Menjadi Sahabat yang Dikasihi Allah

Renungan Harian Misioner
Kamis Pekan Biasa XVIII, 8 Agustus 2019
Peringatan S. Dominikus
Bil. 20:1-13; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Mat. 16:13-23

Shalom sahabat-sahabat Allah,
Saya menyebut Anda semua sebagai sahabat-sahabat Allah tentunya karena kuat keyakinan saya bahwa Anda semua kekasih-kekasih Allah. Kekasih Allah berarti orang yang dikasihi Allah. Orang yang pasti disayangi Allah. Tapi tunggu dulu, bukankah Musa dan Harun adalah kekasih-kekasih Allah? Bukankah mereka yang diminta Allah untuk memimpin orang Israel ke luar dari tanah Mesir? Lalu mengapa Allah mengutuki bahwa mereka tidak akan membawa orang-orang Israel masuk ke tanah yang dijanjikan? Karena mereka tidak percaya dan tidak menghormati kekudusan Allah (Bil. 20:12).

Kita sering menyebut Tuhan adalah sahabat tetapi sering tidak percaya kepada sahabat kita. Kita masih menaruh perasaan berhati-hati kepada sahabat kita. Kita takut sahabat kita tidak setia kepada kita. Kita takut sahabat kita menyakiti kita. Dan masih banyak alasan untuk tidak percaya kepada sahabat kita. Mungkin untuk sahabat manusia kita boleh bersikap demikian, tetapi untuk Allah, apakah pantas bersikap demikian? Di satu sisi kita mengakui kemahakuasaan Allah tetapi di sisi lain kita meragukan Allah. Kontradiksi ini sama saja dengan meremehkan Allah dan ini bisa berarti tidak menghormati atau melecehkan kekudusan Allah.

Pemazmur menuliskan dengan indah sekali, “menghadaplah kepada Tuhan dengan nyanyian syukur, bersujudlah atau berlututlah menyembah, dan jangan keraskan hati” (Mzm. 95:2,6,8). Di saat-saat paling intim dengan Tuhan yaitu saat berdoa, maka alangkah nikmatnya kalau kita bernyanyi dengan rasa syukur sambil berlutut menyembah-Nya. Hati yang beku kembali mencair. Aliran sukacita Tuhan masuk ke dalam pusat jiwa yang paling dalam. Mau tidak mau kita akan menaruh harapan sepenuhnya kepada Tuhan karena sukacita-Nya sudah kita rasakan saat ini. Mau tidak mau kita menghormati kekudusan Tuhan.

Walau lidah kelu mengucap tapi hati kita mengakui Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dia hidup dan kita dapat merasakan pendampingan-Nya, kita dapat berkomunikasi dengan-Nya, dan berelasi dengan-Nya, sehingga membuat hidup kita terasa lebih hidup karena dapat mereguk dari air sumber kehidupan. Anugerah yang tak terhingga adalah kunci surga (Mat. 16:19) untuk membuka pintu surga agar segala sukacita surgawi meluap keluar dan masuk ke dalam kehidupan kita di dunia ini.

Sahabat-sahabat Allah yang dikasihi Allah,
Kita semua adalah sahabat-sahabat Allah yang benar-benar dikasihi Allah. Kalau kita diutus untuk suatu misi demi Kerajaan Allah niscaya misi itu dapat terwujud dalam perutusan kita. Yakinlah itu sudah terjadi karena kita percaya seratus persen kepada Allah dan menghormati kekudusan Allah. Ingatlah kunci surga sudah di tangan kita. Kita siap membuka pintu surga untuk mengalirkan sukacita surgawi ke dalam hati kita dan sesama kita. Tuhan memberkati.

(Albertus Karel Wunardi – Fasilitator Spritualitas Kitab Suci Emmaus Journey)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s