Menghitung Hari Beroleh Kebijaksanaan

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XVIII, 4 Agustus 2019
Pkh. 1:2; 2:21-23; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol. 3:1-5.9-11; Luk. 12:13-21

Membaca Kitab Pengkhotbah, kita dapat menemukan banyak kata “kesia-siaan”. Bahkan dikatakan, “Segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2). Apakah benar bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia adalah kesia-siaan? Jika ya, lalu untuk apa manusia tetap berusaha dan berjerih payah di dalam hidup?

Penulis sebenarnya ingin membuka mata manusia agar menyadari “kesia-siaan” yang dimaksudkannya, yaitu bahwa hidup manusia yang hanya sementara sering kali dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang “sia-sia”. Hal-hal duniawi, yang dikejar dengan berlelah-lelah di bawah matahari, yang membawa kesusahan serta kesedihan yang tidak sedikit, yang bahkan terkadang membuat tidur malam tak bisa lelap, dan yang pada akhirnya hasil segala jerih payah itu harus ditinggalkan kepada orang lain.

Sebenarnya ada pesan yang sangat jelas dalam Kitab Pengkhotbah. Pesan yang sama bisa kita temukan dalam Mazmur hari ini, “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: Kembalilah, hai anak-anak manusia!” (Mzm. 90:3). Manusia berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Tak peduli seberapa besar hasil yang telah didapatkan, seberapa tinggi kesuksesan yang telah dicapai, juga seberapa banyak kesenangan yang dirasakan. Hikmat, pengetahuan, dan kecakapan, apalagi kekayaan, nama besar, serta kenikmatan, semua akan terlepas, tertinggal dan lenyap, ketika manusia dipanggil oleh Tuhan, sang Pemilik hidup.

Bila hidup dihabiskan hanya mengejar segala keduniawian, maka hidup adalah kesia-siaan belaka. Dalam surat kepada jemaat di Kolose, rasul Paulus pun mengingatkan untuk mencari perkara yang di atas, di mana Kristus berada. “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol. 3:2). Kesibukan dan segala kesenangan dapat menenggelamkan diri kita ke dalam pusaran yang tiada henti. Kita tak lagi ingat untuk berhenti, mengambil jeda, menenangkan pikiran untuk masuk dalam keheningan batin, bertemu dengan Tuhan. Hidup kita dipenuhi dengan agenda, dikejar deadline, dituntut target dan hasil, dikuasai oleh kesenangan dan nafsu. Tanpa sadar, dunia mengambil alih hidup kita, bahkan diri kita. Kita tak lagi mengenali siapa diri kita sebenarnya. Apa kodrat dan tujuan hidup kita.

“Kristuslah hidup kita” (Kol. 3:4). Bagi orang Kristiani, para pengikut Kristus, apa yang lebih penting dan utama selain Dia? Namun, bukanlah suatu rahasia lagi, bahwa sering kali harta dunia dan kesenangan yang ditawarkannya menjadi hal yang terpenting dan utama bagi manusia. Manusia berlomba-lomba mengejar waktu untuk mendapatkan yang lebih banyak, lebih besar dan lebih hebat lagi. Ada yang memang berjerih payah untuk berjuang hidup dan mencukupi kebutuhan keluarga, namun tidak sedikit yang berjerih payah untuk bisa mempertahankan kenyamanan serta kenikmatan hidup.

Dalam Injil Lukas hari ini, Yesus mengingatkan untuk selalu waspada dan berjaga-jaga, karena hidup tidaklah tergantung dari kekayaan. Hendaklah kita mendengarkan dengan hati, agar tidak menjadi penimbun harta bagi diri sendiri, melainkan mau menghitung hari-hari yang kita punyai sehingga kita boleh beroleh kebijaksanaan untuk menjalani kehidupan kita sesuai dengan kehendak Allah.

Semoga nanti di kemudian hari saat bertemu kita, Tuhan tidak lagi bertanya, “Bagi siapakah harta yang telah kau sediakan itu?”

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon… 

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s