Pekan Misi Nasional IV – Bangkitkan Kesadaran & Komitmen Misioner!

22 September 2019

Edukasi Misioner – Pekan Misi Nasional IV dalam Terang Maximum Illud
Kegiatan hari ke-2 pembukaan Pekan Misi Nasional IV dimulai dengan ibadat bersama dan sarapan. Sesi ketiga edukasi misioner pada hari kedua ini diisi oleh RD. M Nurwidi Pranoto – Dirnas KKI dengan topik: “Sekilas Pandang Pekan Misi Nasional IV dalam Terang Insipirasi Maximum Illud”. Dari asal katanya Maximum Illud memiliki makna: inilah saat maksimal – saat yang paling tepat untuk mewartakan Injil. Sekilas Romo menjelaskan latar belakang sejarah munculnya dokumen misi Maximum Illud. Konteksnya adalah surat apostolik Maximum Illud ditulis Bapa Suci Paus Benediktus XV (1919) setelah perang dunia pertama, sebagai dokumen Gereja yang pertama tentang misi. Dampak perang dunia I dilihat oleh Bapa Suci sangat masif, sangat destruktif di banyak bidang termasuk dalam lini spiritual dan karya misi. Saat itu terjadi gesekan-gesekan, konflik kepentingan, di mana Imam-Imam menjadi misionaris namun masih membawa semangat nasionalisme kolonial, nasionalisme ekspasionisme, nasionalisme imperialisme. Misionaris-misionaris yang datang ke tanah misi masih membawa agenda-agenda dari negara-negara di mana mereka berasal. Karena itu Paus Benediktus XV melalui Surat Apostoliknya tersebut, ingin mengingatkan kembali mengenai hakikat misi kepada para misionaris.

Pesan Bapa Paus Fransiskus – Hari Minggu Misi 2019
Romo juga mengutip Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Minggu Misi 2019: “Saudara-Saudara terkasih untuk bulan Oktober 2019 saya telah meminta agar seluruh Gereja menunjukkan kembali kesadaran dan komitmen misionernya bertepatan dengan peringatan seratus tahun Surat Apostolik Maximum Illud yang diitulis oleh Paus Benediktus XV, dipromulgasikan pada tanggal 30 November 1919. Sisi bijaksana dan kenabiannya tentang kerasulan telah membuat saya menyadari sekali lagi pentingnya membarui komitmen misioner Gereja dan memberikan dorongan Injili yang segar untuk tugas pewartaannya dan membawa keselamatan Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit kembali kepada dunia.”

Misa Pembukaan Pekan Misi Nasional IV
Misa pembukaan Pekan Misi Nasional IV diadakan di Gereja Katedral St. Petrus – Keuskupan Bandung, pada hari Minggu, 22 September 2019, pukul 12.00 WIB. Misa konselebrasi ini dipimpin oleh: RD. Yustinus Hilman Pujiatmoko (Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung); didampingi oleh: RD. Markus Nurwidi Pranoto (Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia – Sekretaris Eksekutif Komisi Karya Misioner KWI); RP. Petrus Maman Suparman, OSC (Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia – Ketua Komisi Karya Misioner Keuskupan Bandung); RP. Hendrianus Felianus Halawa, OSC (Komisi Liturgi Keuskupan Bandung); RD. FX Wahyu Tri Wibowo (Komisi Kepemudaan Keuskupan Bandung); RP. Barnabas Nono Juarno, OSC (Pastor Paroki Katedral St. Petrus).

“Salib dan Sesama yang Menderita”
Misa dimulai dengan masuknya tiga tokoh: seorang perempuan buta, seorang lelaki pincang dan seorang perempuan yang duduk di atas kursi roda. Menyusul di belakang mereka, seorang perempuan membawa Kitab Suci yang terbuka dan lelaki yang mengangkat sebuah Salib tinggi-tinggi. Di depan altar terlihat adegan di mana salib mendekat ke masing-masing pribadi yang memerankan tokoh orang-orang sakit, dan mereka pun kemudian menjadi sembuh. Adegan ditutup dengan semuanya berlutut di hadapan salib.

Perarakan Salib-Salib Misi dan Vandel 28 Paroki
Menyusul kemudian perarakan dua buah salib yang diiringi Vandel dari 28 Paroki dengan empat warna berbeda: merah, kuning, putih dan biru memasuki Gereja. Kemudian diikuti di belakang para petugas liturgi dan para Romo.

