“Siaga Satu” Menanti Sang Tuan

Renungan Harian Misioner
Selasa Pekan Biasa XXIX, 22 Oktober 2019
Peringatan S. Salome, S. Contardo Fellini, S. Filipos, Hermes dan Severus
Rm. 5:12,15b,17-19,20b-21; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Luk. 12:35-38

Bagi seorang hamba di abad pertama, si tuan adalah segalanya: sumber hidup dan pemberi makna. Maka, pengabdian dan loyalitas mereka sifatnya mutlak. Meski tuannya pergi, mereka tetap setia dengan pekerjaan rutin. Mata dan telinga mereka pun “siaga satu”: siap menunggu ketukan pintu. Pintu harus segera dibuka, dengan pelita yang bernyala, rumah dan segalanya sudah tertata. Mereka menjadi ilustrasi yang tepat tentang sikap menantikan Tuhan. Kita menunggu dengan terus sibuk bekerja dan melayani. Itulah pesan Injil hari ini: hidup Kristiani adalah penantian yang aktif dan produktif. Kita menantikan Tuhan yang pasti datang, meski tidak tahu kapan! Karena Ia pasti datang, maka kita menantikan-Nya dengan gembira. Kita yakin, penantian kita bukanlah ilusi. Sekaligus, karena saat kedatangan-Nya tidak pasti, maka kita menantikan Dia dengan “berbuah”: terus bekerja dan menyiapkan diri. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (ay. 35). Ungkapan “pinggang terikat” berarti: pakaian yang biasanya menjulur panjang sampai ke tumit, harus diikat di pinggang agar siap dan sigap bekerja. Ungkapan “pelita yang tetap bernyala” juga berkaitan dengan penyambutan tuan yang pulang di tengah malam. Dalam kondisi yang gelap, tentu si tuan senang bila disambut dengan pelita yang bernyala. Pelita yang bernyala juga menunjuk pada kesiapan untuk menghadapi malam dan kegelapan hidup. Dua ungkapan tersebut, dengan demikian, mau menegaskan hal yang sama: mempersiapkan segala sesuatunya demi menyambut sang Tuan, kapan pun Dia datang. Sibuk demi menyambut sang Tamu Agung!

Penantian Kristiani bukan hanya soal hidup beriman, tetapi terutama berkaitan dengan pokok iman kita. Kita mengimani Tuhan, Sang Anak Manusia yang akan datang! Dialah sang Tuan, yang menjadi sumber hidup, pemberi makna dan jati-diri kita. Maka, kesibukan kita pun jelas peruntukannya: demi Tuhan, bukan demi diri sendiri ataupun “tuan-tuan” yang lain: harapan orang, pandangan masyarakat, harga-diri, dll. Kesibukan kita sering diberi label dan bendera surgawi: pelayanan, cinta-kasih, misi, agape, karitas, dstnya. Akan tetapi, dalam kegiatan-kegiatan “rohani” seperti itulah kita paling dituntut untuk kontemplasi dan mawas-diri: jangan-jangan energi dan motivasi di balik itu semua sebenarnya demi promosi diri, mencari nama, ataupun untuk mengisi kekosongan dan kesepian diri. Tidak mengherankan, Yesus memilih gambaran “hamba” sebagai model. Hamba menjadi model bagi para pengikut-Nya: agar tetap menantikan Dia dengan menyibukkan diri demi dan untuk Dia. Hamba menjadi teladan komitmen total, karena hidup hamba memang 100% tergantung pada tuannya. Hamba juga menjadi model bagi Tuhan sendiri: Ia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Itulah kejutan Injil hari ini: begitu Ia datang, sang Tuan berubah menjadi hamba (bdk. Yoh.13:14-17). Ia menjadi pelayan bagi mereka yang selama ini berhati-hamba. Ia akan melayani mereka yang siap menunggu-Nya dengan sabar, yang terus menyibukkan diri demi dan untuk Dia. Itulah “kebahagiaan” yang dijanjikan-Nya buat mereka (ay. 37 dan 38).

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s