Memberi kepada Mereka yang Tidak Dapat Membalas

Paus Fransiskus: “Ini bukan hanya tentang migran, tetapi tentang kita semua”
Dalam pesannya untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia tahun 2019, Paus Fransiskus mengatakan ketakutan dan budaya membuang menyebabkan penolakan dan pengucilan pada orang-orang yang sedang mencari kehidupan yang lebih baik.

Paus Fransiskus merilis pesannya hari Senin untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-105, yang akan diperingati pada tanggal 29 September.

Seperti yang diumumkan oleh Bagian Migran dan Pengungsi Vatikan pada bulan Maret, tema yang dipilih adalah “Ini bukan hanya tentang para migran”.

Dalam pesannya, Paus Fransiskus menjelaskan apa arti tema itu, melalui perenungan bagaimana kita semua dapat membangun “kota Tuhan” jika kita menyambut, melindungi, memajukan, dan mengintegrasikan mereka yang sedang mencari kehidupan yang lebih baik.

“Ini bukan hanya tentang mereka, tetapi tentang kita semua, dan tentang masa kini dan masa depan keluarga manusia,” kata Paus.

“Ketika kita menunjukkan kepedulian terhadap mereka, kita juga menunjukkan kepedulian terhadap diri kita sendiri, pada semua orang; dalam usaha merawat mereka, kita semua tumbuh; dalam usaha mendengarkan mereka, kita juga berbicara kepada bagian dalam diri kita yang mungkin kita biarkan tersembunyi karena bagian itu tidak dihormati saat ini.”

Ketakutan-Ketakutan kita
“Ini juga tentang ketakutan-ketakutan kita.”
Paus mengatakan kadang-kadang ketakutan itu wajar tetapi hal itu bisa menjadi hambatan “ketika ketakutan itu mengondisikan cara berpikir dan bertindak kita sehingga kemudian membuat kita menjadi tidak toleran, tertutup, dan bahkan mungkin – tanpa disadari – rasis.” Ketakutan menghalangi kita untuk menjumpai Tuhan dalam diri sesama.

Amal dan kemanusiaan
Paus Fransiskus mengatakan masalah para migran dan pengungsi juga berkaitan dengan amal dan kemanusiaan. “Melalui karya amal, kita menunjukkan iman kita. Dan bentuk amal tertinggi adalah yang diberikan kepada mereka yang tidak dapat membalas dan mungkin bahkan tidak berterima kasih kepada kita sebagai balasannya.”

Belas kasih untuk kemanusiaan kita bersama, menuntun kita untuk mengenali penderitaan pada orang lain dan mengambil tindakan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan mereka. “Berbelas kasih berarti memberi ruang bagi kelembutan yang sering kali diminta oleh masyarakat untuk kita tekan.”

Tidak Mengucilkan siapa pun
Bapa Suci mengatakan ini juga tentang mengingat agar tidak seorang pun yang terpinggirkan, mengamati bahwa dunia saat ini “semakin menjadi lebih elitis dan kejam terhadap orang-orang yang dikucilkan.”

“Perang hanya memengaruhi beberapa wilayah di dunia, namun senjata perang diproduksi dan dijual di wilayah lain yang kemudian menolak menerima pengungsi yang dihasilkan oleh konflik ini.”

Harga selalu dibayar oleh orang miskin dan yang paling rentan, kata Paus.

Yang terakhir menjadi yang pertama, seluruh pribadi
Paus Fransiskus mengatakan ini adalah tentang menempatkan yang terakhir di tempat pertama, ia menyebut ini motto sejati orang Kristiani.

“Dalam logika Injil, yang terakhir menjadi yang pertama, dan kita harus menempatkan diri kita melayani mereka.”

Ini mengenai seluruh pribadi dan mengenai semua orang.

“Dalam setiap kegiatan politik, dalam setiap program, dalam setiap tindakan pastoral kita harus selalu menempatkan mereka di pusat, dalam banyak aspek yang dimiliki mereka, termasuk dimensi spiritual.”

Membangun kota Tuhan dan manusia
Akhirnya, Paus mengatakan ini juga tentang membangun kota Tuhan dan manusia, yang sama sekali berbeda dengan surga konsumeris dan teknologi.

Fenomena migrasi, mengingkari “mitos kemajuan yang menguntungkan sebagian kecil pihak sementara hal tersebut dibangun di atas eksploitasi terhadap banyak orang.”

Migran dan pengungsi adalah saudara dan saudari kita, dan merupakan “kesempatan yang diberikan Tuhan untuk membantu membangun masyarakat yang lebih adil, demokrasi yang lebih sempurna, negara yang lebih bersatu, dunia dengan persaudaraan, dunia yang lebih terbuka dan Komunitas Kristiani yang injili.”

27 Mei 2019
Oleh: Devin Watkins
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s