Misi Pendidikan Para Lasallian

Paus mendorong para Lasallian untuk peduli pada orang-orang yang terbuang melalui pendidikan
Paus Fransiskus mengundang para bruder dari Sekolah-Sekolah Kristiani untuk meneruskan hasrat mereka dalam mendidik orang-orang yang dibuang oleh masyarakat dan untuk memajukan “budaya kebangkitan” yang menawarkan harapan untuk kehidupan baru.
Oleh Devin Watkins

Para bruder dari Sekolah-Sekolah Kristiani, yang juga dikenal sebagai Lasallians, sedang memperingati 300 tahun wafatnya Pendiri mereka, St. John Baptist de La Salle.

Ia mendirikan Institut Saudara-Saudara religius di Perancis, pada tahun 1680, untuk menyediakan pendidikan berkualitas bagi anak-anak miskin.

Dalam pidatonya pada hari Kamis, Paus Fransiskus memuji St. de La Salle sebagai “pelopor dalam bidang pendidikan, yang menciptakan sistem pendidikan inovatif untuk zamannya.”

Paus mengatakan bahwa warisan Santo luar biasa hingga sekarang, yaitu visinya tentang sekolah, konsep guru, dan metode pengajaran yang inovatif.

Hak atas pendidikan
Mempertimbangkan ketiga elemen ini secara terpisah, Paus Fransiskus mengatakan visi sekolah de La Salle sangat jelas bahwa semua orang, bahkan orang miskin, memiliki hak atas pendidikan.

“Dia memberikan kehidupan kepada komunitas umat awam untuk mengemban cita-citanya, dan yakin bahwa Gereja tidak dapat tetap menjadi orang asing bagi kontradiksi sosial pada zamannya,” kata Paus.

Sebagian besar pendidikan di Perancis abad ke-17 dijalankan oleh para imam. Oleh sebab itu pembentukan kaum awam sebagai guru adalah revolusioner, dan para Lasallian menjadi semacam “biarawan awam” yang mendedikasikan diri untuk mengajar anak-anak miskin.

Mengajar sebagai sebuah misi
Paus Fransiskus kemudian merenungkan konsep guru menurut St. John Baptist de La Salle.

“Dia yakin bahwa sekolah adalah hal nyata yang penting, yang mana membutuhkan para instruktur yang cukup siap.”

Mempertimbangkan kekurangan struktural dari sistem pendidikan zamannya, de La Salle memutuskan bahwa mengajar bukan hanya sebuah pekerjaan tetapi merupakan misi, dan ia menempatkan di sekelilingnya orang-orang yang memiliki kualitas alami yang kondusif pada pendidikan dan membentuk mereka agar memiliki “martabat guru”.

Metode-Metode pengajaran revolusioner
Paus mengatakan bahwa Santo juga mempraktikkan metode-metode pengajaran baru, yang diterangi oleh “realisme pedagogis yang luar biasa”.

Dia mengajar dalam bahasa Perancis – bukan bahasa Latin yang banyak digunakan pada saat itu – dan membagi para murid menjadi kelompok-kelompok yang homogen untuk mendidik mereka dengan lebih baik. De La Salle bahkan mengadakan seminar untuk membentuk para guru di pedesaan dan mendirikan Sekolah Minggu untuk orang-orang dewasa.

“Dia memimpikan sekolah yang terbuka untuk semua dan dengan demikian menangani bahkan kebutuhan pendidikan yang paling ekstrem, memperkenalkan metode rehabilitasi melalui sekolah dan pekerjaan.”

Tawarkan harapan melalui pendidikan
Di penutup, Paus Fransiskus mendorong para bruder dari Sekolah-Sekolah Kristiani untuk “meniru hasrat Santo bagi mereka yang paling kecil dan terbuang” dan untuk membandingkan budaya kematian dengan “budaya kebangkitan”.

“Jangan pernah lelah mencari orang-orang yang berada di ‘kuburan’ kebingungan, kemunduran, ketidaknyamanan, dan kemiskinan yang modern, untuk menawarkan harapan bagi kehidupan baru.”

16 Mei 2019
Oleh: Devin Watkins
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s