Jangan Mengeluh, Bersyukurlah pada Tuhan

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XVIII, 5 Agustus 2019
Pemberkatan Gereja Basilika St. Perawan Maria di Roma
Bil. 11:4b-15; Mzm. 81:12-13,14-15,16-17; Mat. 14:13-21

Keluh kesah adalah bagian dari hidup manusia. Ketika ada hal-hal yang di luar harapan, yang mengecewakan ataupun tidak sesuai dengan yang kukehendaki, keluh kesah itu kemudian mengalir keluar dari mulut. Lalu aku menjadi lupa untuk bersyukur dan memuji Tuhan, karena mulutku penuh dengan keluh kesah.

Perjalanan bangsa Israel diwarnai dengan banyak keluh kesah. Perjalanan kita pun sama. Apakah itu berarti bahwa keluh kesah merupakan sesuatu yang normal dan selalu merupakan bagian dari sejarah bangsa manusia? Ataukah ini adalah bad habit yang melekat pada diri manusia yang seharusnya memiliki kodrat secitra dengan Allah? Bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai anak-anak Allah yang baik ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan, pemikiran dan kehendak kita? Kita dapat mulai dengan menyadari bahwa, bukan aku yang menjadi tuan bagi hidupku sendiri.

Dalam iman, kita semua percaya bahwa kita manusia ada di dunia ini karena “diciptakan”. Ada Seorang yang memiliki kekuasaan, yang telah menciptakan kita serta meniupkan nafas kehidupan pada setiap dari kita. Jika, ternyata dalam kehidupan itu kita dirahmati dengan freewill untuk memilih, menentukan dan merencanakan banyak hal, itu tidak kemudian berarti bahwa kita memiliki kuasa tanpa batas. Tidak berarti bahwa kekuasaan sepenuhnya telah beralih pada diri kita dan membuat kita dapat mengklaim, ini hidupku! Merupakan sebuah keangkuhan ketika kita merasa kita berhak mengatur segala-galanya sesuai dengan kehendak kita. Kita sering mendengar kalimat, “manusia boleh berencana dan berusaha tetapi Tuhan yang menentukan”. Ya, tepat sekali, kita hanya sebatas boleh berencana dan berusaha. Selebihnya? Biarkan Sang Pencipta menentukan.

Ketika pun kita diberkati, rencana kita selaras dengan rencana Sang Kuasa dan kemudian tercapai segala upaya berbuah kesuksesan, baiknya kita kembali sadar bahwa dalam segala sesuatu “Tuhan yang menentukan”. Artinya dalam setiap keberhasilan dan kesuksesan, bukanlah diri sendiri yang menjadi pemeran tunggal, tetapi selalu dan pasti ada Seorang yang terus menemani perjalanan dan merestui apa yang kita kerjakan.

Keangkuhan sering membuat kita jatuh men-Tuhankan diri kita sendiri. Saat kekecewaan hidup datang, sebenarnya itu adalah saat di mana Tuhan datang menyapa kita, menyadarkan akan kerapuhan dan keterbatasan kita. Kita manusia membutuhkan-Nya. Kita harus datang pada-Nya, merendahkan diri mohon kekuatan dari-Nya, seperti seruan Musa ketika ia berbeban berat. “Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku” (Bil. 11:14). Lalu saat kejayaan hidup datang, saat kita dibawa dan ditempatkan di atas puncak tertinggi, baiklah jika kita juga mau mengingat untuk membungkuk dan kembali merendahkan diri di hadapan-Nya, sebagai pengakuan bahwa kemuliaan hanya milik-Nya semata. Bukan sebaliknya membusungkan dada dan berteriak lantang mengenai eksistensi AKU.

Maka marilah setiap hari, pada setiap momen di pagi hari saat mata kita dapat terbuka kembali menyambut kehidupan, maupun di malam hari ketika mata kita harus menutup tak kuasa menahan lelah, kita selalu menyempatkan untuk bersyukur dan tak lupa mengatakan kepada diri kita sendiri sekali lagi, bukan aku yang menjadi tuan bagi hidupku sendiri.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s