Mampukah Kita Bersyukur di dalam Pencobaan?

Renungan Harian Misioner
Selasa Paskah VI, 28 Mei 2019
Peringatan S. Wilhelmus, S. Bernardus dr Montjoux, S. Germanus dr Paris
Kis. 16:22-34; Mzm. 138:1-2a,2bc- 3,7c-8; Yoh. 16:5-11

Yesus berpamitan dengan para murid-Nya, Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku. Dalam setiap perpisahan, pasti ada rasa duka bagi yang ditinggalkan. Orang menjadi diam seribu bahasa, karena kesedihan menyelimuti hatinya. Situasi itulah yang dirasakan para murid Yesus saat itu.

Yesus berusaha meyakinkan para murid, bahwa kepergian-Nya ini amat sangat berguna bagi mereka. Setelah Dia pergi, Dia akan mengutus Roh Penghibur yaitu Roh Kudus, Roh Bapa-Nya dan Roh-Nya sendiri, yang akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman [ay.7-11].

Roh Penghibur juga sebagai Roh Penolong dan Roh Kebenaran yang akan memimpin para murid melewati berbagai kesulitan, penderitaan, penganiayaan dalam terang sabda-Nya. Menuntun mereka agar dapat memahami misteri kehidupan Yesus, karya dan sabda-Nya dan akhirnya mengantar mereka kepada kepenuhan kebenaran yaitu Kristus sendiri.

Roh Kudus tidak hanya hadir bagi para rasul dan para murid, tetapi Roh Kudus hadir juga bagi seluruh Gereja yang menerima tugas untuk mewartakan Kabar Sukacita ke seluruh dunia.

Kehadiran Roh Kudus sebagai Roh Penolong tampak jelas pada peristiwa Paulus dan Silas dalam Kisah Para Rasul. Saat mereka dalam penjara, mereka tidak meratap atau menyalahkan Tuhan. Apalagi menuntut Tuhan karena meskipun telah melakukan tugas perutusan-Nya, mereka malah ditangkap, diseret ke pengadilan, didera bahkan dimasukkan ke penjara, dibelenggu dan dipasung pula. Namun mereka tetap mampu bersyukur dengan berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Bermazmurlah bagi Tuhan [Mzm.138:1.2.3.7.8].

Tuhan segera menjawab mereka, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat yang menggoyahkan sendi-sendi penjara sehingga pintu-pintu terbuka dan melepaskan belenggu mereka. Saat itu juga mukjizat Tuhan terjadi bagi orang yang percaya.

Kepala penjara kaget dan menghunus pedangnya ingin bunuh diri karena dia merasa malu, takut dan gagal menjaga para tahanan, mengira mereka semua sudah lari. Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring mencegah tindakan si kepala penjara itu. Setelah mengetahui bahwa mereka masih berdiam dalam penjara maka dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.

Ia mengantar Paulus dan Silas keluar sambil berkata, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab Paulus dan Silas, ”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”. Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan semua orang di rumahnya. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Ia sangat gembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah [ay.30-34].

Bagaimana dengan kita, disaat kita mengalami pencobaan berat? Mampukah kita seperti Paulus dan Silas? Mampukah kita masih tetap bersyukur, terus melayani dan mewartakan Injil meski didalam keterpurukan hidup?

Mungkin kita berpikir, mereka kan rasul, orang Yahudi yang hidup di zaman Yesus. Berbagai dalih memenuhi kepala kita. Bahkan mungkin kita lari menjauh dari Allah, meninggalkan Gereja-Nya. Kita tidak percaya adanya mukjizat di zaman now. Namun bagi kita yang percaya, mukjizat itu tetap ada. Bermazmurlah bagi Tuhan.

Tekunlah berdoa, berharaplah hanya kepada Dia. Mari membuka hati, senantiasa bersedia menerima pertolongan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup. Tetaplah bersyukur meskipun badai kehidupan tak henti mendera.

(Alice Budiana – Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini, Paroki Kelapa Gading – KAJ)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s