Menuju Pentakosta Baru

Paus di Rumania: Saya datang sebagai peziarah persaudaraan
Paus Fransiskus bertemu dengan Sinode Permanen Gereja Ortodoks Rumania, mengatakan kepada mereka bahwa dia datang “sebagai seorang peziarah yang berhasrat untuk melihat Wajah Tuhan di wajah saudara-saudaraku.”

Dalam pidatonya kepada Sinode Permanen Gereja Ortodoks Rumania, Paus berbicara tentang kebangkitan Tuhan, sebagai “jantung khotbah kerasulan yang diwariskan dan dilestarikan oleh Gereja-gereja kita.”

Penderitaan dan pengorbanan
Paus mencatat bahwa di Rumania, seperti halnya di banyak tempat lain saat ini, banyak yang mengalami Paskah kematian dan kebangkitan dalam bentuk penganiayaan. Paus Fransiskus mengingat mereka yang merupakan “martir dan pengaku iman”. Apa yang diderita orang-orang ini, “untuk pengorbanan hidup mereka, adalah warisan yang terlalu berharga untuk diabaikan atau dibiarkan memudar. Itu adalah warisan bersama, dan memanggil kita untuk tetap dekat dengan saudara-saudari kita yang membagikannya.”

Berbicara kepada mereka yang hadir, Paus mengingat kembali pidato Paus Yohanes Paulus II kepada Sinode Suci ini dua puluh tahun yang lalu. “Saya datang untuk merenungkan Wajah Kristus yang terukir di Gereja Anda; Saya datang untuk memuliakan Wajah yang menderita ini, janji untuk Anda akan pengharapan baru”. Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia juga datang ke Rumania “sebagai seorang peziarah yang berhasrat untuk melihat Wajah Tuhan di wajah saudara-saudaraku.”

Persatuan dan Ingatan
Paus Fransiskus juga mengingat kata-kata Patriark Teoctist di Bukares lebih dari dua puluh tahun yang lalu “Bersatu, Bersatu”. Paus menggambarkan pernyataan ini sebagai peresmian masa yang baru: “masa dari perjalanan bersama untuk menemukan dan menghidupkan kembali persaudaraan yang sampai sekarang menyatukan kita.” “Mengingat langkah-langkah yang diambil dan diselesaikan bersama, mendorong kita untuk berjalan maju ke masa depan dalam kesadaran – tentu saja – mengenai perbedaan kita, tetapi di atas semua itu dalam ucapan syukur atas suasana kekeluargaan yang akan ditemukan kembali dan ingatan persekutuan yang akan dihidupkan kembali, yang, seperti lampu, dapat menerangi langkah-langkah perjalanan kita.”

Perjalanan Bersama
Perjalanan bersama juga berarti mendengarkan Tuhan, khususnya dalam tahun-tahun belakangan ini, ketika dunia kita telah mengalami perubahan sosial dan budaya yang cepat. Paus melanjutkan dengan mengatakan bahwa, “perkembangan teknologi dan kemakmuran ekonomi mungkin telah memberi manfaat bagi banyak orang, namun lebih banyak lagi yang masih tersisihkan, sementara globalisasi yang cenderung mengarahkan perbedaan telah berkontribusi mencabut nilai-nilai tradisional dan melemahkan etika dan kehidupan sosial, lebih lagi beelakangan ini menyaksikan sebuah ketakutan tumbuh, yang sering kali menyala dengan cepat mengarah pada sikap penolakan dan kebencian.”

Sebuah Pentakosta Baru
Paus menyimpulkan bahwa, “perjalanan berakhir, seperti yang terjadi di Emaus, dengan doa yang tekun memohon agar Tuhan tetap bersama kita.” Paus mengatakan bahwa, jalan di depan kita mengarah dari Paskah ke Pentakosta: dari fajar Paskah dari persatuan yang muncul di sini dua puluh tahun yang lalu, kita telah berangkat menuju Pentakosta baru.”

Perjalanan kita sendiri telah dimulai lagi, Paus Fransiskus menekankan, “dengan kepastian bahwa kita adalah saudara dan saudari yang berjalan berdampingan, membagikan iman yang didasarkan pada kebangkitan Tuhan yang satu.”

31 Mei 2019
Oleh: Lydia O’Kane
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s