Panggilan Menuju Kemuliaan Surgawi

Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XVIII, 6 Agustus 2019
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Dan. 7:9- 10,13-14, Mzm. 97:1-2,5-6,9; 2Ptr. 1:16-19; Luk. 9:28-36

Salah satu alasan yang membuat kita tertarik untuk pergi ke berbagai tempat wisata adalah gambar atau foto yang disebarluaskan di media sosial ataupun kisah pengalaman dari orang-orang yang telah mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut. Dengan melihat foto, apalagi jika diperkuat dengan kisah orang-orang yang pernah menikmati secara langsung keindahan tempat-tempat wisata itu, perasaan senang, ketertarikan dan dorongan untuk mengunjungi tempat wisata itu akan muncul dalam diri kita. Singkatnya, foto-foto atau gambar yang menyajikan keindahan suatu tempat wisata dan kisah pengalaman indah mengenainya akan menggoda dan menarik hati banyak orang untuk dapat mengalami dan menikmati keindahannya juga secara langsung.

Hari ini, kita merayakan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan ketika sedang berdoa wajah Yesus berubah dan pakaian-Nya terlihat putih berkilau-kilauan (Luk. 9:29). Dalam doa, Yesus tidak hanya berkomunikasi dengan Bapa, tetapi Ia beralih masuk ke dalam dunia Ilahi. Ia tampil dengan kemuliaan surgawi. Apa yang ingin ditunjukkan oleh Yesus? Tentu, bukan keindahan alam atau kemuliaan di bumi. Yang diperlihatkan Yesus adalah suatu keadaan yang akan dimiliki-Nya setelah kebangkitan dan pengangkatan-Nya ke surga, yakni keadaan mulia. Tatkala menyaksikan keadaan mulia Yesus, para muridpun ikut dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa. “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Luk. 9:33). Mereka seakan-akan tidak ingin meninggalkan tempat dan suasana kemuliaan yang amat membahagiakan itu. Keinginan para murid sama sekali bertolak belakang dengan apa yang dinubuatkan tentang perjalanan yang harus ditempuh Yesus. Allah sendiri menyatakan kepada murid-murid Yesus, siapa sesungguhnya Yesus. Ia memang Anak Allah, tetapi juga sekaligus Orang pilihan-Nya – Utusan-Nya (Yes. 42:1), yang juga berarti Hamba Tuhan yang ditentukan untuk dimuliakan, namun setelah terlebih dahulu menanggung banyak penderitaan dan menyerahkan nyawa bagi keselamatan banyak orang (Yes. 52:13-53:12). Sikap yang dituntut dari para murid adalah mendengarkan Yesus: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” (Luk. 9:35).

Apa makna peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya bagi kita? Jika keindahan suatu tempat wisata yang ditampilkan dalam bentuk foto atau lukisan dan ditangkap oleh indera mata saja, dapat begitu sukses menarik hati banyak orang, apalagi keindahan dan kemuliaan surgawi. Keindahaan dan kemuliaan surgawi tidak dapat ditangkap oleh indera penglihatan, melainkan oleh “mata” batin. Keindahan dan kemuliaan surgawi menarik jiwa kita untuk menyaksikan dan merasakan kebahagiaan yang disediakan oleh Allah. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor. 2:9). Yesus tidak hanya memperlihatkan keindahan dan kemuliaan surgawi, tetapi sekaligus mengalami keindahan dan kemuliaan surgawi itu. Santo Petrus, salah seorang murid yang diberkati dapat menyaksikan kemuliaan Yesus, memberikan kesaksian bahwa: “Yesus menerima dan kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika suara dari Yang Mahamulia datang kepada-Nya dan mengatakan, ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan’. Suara itu kami dengar datang dari surga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus” (2Ptr. 1:17-18).

Kebahagiaan besar yang dialami para murid di atas gunung itu menjadi kisah bagi kita mengenai kebahagiaan surgawi yang akan dianugerahkan Allah kepada semua orang beriman. Keyakinan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus, yang mendengarkan dan mengasihi-Nya akan menikmati keindahan, kemuliaan dan kebahagiaan surgawi menjadi kekuatan utama bagi setiap orang Kristiani dalam menghadapi kesuliatan, penolakan, penderitaan, dan kematian. Yesus menampakkan kemuliaan-Nya kepada para murid-Nya, orang-orang pilihan-Nya. Kita pun mesti sadar bahwa kita masing-masing dipilih oleh Allah menjadi murid Yesus, Putera-Nya. Rasul Paulus meyakinkan kita bahwa, “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya […] Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga yang dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga yang dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rm. 8:29-30). Kebenaran dan keyakinan iman inilah yang harus disebarluaskan dan diwartakan oleh setiap orang Kristiani. Keindahan alam yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan kita dan kegembiraan yang mengikutinya hanya bersifat sementara. Sebaliknya, keindahan dan kemuliaan surgawi sebagaimana yang ditampakkan Yesus, yang dapat ditangkap “mata” batin kita bersifat kekal dan kebahagiaan jiwa yang mengikutinya pun bersifat abadi.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

 Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s