Beriman Berarti Setia pada Kebenaran

Renungan Harian Misioner
Senin, 17 Juni 2019
Peringatan S. Gregorius Barbarigo
2Kor. 6: 1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Mat. 5:38-42

Telah menjadi pemahaman umum bahwa beriman berarti memiliki relasi dengan Allah, yang menganugerahkan karunia iman. Tanpa karunia iman, maka kita tidak dapat beriman. Paulus menasihati teman-teman sekerja, yang artinya para pewarta, agar “karunia iman” tidak disia-siakan dan mesti efektif dalam kehidupan sang pewarta sendiri. Ada dua hal yang menurut Paulus merupakan bentuk mengoptimalkan karunia iman.

Pertama, tidak menyebabkan orang lain tersandung oleh sesuatu yang dilakukan pewarta. Paulus menyinggung tentang integritas sang pewarta. Seorang pewarta mesti memiliki integritas spiritual, moral dan pastoral. Integritas spiritual lahir dari kesadaran diri bahwa dia hanyalah “pelayan” Allah. Yang utama adalah Allah dan bukan dirinya. Pewarta hanyalah seorang pelayan. Tidak patut mencari kemuliaan atau interest pribadi. Intergritas moral lahir dari pengendalian diri, kemurnian hati dan pengetahuan, kesadaran dan kemurahan hati. Seorang pewarta adalah seorang yang memiliki sikap dan perilaku baik dan benar. Sikap dan perilaku yang benar lahir dari pengetahuan, kesadaran serta kemampuan menguasai diri. Sedangkan integritas pastoral lahir dari keteladanan hidup serta kesetiaan pada kebenaran yang diwartakan. Jika demikian, maka seorang pewarta haruslah seorang yang setia pada kebenaran yang diwartakannya.

Kedua, kesetiaan itu muncul dan berkembang dalam diri si pewarta, jika ia mewartakan apa yang dipercayainya; mengerti apa yang diwartakannya; dan hidup sesuai dengan apa yang dikatakannya. Sandaran utama dari seorang pewarta adalah relasi iman dengan Yesus Kristus, yang diwartakannya dan bahwa bagi dia Yesus itulah kebenaran. Dalam arti itu dapat dikatakan bahwa seorang pewarta haruslah seorang beriman; dan seorang beriman haruslah seorang yang setia pada kebenaran. Setia pada kebenaran sama dengan setia pada pribadi Yesus Kristus. Yesus itulah kasih karunia Allah yang menjadi pribadi. Kita beriman pada pribadi, yakni Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah kebenaran yang di atasnya kita teguh berdiri.

Kesetiaan pada pribadi Yesus Kristus, yang adalah kebenaran, akan berbuah pada sikap, pola laku dan keyakinan baru: menjalani hidup baru atas dasar hukum baru, yang berlandaskan kasih. Hidup dalam kasih adalah ciri dasar dari hidup dalam Kristus atau hidup dalam kebenaran. Dalam Kristus, kebencian, balas dendam dan ketidakpedulian pada sesama tidak lagi mendapat tempat untuk diteruskan dan dipertahankan. Dalam Kristus ada hidup baru, dendam diganti kasih, kebencian diganti pengampunan, ketidakpedulian diganti pengorbanan kasih.

Itulah kebenaran hidup yang dituntut oleh Yesus kepada siapapun yang mau mengikuti Dia. Percaya pada Yesus berarti setia pada nilai-nilai yang dituntut Yesus untuk diwujudkan: kasih, pengampunan dan pengorbanan. Itulah kebenaran-kebenaran hidup yang harus diperjuangkan dan diwujudkan. Dalam perwujudan nilai-nilai itu setiap orang beriman akan menjadi saksi kebenaran. Setia sebagai saksi mesti berakar pada kesetiaan iman, setia pada relasi dengan Allah, sang Sumber Kebenaran. Itulah sebabnya “beriman berarti setia pada kebenaran”.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s