Kesucian yang Membawa Kemerdekaan

Renungan Harian Misioner
Kamis Biasa X, 13 Juni 2019
Peringatan St. Antonius dari Padua
2Kor. 3:15-4:1,3-6; Mzm. 85:9ab- 10,11-12,13-14; Mat. 5:20-26

Hari ini, 13 Juni, kita Gereja memperingati St. Antonius dari Padua, seorang imam dan pujangga Gereja. Ia meninggal dunia di Padua pada usia 36 tahun. Banyak umat beriman memohon pertolongannya. Banyak mukjizat Tuhan berikan melaluinya di mana-mana. Dengan perantaraan St. Antonius Padua ini, banyak barang yang hilang ditemukan kembali. Oleh karena itu kalau ada umat beriman kehilangan sesuatu, ia berdoa melalui perantaraan St. Antonius Padua dan yang hilang itu akan segera ditemukan. Perantaraannya amat berkuasa menemukan kembali yang hilang terutama untuk kembalinya rahmat kesucian yang hilang karena dosa.

Ya, kesucian inilah yang paling berharga bagi umat beriman. Setiap orang dipanggil kepada kesucian hidup. Kesucian tidak sekadar kebajikan hidup. Kutipan Injil Matius hari ini mengungkapkan bahwa kesucian menurut Injil lebih luas daripada kebajikan menurut pandangan kebanyakan orang. Dalam khotbah di bukit, Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Kesucian bukan sekadar ornamen, tampilan luar yang tampak indah, khusuk dan terkesan religius dengan balutan pakaian atau hiasan tertentu. Kesucian menembus batas badaniah, merasuk batin, dan keluar dari kedalaman jiwa.

Gampangnya seperti ini. Setiap awal perayaan ekaristi kita membangun sikap tobat dengan, “Saya mengaku… telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, perbuatan dan kelalaian…” Kesucian bukan pertama-tama soal tidak adanya dosa, tetapi perkara terus-menerus menyelaraskan diri dengan kehendak Allah. Nenek moyang berkata, “Jangan membunuh, yang membunuh harus dihukum.” Tetapi, Tuhan Yesus berkata bahwa setiap orang yang marah, meng-kafir-kan dan berkata ‘jahil’ (perkataan) pada saudaranya, harus dihukum. Ia juga meminta kalau saat mempersembahkan persembahan di altar dan teringat (pikiran) sesuatu dalam hati, tinggalkan persembahan itu untuk berdamai terlebih dahulu. Kalau pikiran dan perkataan yang tidak pantas saja tidak ditolerir Tuhan Yesus, apalagi perbuatan yang jahat. Membangun kesucian berarti perjuangan untuk menyelaraskan diri dengan kehendak Allah. Menjadikan kehendak Allah sebagai kehendakku sendiri. Mengganti kehendak egoku dengan kehendak Allah.

Rasul Paulus menyatakan pada bacaan pertama misa hari ini, “Bila hati orang berbalik kepada Tuhan, maka selubung (dosa-dosa) yang menutupinya diambil daripadanya. Sebab Tuhan itu Roh. Dan, di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan… kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Kesucian membawa kita kepada kemerdekaan. Kemerdekaan mendorong kita untuk mewartakan Injil, yaitu mewartakan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Dengan kita mewartakan Injil, Yesus Kristus yang kita wartakan itu membuat cahaya kemuliaan-Nya bersinar dalam hati kita. Marilah kita mengusahakan hidup suci dan terus mewartakan Injil agar kita boleh memantulkan kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.*** (NW)

(RD. Markus Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s