Misi: Bukan Menaklukkan tetapi Bersaksi

Homili Bapa Paus di Hari Misi Sedunia: Jadikan hidup sebagai misi dan sebagai anugerah
Paus Fransiskus merayakan Misa di hari Minggu Misi Sedunia. Dalam homilinya, Paus menantang kita untuk merenungkan makna misi kita.

Pada tahun 1926, Paus Pius XI memutuskan bahwa Gereja membutuhkan hari khusus untuk berdoa bagi para misionaris, dan untuk membarui komitmennya pada misi. Hari ini, Hari Misi Sedunia diperingati pada hari Minggu kedua terakhir pada bulan Oktober, di seluruh dunia, sebagai tanda dukungan dan solidaritas untuk misi dan misionaris di manapun berada.

Sebuah kata benda, sebuah kata kerja, dan sebuah kata sifat
Dalam homilinya selama Misa untuk Hari Misi Sedunia, Paus Fransiskus memilih untuk merenungkan tiga kata yang diambil dari bacaan hari Minggu ini: “kata benda, kata kerja, dan kata sifat”. Kata benda yang Paus pilih adalah “gunung”. Kata itu muncul dalam bacaan pertama dari Yesaya, dan sekali lagi dalam Injil, “ketika Yesus, setelah kebangkitan-Nya, memberi tahu para murid-Nya untuk bertemu dengan-Nya di gunung Galilea”. Tampaknya, “gunung adalah tempat favorit Allah untuk bertemu umat manusia”.

Paus mengingat kembali gunung-gunung lain dalam Kitab Suci: Gunung Sinai dan Gunung Karmel, Khotbah Yesus di Gunung, transfigurasi-Nya di Gunung Tabor, penyaliban-Nya di Gunung Kalvari, dan kenaikan-Nya ke surga dari Bukit Zaitun. “Gunung itu juga tempat di mana Yesus menghabiskan beberapa jam dalam doa untuk menyatukan surga dan bumi, dan untuk mempersatukan kita, saudara dan saudari-Nya dengan Bapa”.

Kata benda: “gunung”
Gunung memberi kita makna bahwa kita dipanggil “untuk mendekat kepada Allah dan kepada orang lain, dalam keheningan dan doa, menghindari desas-desus dan gosip yang melemahkan/mengecilkan kita”. Kita melihat hal-hal dalam perspektif yang berbeda dari atas gunung: “Gunung itu menyatukan Allah dan saudara-saudari kita dalam satu rangkulan doa”. Hal tersebut menarik kita naik dan menjauh dari hal-hal yang sementara, serta memanggil kita untuk menemukan kembali apa yang esensial dan abadi: Allah dan saudara-saudari kita”.

“Misi dimulai di gunung, di sana kita menemukan apa yang benar-benar penting”. Yang menimbulkan pertanyaan: apa yang benar-benar penting dalam hidup saya? “Puncak mana yang ingin aku daki?”

Kata kerja: “naik”
Paus Fransiskus melanjutkan perenungannya mengidentifikasi kata yang menyertai kata benda “gunung”: kata kerja “naik”. Kita tidak dilahirkan untuk tetap berada di tanah, “kita dilahirkan untuk mencapai ketinggian dan di sana untuk bertemu Tuhan dan saudara-saudari kita”. Ini berarti kita harus “naik, untuk melawan gaya gravitasi yang disebabkan oleh egoisme kita”. Naik membutuhkan usaha, tetapi itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik dari segalanya, seperti yang diketahui oleh setiap pendaki gunung.”

Paus mengembangkan metafora pendakian gunung, mengatakan bahwa kita tidak bisa mengambil risiko terbebani, “jadi dalam hidup ini kita harus membersihkan diri dari hal-hal yang tidak berguna”. Ini, juga merupakan rahasia misi: untuk dapat pergi, Anda harus meninggalkan sesuatu, untuk dapat menyatakan, Anda harus melepaskan terlebih dahulu”. Pernyataan yang kredibel, disertai dengan kehidupan yang patut dicontoh: “kehidupan pelayanan yang mampu menolak semua hal materi yang mengecilkan hati dan membuat orang acuh tak acuh serta memandang ke dalam batin”. Sekali lagi, Paus mengajukan pertanyaan: upaya apa yang kita lakukan “untuk naik”? Apakah kita dapat menolak “beban duniawi yang tidak berguna untuk mendaki gunung Tuhan?”

Kata sifat: “semua”
“Gunung itu mengingatkan kita pada apa yang penting.” Kata kerja “naik memberitahu kita bagaimana caranya menuju ke sana”. Tetapi ada kata ketiga, bahkan lebih penting,: kata sifat “semua”.

“Semua” muncul kembali secara konstan dalam bacaan hari Minggu ini: Yesaya berbicara tentang “semua orang”, yang diulang dalam Mazmur; Allah menginginkan “semua untuk diselamatkan”, tulis Santo Paulus; “Pergi dan jadikan murid semua bangsa”, kata Yesus dalam Injil. “Tuhan tahu kita selalu menggunakan kata-kata ‘saya’ dan ‘milik kita’, tetapi Dia menggunakan kata “semua”: karena “tidak ada yang dikecualikan dari hati-Nya; karena setiap orang adalah harta yang berharga, dan makna hidup hanya ditemukan dalam memberikan harta ini kepada orang lain”.

Ini adalah misi kita: “untuk naik gunung untuk berdoa bagi semua orang dan turun dari gunung untuk menjadi hadiah bagi semua”.

“Orang Kristiani selalu bergerak”, selalu ‘terikat keluar’, “Semua orang mengharapkan sesuatu dari orang lain, tetapi orang Kristiani pergi mencari orang lain. Mereka yang memberi kesaksian tentang Yesus pergi kepada semua orang, tidak hanya untuk kenalan mereka sendiri atau kelompok kecil mereka”.

Instruksi untuk misi
Paus Fransiskus mengingatkan kita akan petunjuk yang Tuhan berikan kepada kita “untuk pergi kepada orang lain”. Hanya ada satu, dan itu sangat sederhana: “jadikanlah murid”, bukan milik kita, tetapi “murid-murid-Nya”. Seorang murid “mengikuti Guru setiap hari dan berbagi sukacita dalam pemuridan dengan orang lain. Bukan dengan menaklukkan, mengamanatkan, menyebarkan agama, tetapi dengan memberi kesaksian.”

Misi kita adalah “untuk memberikan udara segar dan murni bagi mereka yang terbenam dalam polusi dunia kita”. Misi kita adalah “untuk bersaksi, memberkati, menghibur, membangkitkan, dan memancarkan keindahan Yesus”.

“Hidupmu adalah misi yang berharga, hal tersebut bukan beban yang harus ditanggung, tetapi hadiah untuk dipersembahkan. Jadi, miliki keberanian! Marilah kita dengan berani pergi kepada semua!”

20 Oktober 2019
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s