat menerima sekitar 850 Pemimpin Umum religius perempuan yang baru saja menyelesaikan Majelis Pleno mereka yang berlangsung setiap tiga tahun.

Selama audiensi Paus berbicara tentang persoalan pelecehan perempuan religius, diakon perempuan, peran perempuan dalam Gereja dan kemungkinan perjalanan kerasulan ke Sudan Selatan.

Tetapi pertama-tama, Paus berterima kasih kepada para religius atas pilihan berani mereka untuk berevolusi sejalan dengan dunia yang berkembang, dan menunjukkan bahwa jalan baru mereka penuh dengan risiko, tetapi Paus berkata, “bahkan lebih berisiko untuk takut dan tidak tumbuh”.

‘Rasa Malu yang Diberkati’
Mengenai masalah pelecehan imam, Paus Fransiskus mencatat bahwa itu tidak dapat diselesaikan dalam semalam. Tetapi, Paus menunjuk fakta bahwa suatu proses telah mulai mengatasi masalah ini, yang, katanya, “kita menjadi sadar, dengan rasa malu yang demikian, tetapi rasa malu yang diberkati”.

Penyalahgunaan kekuasaan
Paus menambahkan bahwa pelecehan para biarawati adalah sebuah persoalan yang harus disadari dan dihadapi: “Ini adalah masalah serius,” kata Paus, dan ia terus menyebutkan penyalahgunaan kekuasaan dan penyalahgunaan hati nurani kepada religius yang mana dapat dikenali secara khusus.

Religius, lanjut Paus, “jangan menjadi pelayan seorang imam.”

“Mereka harus menjalankan misi mereka dalam dimensi pelayanan, bukan dalam perbudakan,” kata Paus.

Diakon perempuan
Sejauh menyangkut diakon perempuan, Paus ingat bahwa sebuah komisi khusus telah dibentuk atas permintaan religius untuk memeriksa masalah ini secara mendalam.

Paus menjelaskan bahwa belum ada kesepakatan dalam komisi itu dan bahwa diperlukan dasar teologis dan historis. Namun, Paus berjanji bahwa pekerjaan itu akan terus berlanjut.

Peran perempuan dalam Gereja
Adalah keliru untuk berpikir bahwa komitmen para suster di Gereja hanya fungsional, Paus berkata: “Gereja itu feminin”. Paus bersusah payah menggarisbawahi bahwa ini bukan hanya gambar, tetapi kenyataan.

Mengingat fakta bahwa dalam Alkitab, Gereja adalah perempuan, gereja adalah “pengantin Yesus”, Paus mengatakan bahwa di bidang Teologi Perempuan perlu bergerak maju.

Paus juga setuju dengan salah satu religius yang menyarankan bahwa selama Sidang Pleno UISG berikutnya, kehadiran laki-laki dapat bermanfaat untuk mendengarkan suara-suara dari begitu banyak religius di seluruh dunia yang, bersama dengan saudara perempuan mereka, melayani Yesus dalam berbagai kapasitas yang tak terbatas. .

Sudan Selatan
Paus menegaskan kedekatan dan apresiasinya terhadap misionaris perempuan yang melayani orang-orang di negara-negara yang sangat membutuhkan seperti Republik Afrika Tengah dan Sudan Selatan. Paus mengatakan bahwa hal itu merupakan keinginannya untuk mengunjungi negara termuda di dunia.

Ini bukan janji, kata Paus, tetapi kemungkinan yang mungkin akan terwujud pada kesempatan perjalanan kerasulan ke Mozambik, Madagaskar dan Mauritius.

“Saya ingin pergi – kata Paus – saya membawa Sudan Selatan di hati saya”.

10 Mei 2019
Oleh: Linda Bordoni
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s