The Golden Rule Pemangkas Kekhawatiran

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 22 Juni 2019
Peringatan S. Paulinus dr Nola, S. Yohanes Fischer, S. Thomas Moore
2Kor. 12: 1-10; Mzm. 34:8-9,10-11,12-13; Mat. 6:24-34

Sahabat-Sahabat Tuhan Ytk.
Salam jumpa lagi di akhir pekan ini melalui pertemuan berhikmah dalam tuntunan Sabda Allah. Kali ini kita akan mendalami salah satu Golden Rule Yesus melalui Injil hari ini. Izinkan saya memulai refleksi ini dengan satu ‘kisah selfie’ yang bisa membantu kita memahami inti pesan refleksi ini.

Agustus 2018 lalu kami diundang mengikuti Forum Spiritual Asia di Manila-Filipina yang diselenggarakan oleh ISA (Institute of Spirituality in Asia). Berkenaan dengan tema Forum tentang peran nilai-nilai hidup bagi Kaum Youth Milenial maka panitia forum meminta saya berbicara tentang Relevansi Nilai-Nilai Luhur Pancasila dalam kehidupan kaum muda di Indonesia. Dan mereka meminta agar saya melibatkan salah satu wakil orang muda Indonesia untuk memberikan sharing pengalamannya. Maka saya mengajak Ms. Maria Tjiumena karena selama ini berkecimpung dalam dunia pelayanan spiritual kaum muda Katolik baik di dalam maupun luar negeri.

Menjelang sesi kami, Ms. Maria menyampaikan kepada bahwa dia agak ‘nervous’. Inilah yang membuat dia agak enggan menerima tawaran saya ketika meminta dia sharing di Forum ini. Apalagi dia menyaksikan banyaknya peserta yang hadir dan aneka pertanyaan ditujukan kepada keynotes speakers. Sebab itu Ms. Maria cemas kalau dia nanti ‘kehabisan’ kata dan ide dalam presentasinya dan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan peserta forum.

Saya berusaha menenangkan dia dan mengulangi saran-saran saya sebelumnya kepada dia agar memfokuskan perhatiannya pada sharing-nya dan tidak usah cemas karena bahan sharing-nya sudah saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan akan ditampilkan di layar saat dia sharing. Saya meyakinkan dia lagi bahwa bahwa ini forum Spiritual maka Roh Allah akan berkarya menolongnya. Mendengar ‘reminders’ itu Ms. Maria menjadi tenang.

Menariknya, Ms. Maria yang sebelum tampil kelihatan nervous, ternyata tampil begitu bagus dan memukau para peserta. Dia mampu menghantar para peserta untuk mendalami dengan antusias pesan-pesan bernas yang sampaikannya melalui kisahnya dan lagu-lagu yang dinyanyikannya. Maria kemudian dinobatkan sebagai The Best Story Teller dari sekian story tellers yang diundang ke Forum Asia 3 hari tersebut.

Pada Ekaristi Kudus yang kami rayakan pada akhir itu, Ms. Maria men-sharing-kan kepada kami pengalaman peneguhan Tuhan yang dialami pada presentasinya di Forum itu. Dia menutup sharing-nya dengan mengatakan: “Dengan pengalaman hari ini saya makin diteguhkan bahwa kuasa pertolongan Tuhan jauh melampaui kekuatan rasa takut dan khawatir (nervous)”.

Sahabat-Sahabat Tuhan yang terkasih, kita pun seperti Ms. Maria yang kadang bahkan sering mengalami situasi takut dan khawatir berkenaan dengan situasi hidup yang kita alami. Meneropong situasi takut atau khawatir dari sudut pandang Sabda Tuhan hari ini dan juga dari kisah Ms. Maria di atas, kita disadarkan bahwa takut atau khawatir yang kita alami memiliki peran positif konstruktif bila kita mampu memaknainya secara tepat dan benar. Kekhawatiran sebenarnya menyadarkan kita akan keterbatasan kemampuan kita sebagai manusia. Itu memacu kita untuk mencari penjamin yang memampukan kita mengatasi ketidakmampuan yang sedang kita alami.

Mencermati realitas hidup sekarang ini, kita menemukan bahwa ada banyak pihak dan cara yang ditawarkan manusia, termasuk ilmu pengetahuan dan kecanggihan tehnologi sebagai solusi mengatasi rasa takut dan khawatir kita. Namun dari sekian banyak alternatif itu, jalan iman masih tetap terbukti sebagai jalan terbaik dan terampuh yang mampu memberikan kenyamanan sejati terhadap situasi takut dan kekhawatiran kita. Mengapa demikian? Karena di balik iman ada Tuhan sebagai sumber hidup dan penjamin sejati hidup manusia.

Proses pertumbuhan iman kita dari waktu ke waktu, dari satu peristiwa ke peristiwa tentu saja mengakui hal ini di mana kita diyakinkan bahwa Tuhan lah yang menjadi penjamin hidup sejati kita. Di sini kita setuju dengan Golden Rule Yesus dalam injil hari ini: …carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat. 6:33). Kebenaran dalam konteks Kerajaan Allah terarah pada hal-hal sejati: Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rom. 14:17).

Karena itu Golden Rule dalam Injil hari ini digandengkan dengan pengakuan iman Paulus yang dimuat dalam bacaan I hari ini. Tujuannya untuk mengingatkan bahwa pertumbuhan iman akan Tuhan akan terjadi seiring kesediaan kita berproses dan diproses oleh Tuhan dalam ziarah batin bersama Dia. Keterbukaan hati, keikhlasan hati dan kerendahan hati untuk berproses dan diproses oleh Tuhan menjadi jalan-jalan bijak menuju kematangan dan keteguhan iman kepada Tuhan. Kita akan seperti Paulus dalam bacaan I di mana kita mampu terhubung dengan dua dunia: dunia nyata (horizontal) dan dunia seberang (vertikal) karena iman senantiasa terkait dua dunia ini. Dan pertumbuhan iman yang benar mestinya seperti Paulus yakni mengakui keberadaan dua dunia ini dan dipelihara secara apik dalam kehidupan harian kita seturut jalan Tuhan. Menyadari dan mengakui peran dan keampuhan pertolongan Tuhan dalam keseharian hidup kita semakin mendorong kita mengandalkan dia dalam segala situasi yang kita alami termasuk situasi kekhawatiran kita.

Mari kita menerapkan Golden Rule Yesus dalam hidup kita agar tidak khawatir dengan hal-hal duniawi karena Tuhanlah penjamin sejati hidup kita. Kitapun bertekad semakin mendalami mengarahkan perhatian kita pada hal-hal luhur dalam yang merupakan ekspresi kebenaran Kerajaan Allah.

Tuhan memberkati perjuangan mulia kita semua.

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Teladan Hidup Para Imam: Semoga para imam, karena kesaksian hidup mereka yang sederhana dan rendah hati, dapat melibatkan diri secara aktif dalam aksi solidaritas terhadap mereka yang paling menderita dan miskin. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kegalauan orang Muda: Semoga Gereja semakin bersedia menyediakan sarana dan kegiatan, tempat kaum muda dapat menyibukkan diri dalam kerja dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengelola kegalauan yang mengancam mereka. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendampingi gairah orang muda secara penuh hikmat sehingga mampu memilah dan memilih studi, pekerjaan, maupun kegiatan yang bermakna bagi diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Kami mohon…

Amin

One thought on “The Golden Rule Pemangkas Kekhawatiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s