Balada si Bungsu dan si Sulung

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XXIV, 15 September 2019
Kel. 32:7-11,13-14; Mzm. 51:3-4,12-13,17,19; 1Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-32 (Luk. 15:1-10)

Lukas bercerita tentang dua anak. Keduanya sama-sama pergi: si Bungsu ke negeri seberang, si Sulung ke ladang. Hanya Bapa yang tetap di rumah: ia setia menunggu anak-anaknya pulang! Ia akan keluar menjemput setiap anaknya. Ia membiarkan keduanya berbicara, tetapi evaluasi dan kata-akhir selalu bergantung pada penilaiannya!

SI BUNGSU meminta bagian warisannya dan memutuskan untuk pergi dari rumah. Bapa dan abangnya diam saja. Kita juga tidak perlu menghakiminya terlalu awal. Meninggalkan rumah dan tanah berarti keluar dari keamanan dan perlindungan keluarga, kerabat dan sukunya. Itulah yang akhirnya terjadi: ia menderita, terhina dan kelaparan di tanah orang. Pengalaman pahitnya memaksa dia untuk introspeksi dan mawas-diri. Ia pun berencana pulang. Mengapa? Karena ia lapar. Maka, ia hanya mau menjadi pekerja di rumah bapanya, sebab mereka “berlimpah-limpah makanannya” (ay. 17). Jelas itu alasan utamanya. Lebih baik jadi pekerja yang kenyang, daripada anak-bebas yang kelaparan. Agar diterima, tentu ia perlu berbahasa agama: “aku telah berdosa terhadap Surga dan terhadap bapa”. Jadi, ia pulang dengan perhitungan! Ekonomi berbungkus religi: paket laris dari dulu sampai kini!

Ternyata, BAPA tidak peduli dengan kalkulasi. Si pemboros harta justru diterima dengan pemborosan cinta. Pemborosan uang ditanggapi dengan pesta besar. Si pelamar kerja justru dipulihkan sebagai anak. Sebelum anaknya tiba dan berucap, sikap Bapanya sudah jelas: belas-kasih! Sebelum anaknya sampai, ia sudah berlari menemui, merangkul dan menciuminya. Kasih Bapa tidak kenal hitung-hitungan. Kasih Bapa sudah ada sebelum kata maaf. Bahkan, terima-kasih si anakpun pun tidak terdengar. Itu pesan utama cerita ini. Tidak kebetulan jika cerita ini disebut “Injil mini”: berita gembira tentang kasih Bapa yang berlimpah dan tanpa syarat. Bapa selalu menunggu kita kembali, tanpa peduli berapa kali kita pergi!

SI SULUNG berkata: “bertahun-tahun aku melayanimu..” Ia pekerja keras, juga setia dan taat: “belum pernah aku melanggar perintahmu”. Tetapi ia menghadapi ayahnya juga dengan perhitungan: Ada prestasi, ada apresiasi. Saya taat dan setia maka sayalah yang harus dipestakan. Si adik itu pemboros harta, maka ia harus dihukum dan dibina. Si Sulung ini anak yang bermental budak: ada kerja, ada upah! Beda-tipis dengan adiknya. Si bungsu kembali dan ingin memulihkan relasi dengan menjadi “pekerja”, si sulung mempertahankan relasi itu dengan terus “berhamba”. Keduanya sama-sama salah-paham tentang kasih Bapa!

Maka, perkataan BAPA harus menjadi kata-akhir. Meski si Sulung hanya menyapa dia dengan “engkau”, bapa tetap menyebutnya “Anakku”. Dialah Bapa yang mengasihi dan berbagi semua miliknya (ay. 31). Si Sulung menyebut adiknya sebagai “anakmu”, tetapi Bapa tetap menyebut si Bungsu sebagai “adikmu”. Persaudaraan menggantikan permusuhan. Dia diundang untuk ikut-serta dalam suka-cita Bapa karena menemukan anak hilang.

Jadi, jika Anda menjadi si Sulung, apa yang akan Anda lakukan? Membungkuk masuk dengan identitas baru sebagai “anak” atau tetap mengangkat dagu teguh menjadi budak di luar? Menyambut pertobatan si Bungsu atau sebaliknya menuntut neraka untuknya?

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perlindungan Laut: Semoga para politisi, ilmuwan dan ekonom mampu bekerjasama dalam melindungi dan melestarikan Samudra serta laut-laut dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pewarta Kabar Gembira: Semoga dengan rajin menghayati Kitab Suci, umat Katolik dapat memaknai profesinya masing-masing sebagai kesempatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesamanya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami setiap saat mensyukuri pendampingan malaikat, yang menjadi utusan Allah sebagai ungkapan Penyelenggaraan Ilahi agar hikmat Ilahi menguatkan Gereja. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s