Mewartakan Kabar Baik di Tengah Krisis Lingkungan Hidup

Dalam rangka mengisi Bulan Kitab Suci Nasional 2019 yang lalu, Komisi Ibadat dan Pewartaan Paroki “Kristus Terang Dunia” Yiwika, Dekenat Pengunungan Tengah Wamena – PAPUA mengadakan pendalaman Kitab Suci bagi Anak-anak dan Remaja Misioner yang diadakan setiap hari Jumat sore Pkl 15.00 di wilayah 2 yakni Kring Yiwika, Obia dan Mebagaima. Rangkaian kegiatan diawali dengan Ibadat Sabda (Tgl 01 September) yang dipimpin oleh Fr. Ignatius OFM. Dalam kotbahnya frater mengajak, “Makhluk hidup musnah karena kejahatan manusia maka selama satu bulan ini kita akan memperbaiki kesalahan dengan belajar dari seorang pribadi Nuh yang dalam segala perbuatannya baik dimata Tuhan, sehingga Allah kembali mengasihi manusia dan ciptaannya” ungkapnya. Dikisahkan bahwa Allah menyesal telah menciptakan manusia karena manusia cenderung berdosa dan jahat. Manusia menyalahgunakan kepercayaan yang Tuhan beri, menguasai bahkan membinasakan ciptaan lain. Tuhan menurunkan air bah dan hendak membinasakan bumi serta segala isinya. Air bah terjadi karena Tuhan menghukum manusia dan karena manusia melakukan banyak kejahatan serta bertindak kekerasan. Tetapi Allah mengingat Nuh sekeluarga beserta segala binatang yang ada dalam bahtera sehingga Allah tidak akan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun rancangannya hatinya jahat sejak kecil dan Allah tidak akan membinasakan lagi segala yang hidup. “Selama bumi masih ada, tidak akan berhenti-henti musim menabur dan menuai, musim dingin dan panas, musim  kemarau dan hujan, siang dan malam”. (Kej 8: 22)

3

Pada pertemuan pertama (06 Sept.) berdasakan Kitab Kejadian 6: 1-7 anak-anak diajak untuk melihat kerusakan yang terjadi di lingkungan sekitar dan menyadari perbuatan dan kesalahan yang selama ini sudah dibuat. Misalnya membuang sampah sembarangan mengakibatkan lingkungan kumuh, kotor bahkan dapat mengakibatkan banjir. Kesadaran untuk mencintai lingkungan ditanamkan sejak usia anak-anak agar mereka memiliki hati untuk melindungi rumah bumi kita.

Pertemuan kedua (13 Sept.) mengajak kita bertindak melalui usaha nyata untuk menyelamatkan bumi. Nuh bertindak  menyelamatkan makhluk hidup dengan cara membuat bahtera, mengumpulkan semua jenis binatang masing-masing sepasang dan merawatnya sampai bumi bisa ditempati lagi. Walaupun selama ini kita berbuat kurang baik terhadap lingkungan,  namun Tuhan masih melibatkan kita dalam usaha menyelamatkan bumi. Dengan menanam satu pohon saja…dapat menyelamatkan bumi dan segala isinya. Tidak lagi buang sampah sembarangan, membunuh burung, hewan-hewan langka, menebang pohon, membakar hutan melainkan memeliharanya dengan baik serta membiarkannya hidup bebas di alam semesta.

4

Pertemuan ketiga (20 Sept.) ditegaskan kembali “jangan hilang harapan! Allah mendukung kita merawat bumi”. Jika hal baik mulai dilaksanakan sejak sekarang, apa yang dulu rusak pasti pelan-pelan akan pulih kembali. Allah tidak berdiam diri! Gusti ora sare! (Tuhan tidak tidur). Berkat kasih setianya, bumi menjadi pulih kembali dan terisi oleh makhluk hidup. Maka sebaliknya kita manusia harus menanggapi kesetiaaan Allah dengan cara menjadi seperti Nuh yakni mau bekerja sama dan belajar cara- cara memulihkan apa yang sudah kita rusak. Sebagai bentuk aksi anak-anak diajak untuk memungut sampah yang berada dijalan.

Pertemuan keempat yang seharusnya dilaksanakan 27 Sept. tertunda karena terjadi kerusuhan dikota Wamena (23 Sept ) yang begitu memilukan, sehingga mempengaruhi aktivitas dan kegiatan sehari-hari. Ketakutan, kecemasan, ketidaknyamanan,  kegelisahan selalu menghantui terlebih anak-anak banyak yang bersembunyi dan mengungsi.

ke 3

Tanggal 11 Oktober, akhirnya dapat melaksanakan pendalaman Kitab Suci yang keempat. Allah menetapkan peraturan yang harus dipatuhi oleh manusia yakni memelihara dan meningkatkan mutu kehidupan isi bumi. Jangan sampai mereka merusak kehidupan di bumi. Namun, tragedi Wamena membuktikan bahwa manusia ingkar janji dan masih belum sadar akan hal tersebut. Padahal Allah sudah berjanji tidak akan mendatangkan kemusnahan terhadap bumi dan isinya. Justru manusia-lah  yang  memusnahkan sesamanya. Sebagai aksi sesuai pesan Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM kami para pendamping mengajak anak-anak untuk berdoa dan berpuasa secara khusus bagi perdamaian di tanah Papua yang diadakan setiap Jumat Pertama dalam bulan. Mohon perlindungan Bunda Maria dengan mendoakan Doa Rosario. Maka semakin hidup dan nyata dialami tema BKSN 2019 bagi anak-anak di Yiwika mewartakan kabar baik di tengah krisis lingkungan hidup.

Tanggal 18 Oktober, dilaksanakan Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Sr. M. Katarine FSGM sebagai penutup keseluruhan rangkaian kegiatan pendalaman Kitab Suci di aula SMP Negeri 1 Kurulu. Mari kita mewartakan kabar baik kepada semua orang. Stop kejahatan! Ciptakan damai bagi bumi kita. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa kita dan memberi kita DAMAI.

Sr. M. Katarine FSGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s