Kesetiaan Suami-Isteri Gambaran Kesetiaan Allah

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan Biasa XIX, 16 Agustus 2019
Peringatan S. Stefanus dr Hungaria
Yos. 24:1-13; Mzm. 136:1-3,16-18,21-22,24; Mat. 19:3-12

Teks Injil hari ini, seringkali dibacakan juga pada perayaan sakramen perkawinan, karena secara lugas berbicara tentang kesatuan suami-isteri sebagai kesatuan tak terceraikan (indissolubilis). Perkawinan Katolik dikenal terutama karena dua sifat pokoknya, yakni monogami (satu suami dan satu isteri) serta tidak terceraikan (indissolubilis).

Tentu saja memperjuangkan keutuhan perkawinan berarti mempertahankan dua sifat dasar perkawinan tersebut agar awet sampai akhir hayat. Pada masa kini perjuangan mempertahankan keutuhan perkawinan merupakan tantangan terberat bagi pasangan Katolik. Gereja Katolik merupakan satu-satunya institusi religius-keagamaan yang dengan gigih mempertahankan sifat pokok perkawinan: monogami dan tak-terceraikan. Gereja pun menyadari bahwa sasaran serangan terhadap Gereja Katolik antara lain menyangkut perkawinan. Di banyak Negara perkawinan kehilangan dimensi religiusnya, menjadi semata-mata urusan individual dan politik. Undang-undang diubah untuk menerima keinginan pihak-pihak tertentu yang menghendaki perkawinan sejenis, menghalalkan perceraian dan menolak intervensi agama dalam perkawinan. Semakin banyak orang dan pasangan Katolik terpengaruh oleh gagasan dan cara berpikir sekularis ini. Mereka sudah mulai tidak terbiasa dengan cara pandang dan keyakinan Gereja akan kesucian perkawinan sebagai sakramen: tanda dan sarana yang menyelamatkan.

Sesungguhnya gugatan akan ketakterceraian perkawinan juga dihadapi Musa. Musa dengan otoritasnya sebagai “penegak hukum” atas nama Allah, lantas mengizinkan perceraian. Sehingga dalam masyarakat Israel terjadi praktik perceraian, terutama atas alasan kelemahan manusiawi. Yesus membahasakan kelemahan manusiawi itu dengan “kekerasan hati”. “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat. 19:8). Dalam bahasa kita sekarang, Musa mengizinkan perceraian karena alasan “pastoral”, menghadapi kasus-kasus konkret dan terbatas pada pasangan-pasangan tertentu. Bukan membatalkan apa yang sudah ditetapkan Allah sejak semula, sebagaimana dikatakan Yesus, “tetapi sejak semua tidaklah demikian”.

Jadi sejak semula, Allah menghendaki keutuhan perkawinan, dalam arti tidak terceraikan. Ketakterceraikan itu bukanlah pertama-tama suatu hukum (legal-formal), tetapi suatu seruan dan perintah moral, yang bersumber pada iman, serta merupakan implikasi dari iman akan Allah yang setia. Kesetiaan Allah itu digambarkan dalam bacaan pertama. Bukan sejak Abraham, tetapi sejak ayah Abraham dan Nahor, yaitu Terah, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya sampai pada Yosua, yang meneruskan kepemimpinan Musa membawa umat Israel masuk Tanah Terjanji. Kesetiaan itu selalu membawa berkah bagi Israel sehingga kendati banyak halangan dan rintangan mereka akhirnya masuk Tanah Terjanji. Umat Israel diajak untuk menanggapi kesetiaan Allah itu, melalui kesetiaan melaksanakan kehendak serta perintah-perintah-Nya.

Hidup berkeluarga merupakan suatu cara hidup yang dapat dengan nyata mewujudkan kesetiaan itu, pada kesetiaan timbal-balik suami isteri, demi mempertahankan cinta dan pemberian diri satu sama lain. Karena dihidupi serta dihayati sebagai perwujudan kesetiaan Allah pada Israel, dan kemudian kesetiaan Kristus kepada Gereja, maka perkawinan memiliki sifat pokok yakni tak terceraikan. Kesetiaan timbal-balik suami isteri adalah tanda nyata kesetiaan Allah pada Israel dan Kristus pada Gereja. Inilah dasar kesucian perkawinan. Perkawinan tidak saja memperlihatkan kesetiaan antar-manusia, suami-isteri, tetapi juga menjadi tanda nyata kesetiaan Allah pada Israel dan Kristus pada Gereja. Inilah dasar mengapa perkawinan (Katolik) tidak terceraikan. Kesetiaan suami-isteri adalah gambaran kesetiaan Allah sendiri.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s