Kodrat Kita: Mengasihi dan Bermurah Hati

Renungan Harian Misioner
Selasa, 18 Juni 2019
Peringatan S. Leontius, Hipatios dan Teodolus
2Kor. 8: 1-9; Mzm. 146:2,5-6,7,8-9a; Mat. 5:43-48

Kasih, mengasihi, berbelas kasih, dan kata-kata padanannya merupakan nilai yang sangat penting dalam hidup kita. Siapa yang mengasihi sesama, tentu juga akan menunjukkan rasa hormat kepada sesamanya itu. Sesama itu pantas dikasihi karena di dalam dirinya ada nilai yang sangat istimewa, yang membuat orang tidak bisa berbuat lain kecuali mengasihinya. Iman Kristiani menamai nilai yang dimaksudkan itu ‘citra Allah’.

Citra Allah ini merupakan kualitas yang melekat pada setiap orang, tidak peduli asal-usul etnisnya atau kebangsaannya atau agamanya ataupun status sosialnya. Entah pada priyayi entah pada rakyat jelata, nilai atau kualitas ini melekat secara kodrati (lih. Kej. 1:26-27). Atas dasar ini pula Tuhan Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengasihi setiap orang, termasuk orang-orang yang membenci mereka. “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian,” kata-Nya dalam Khotbah di Bukit (Mat. 5:44).

Menurut pengalaman, agaknya setiap orang mempunyai kecenderungan yang negatif, yaitu membuat pemisahan dengan yang lain. Alasannya sering kali dicari-cari. Yang jelas, dengan saling memisahkan, orang juga saling menyingkirkan dan saling meniadakan. Begitulah pola pikir dan perilaku yang menjiwai masyarakat manusia: putih-hitam, kami-kamu, kita-mereka, kawan-lawan, beriman-kafir, dan sebagainya.

Kalau mau jujur, inilah pengalaman kita sehari-hari. Bahkan, hampir pada setiap kesempatan ada gejala atau peristiwa semacam ini! Coba amati alat-alat komunikasi yang kita pakai, misalnya. Ada berapa ujaran permusuhan yang kita jumpai hari ini? Ada berapa banyak kemarin? Atau, berapa banyak minggu yang lalu? Mungkin banyak sekali!

Pengalaman Tuhan Yesus dengan orang-orang se-zaman-Nya juga demikian. Masyarakat terbiasa dengan mentalitas biner. Siapa saja yang dianggap musuh harus disingkirkan. Siapa saja yang memusuhi ‘kita’ dan/atau ‘orang kita’, tidak pantas mendapatkan rasa hormat atau kasih apapun juga!

Sikap ini tentu saja mengkhianati kodrat manusia sebagai ‘gambar dan rupa Allah’, ‘citra Allah’. Tanggung jawab sebagai ‘citra Allah’, sebagaimana Kitab Suci menulis, adalah memelihara sesama makhluk, termasuk “ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan ternak dan seluruh bumi dan segala binatang melata yang merayap di bumi” (bdk. Kej. 1:44). Artinya, mengasihi sesama manusia dan memelihara segala ciptaan sejatinya merupakan sifat kodrati setiap orang. Setiap orang bisa melakukannya – dan, bahkan, harus melakukannya – karena ini sangat manusiawi!

Dalam bacaan pertama (2Kor. 8:1-9), Rasul Paulus mengingatkan umat di Korintus akan nilai-nilai luhur yang menjiwai umat Kristiani di Makedonia. Mereka diajak untuk bercermin pada kualitas hidup rohani saudara-saudari mereka yang ada di Makedonia, yang meskipun miskin (secara ekonomis), namun amat kaya dalam kemurahan hati. Mereka rela-sedia tanpa pamrih ambil bagian dalam pelayanan yang dilakukan oleh Paulus. Bagi mereka, ambil bagian dalam pelayanan itu bukan pertama-tama suatu pengorbanan dan persembahan mereka, melainkan suatu ‘kasih karunia’ yang mesti disyukuri (ay 4).

Singkatnya, nilai-nilai luhur yang diwartakan dalam bacaan-bacaan hari ini adalah nilai-nilai kodrati manusia. Maksudnya, mengasihi sesama sejatinya suatu cara hidup yang sangat kodrati, sangat manusiawi. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mengasihi sesama manusia dan sesama ciptaan sesungguhnya melawan kodrat mereka sendiri. Karena itu, kedatangan Kristus Tuhan adalah untuk memulihkan kembali hakikat manusia, sebagai citra Allah, yakni bertanggungjawab bagi kelestarian hidup seluruh ciptaan Allah. Kuncinya adalah kasih, mengasihi, berbelaskasih kepada sesama!

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Wakil Ketua Komisi Karya Misioner KWI)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s