Kata Pengantar – “Salib-Salib Tertua”
Romo Maman sebagai Dirdios KKI Keuskupan Bandung mengucapkan syukur atas penunjukan Komisi Karya Misioner Konferensi Waligereja Indonesia pada Keuskupan Bandung untuk menjadi tuan rumah penyelenggara Pekan Misi Nasional IV. Penanda dibukanya rangkaian pekan misi ini akan dilakukan dengan pemberkatan salib misi (salib tertua di Keuskupan Bandung – 1874, yang diberikan kepada Pastor Van Moorsel di Paroki Cirebon). Salib akan dibawa berkeliling ke Paroki-Paroki.

Romo mengingatkan kembali akan tema Pekan Misi Nasional IV: Dibaptis dan Diutus. Semoga tema ini menyadarkan setiap orang Katolik yang diutus untuk menjadi rasul – misionaris, untuk mewartakan sukacita Allah di manapun berada.

DSCN6820

Lilin Pekan Misi Nasional IV
Vikjend menyalakan lilin pekan misi nasional IV dan berdoa, “Kiranya terang roh kudus menerangi hati dan budi kita agar kita yang telah menerima baptisan siap diutus mewartakan karya agung Allah bagi dunia.”

DSCN6829

Homili Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung
Apa yang harus kita perbuat dengan Pekan Misi Nasional IV ini?” Mengacu pada tema: Dibaptis dan Diutus, Vikjend mengatakan banyak orang Katolik sudah dibaptis dan kita bersyukur dapat menjadi putra/putri Allah, tetapi tidak cukup hanya “menjadi” namun kita perlu memiliki “gerakan” untuk diutus. Kita dipakai Tuhan melalui hal-hal yang sederhana. Dalam pengutusan ketika kita berjumpa dengan orang-orang setiap hari, apakah kita memiliki kepekaan hati?

DSCN6836

Merefleksikan Makna Salib Misi
Baptisan yang telah diterima memampukan kita merenungkan makna salib. Salib-Salib Misi setelah diberkati akan berkeliling ke 28 Paroki. Orang-orang yang diharapkan membawa salib-salib ini semoga telah memahami mengenai salib. Arti salib menurut Romo Yustinus: pengorbanan Yesus yang terdalam untuk saya, apakah saya juga mau berkorban untuk orang lain? “Semoga salib memancarkan kehidupan kita yang benar di hadapan orang, sebagai misionaris Tuhan.”

Pemberkatan Salib-Salib Misi
Setelah homili, RD. Yustinus Hilman Pujiatmoko melakukan pemberkatan Salib-Salib Misi yang rencananya akan diarak berkeliling ke 28 Paroki di Keuskupan Bandung.

Sambutan Dirnas Karya Kepausan Indonesia
Di akhir perayaan Ekaristi, Romo Markus Nurwidi Pranoto dalam sambutan menyampaikan terima kasih pada Bapa Uskup Mgr. Antonius Subianto, OSC beserta seluruh jajaran Keuskupan Bandung yang telah mengizinkan perayaan Pekan Misi Nasional IV diadakan di Keuskupan Bandung. Romo mengingatkan tujuan diselenggarakannya Pekan Misi Nasional IV dan Hari Minggu Misi Sedunia adalah untuk membangkitkan kesadaran setiap orang yang dibaptis akan tanggung jawab misioner, dan mewartakan sukacita Injil yang merupakan amanat Tuhan sendiri. Pesan Tuhan Yesus sebelum naik ke surga: “Pergilah ke seluruh dunia, wartakanlah Injil ke segala bangsa…

Sambutan Wakil Ketua Panitia Pekan Misi Nasional IV
Bapak George mengucapkan syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh KKM KWI kepada Keuskupan Bandung untuk menjadi tuan rumah Pekan Misi Nasional IV. Apresiasi diberikan kepada para panitia yang telah bekerja keras demi terlaksananya pekan misi nasional ini.

Expo dan Stand-Stand Misi
Setelah misa, para undangan diajak untuk makan siang bersama di aula. Sementara di halaman samping depan Gereja, expo dan stand-stand pameran misi masih terus berjalan. Beraneka ragam yang dipamerkan dan dijual, mulai dari benda-benda rohani, buku-buku pengetahuan hingga ke makanan. Para religius pun ikut mengambil bagian, mempromosikan karya misi yang mereka kerjakan. Dibuatkan pula sebuah panggung, untuk pentas. Tampak lalu lalang anak-anak maupun orang-orang dewasa yang mengenakan kostum beraneka macam, menyerupai orang suci maupun tokoh yang ada dalam Kitab Suci. Semua orang tampak bersukacita memulai hari pertama rangkaian kegiatan Pekan Misi Nasional IV.

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s