Jangan Baper Jika Ditolak!

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXIV, 18 September 2019
Peringatan S. Yosef Cupertino
1Tim. 3:14-16. ; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 7:31-35

Pengalaman ditolak atau tidak diterima adalah pengalaman yang pernah dialami setiap manusia. Penolakan ini bisa dikarenakan macam-macam sebab. Ada orang yang ditolak di suatu tempat dikarenakan latar belakang keluarganya kurang terpandang dan miskin. Ada yang ditolak karena suku dari mana dia berasal. Ada juga yang mengalami penolakan karena baru saja keluar dari rumah tahanan dan berstatus mantan napi. Sementara itu ada orang yang ditolak masyarakat dikarenakan penyakit yang dideritanya. Kita sebut saja penyakit menular seperti kusta dan AIDS. Namun, ada juga penolakan yang bukan disebabkan oleh kekurangan yang dimiliki seseorang tetapi sebaliknya justru karena kelebihannya. Ada orang-orang yang juga mengalami penolakan karena ia sangat jenius, berbakat; dan kerap kali kita secara tidak langsung menjadi pelaku dalam penolakan tersebut. Ini disebabkan karena kita merasa iri hati dan tidak senang melihat kesuksesan orang lain. Iri hati tersebut membuat kita mulai mencibir, nyinyir dan ‘bergosip ria’ untuk menjatuhkan orang tersebut. Secara pribadi sayapun terkadang merasa heran. Bukan hanya kekurangan manusia yang menjadi batu sandungan bagi kita, tetapi juga kelebihannya. Jadi pertanyaan yang sangat sederhana yang perlu kita jawab adalah, “Mau apa sebenarnya kita ini?”

Pengalaman ditolak adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan dapat terasa sangat berat. Saya pun memiliki pengalaman yang sebenarnya sangat sederhana namun menimbulkan perasaan ditolak. Selesai tahbisan imamat, sebagai pastor muda, saya ditempatkan di salah satu paroki di Toraja yang sebagian wilayah pelayanannya berada di pedalaman. Pada saat kunjungan pertama hampir di semua Gereja Stasi, pertama kali umat melihat saya langsung berkomentar, “Wah pastornya masih sangat muda. Masih seperti anak-anak”. Ada pula yang berkata, “Katanya pastornya juga asli Toraja, tapi sayangnya tidak bisa berbahasa Toraja”. Mendengar hal ini saya sempat berkecil hati dengan ungkapan “masih sangat muda”, yang waktu itu dalam benak saya identik dengan makna “masih sangat belia dan tidak punya pengalaman apa-apa”. Namun, seperti bacaan hari Injil hari ini, waktu itu saya juga dikuatkan oleh pengalaman Yohanes Pembaptis yang ditolak keberadaannya karena ada hal yang lain darinya dan tidak biasa. Maka berangkat dari kisah hidup Yohanes tersebut dengan hati gembira dan penuh semangat saya berusaha terus melayani umat yang telah dipercayakan kepada saya.

Yesus juga mengalami hal yang sama. Yesus ditolak bangsa-Nya karena konsep Mesias yang ditampilkan-Nya dalam pewartaan-Nya berbeda dengan konsep Mesias yang diharapkan orang-orang. Dia bukanlah Mesias dalam arti pembebas duniawi, yang mampu berperang melawan penindasan dengan mengangkat pedang, atau layaknya raja yang penuh wibawa, dihormati dan disegani. Tetapi Yesus justru membawa konsep yang berbeda; Ia tidak segan-segan duduk minum dan makan bersama dengan para pendosa, sahabat-sahabat-Nya pemungut cukai dan para penyakitan. Orang-orang menolak-Nya, bagaimana mungkin Dia adalah Mesias sementara murid-murid-Nya yang selalu bersama dengan Dia pada umumnya adalah masyarakat biasa, yang tidak terpandang bahkan buta huruf?

Pengalaman ditolak bisa kita rasakan setiap saat. Bila iman kita kuat, pengalaman ditolak dapat menjadi motivasi bahkan semangat di dalam menjalani hidup untuk berusaha terus menjadi lebih baik. Terus berada di jalan Tuhan sebagaimana Yohanes Pembaptis yang tidak “baperan” ketika dihujat. Sebaliknya ia menjadi nabi besar yang telah menyiapkan jalan bagi Tuhan. Kita semua dipanggil dan diutus setia dalam jalan Tuhan karena kepada orang takwa diberikan-Nya rezeki, selama-lamanya Ia ingat akan perjanjiannya (Mzm. 111: 5). Tetaplah teguh dalam iman meski kita menerima penolakan karena hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya (Luk. 7:35).

(RD. Hendrik Palimbo – Pastor Paroki Deri-Toraja, KAMS)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perlindungan Laut: Semoga para politisi, ilmuwan dan ekonom mampu bekerjasama dalam melindungi dan melestarikan Samudra serta laut-laut dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pewarta Kabar Gembira: Semoga dengan rajin menghayati Kitab Suci, umat Katolik dapat memaknai profesinya masing-masing sebagai kesempatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira bagi sesamanya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami setiap saat mensyukuri pendampingan malaikat, yang menjadi utusan Allah sebagai ungkapan Penyelenggaraan Ilahi agar hikmat Ilahi menguatkan Gereja. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s