Berbagi Hidup dalam Belaskasih

Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XXI, 27 Agustus 2019
Peringatan S. Monika
1Tes. 2:1-8; Mzm. 139:1-3,4-6; Mat. 23:23-26; Injil Khusus Luk. 7:11-17

Paulus kepada umat di Tesalonika men-sharing-kan refleksinya atas pekerjaan yang dilakukannya, yakni mewartakan Injil Tuhan. Apa yang paling menyentuh dari refleksi Paulus adalah keyakinannya bahwa tugas mewartakan Injil mensyaratkan pembebasan diri dari segala macam kepentingan dan agenda pribadi. Tugas mewartakan Injil bukan sekedar berkeliling dan berbicara (mewartakan), tetapi lebih dari itu mengorbankan diri dengan rela menanggung segala risiko bahkan derita. Dalam Bahasa Paulus, mewartakan Injil adalah berbagi hidup atau memberikan hidup itu sendiri. ”Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (ay.8).

Kata-kata Paulus ini amat dalam maknanya, sebagaimana sudah disampaikannya dalam ayat-ayat sebelumnya. Dalam mewartakan Injil Paulus sadar bahwa tugas itu semata-mata demi Allah. Karena itu Paulus tidak mencari pujian manusia, tidak demi menyenangkan hati manusia, tidak demi kepentingannya sendiri, juga tidak memiliki agenda atau maksud tersembunyi demi dirinya. Mengapa? Karena mewartakan Injil menuntut totalitas pengabdian, kemurnian motivasi dan keberanian menerima risiko. Mewartakan Injil berarti meneruskan pekerjaan Yesus Kristus, yang berakhir pada pemberian diri atau membagi hidup-Nya sendiri.

Dalam Injil kita menemukan bagaimana Yesus sendiri mewartakan kabar gembira (Injil). Ia berkeliling dan sampai ke kota Nain. Yesus menjumpai fakta keterbatasan mutlak manusia, yakni kematian. Kematian, kapan dan di manapun selalu menghadirkan dukacita bagi yang ditinggalkan. Demikian juga di Nain. Dukacita itu ditanggung sendiri oleh sang ibu, yang adalah seorang janda dan kini anak satu-satunya pun pergi meninggalkan dia.

Yesus yang tahu isi hati manusia, menanggapi derita sang ibu dan dengan demikian sekaligus menyampaikan kabar sukacita kepada sang ibu yang sedang berdukacita. Yesus melarang menangis, “Jangan menangis”. Tangisan sebagai simbol dukacita mendalam, tidak lagi relevan di hadapan Yesus, yang adalah hidup itu sendiri dan kini berbagi hidup dengan sang pemuda yang sudah meninggal. Kehidupan si pemuda dipulihkan. Ia hidup lagi berkat campur tangan Sang Hidup. Dukacita menjadi sukacita.

Pengalaman itu dipahami oleh mereka yang hadir sebagai “tindakan Allah” – bukan suatu sulap atau sekedar unjuk kehebatan. “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya” (ay.16). Tindakan Yesus lahir dari “belaskasihan”. Yesus tergerak oleh belaskasihan (ay.13). Kabar sukacita membebaskan manusia dari derita dan kematian. Yesus memulihkan hidup si pemuda, karena belaskasihan.

Dari sharing Paulus kita menemukan bahwa mewartakan Injil berarti juga berbagi hidup. Paulus setia pada jalan pewartaan Yesus sendiri, yang juga berbagi hidup dengan menghidupkan si pemuda yang sudah mati. Semuanya terdorong oleh belaskasih. Belaskasih adalah dorongan utama yang menggerakkan Yesus bertindak. Paulus pun berbagi hidup dengan umat Tesalonika “karena kamu telah kami kasihi” (ay.18). Berbagi hidup dalam belaskasih merupakan inti pokok pewartaan Injil.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s