Pembenaran Milik Allah Semata

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Biasa XXX, 27 Oktober 2019
Sir. 35:12-14,16-18; Mzm. 34:2-3,17-18,19,23; 2Tim. 4:6-8,16-18; Luk. 18:9-14

Dua tokoh tampil mewakili dua kubu yang berbeda-kelas! Si Farisi jelas mewakili kaum saleh yang setia dan taat Taurat. Pemungut-cukai persis kebalikannya. Ia pengkhianat bangsa karena bekerja-sama dengan penjajah Roma. Pekerjaannya terbuka untuk banyak pelanggaran dan penipuan. Karena bergaul dengan orang asing dan sering memegang duit kafir, mereka termasuk kelompok najis! Keduanya datang ke Bait Allah untuk berdoa.

Bait Allah adalah map kesalehan dan peta ketahiran. Dalam Bait Allah dapat dilihat bagaimana manusia dipisahkan dan dibedakan: Yahudi dan kafir, laki-laki dan perempuan, orang saleh dan pendosa. Semakin saleh semakin dekat dengan Tempat Mahasuci, semakin berdosa semakin jauh! Posisi seseorang dalam Bait Allah memperlihatkan tingkat kesalehannya. Perhatikan saja posisi doa si Farisi dan si pemungut-cukai. Si Farisi memisahkan diri dan berdoa syukur di depan. Si pemungut cukai juga tahu-diri. Makanya ia berdiri jauh-jauh. Posisinya pasti di belakang, dekat pintu keluar, posisi strategis untuk sesegera mungkin menghilang dan pergi tanpa harus terlihat siapapun. Gestur yang menyatakan rasa tidak pantas dan layak berada di sana. Itu memang tempat bagi pendosa seperti dia. Hanya doa mohon pengampunan yang mampu ia panjatkan. Tidak ada kesalehan dan prestasi rohani yang dapat ia ungkapkan. Sebaliknya, si Farisi bersyukur karena dia bukan seperti semua orang lain: perampok, orang lalim dan pezinah, serta pemungut cukai. Dia berpuasa dua kali dan memberikan sepersepuluh dari semua penghasilannya. Dalam dua hal ini ia berbuat melebihi apa yang diperintahkan oleh Taurat. Dia model seorang Yahudi yang saleh!

Kejutan terjadi saat mereka pulang ke rumah. Yesus menyatakan bahwa hanya si pemungut cukailah yang dibenarkan Allah. Artinya: map dan peta Bait Allah ditinggalkan. Dalam Kerajaan Allah, standar tahir-najis dan saleh-pendosa tidak dipakai lagi. Hanya Allah sendiri yang membenarkan atau tidak membenarkan manusia, bukan Bait Allah atau agama! Membenarkan atau tidak membenarkan manusia adalah privilese Allah saja. Pembaca juga diingatkan akan bahaya membanggakan kesalehan alias kesombongan rohani. Kasih dan pelayanan dapat dengan mudah menjadi kebanggaan; talenta dan kharisma dapat dengan cepat diklaim sebagai aset privat, bukan lagi demi membangun jemaat; doa dan kesaksian dapat berubah menjadi pameran kesombongan dan kesempatan mencela sesama. Doa si Farisi memperlihatkan betapa palsu kesalehannya: dia sibuk dengan perbandingan dan kontras. Dia tidak menerima apapun dari Allah, karena dia hanya menghitung apa yang sudah dimilikinya. Lebih parah lagi: dia mengklaim hak Allah untuk menilai dan mengadili. Tidak saja mendaftarkan prestasi rohaninya, ia juga ‘mengingatkan’ Allah akan keberdosaan si pemungut cukai! Dia membenarkan dirinya sendiri dan mengadili orang lain. Sebaliknya, si pemungut cukai dibenarkan karena dia membutuhkan pembenaran dari Allah sendiri. Dia mengakui dan membutuhkan rahmat Allah, karena itu dia dibenarkan-Nya!

Doa bukan sekedar pemenuhan salah satu kewajiban kesalehan, tetapi seluruh sikap manusia di hadapan Allah! Di hadapan Allah, manusia adalah pendosa yang dibenarkan Allah. Manusia hanya dapat bersyukur atau memohon dan membiarkan Dia yang membenarkan, menghakimi dan merajai hidupnya!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Musim panen karya misi di Gereja: Semoga napas Roh Kudus menyemaikan dan menyuburkan Gereja dengan berseminya usaha dan karya-karya misi yang baru. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Gereja di Pedesaan: Semoga seiring dengan makin sedikitnya anak muda yang mau tinggal di pedesaan, Gereja setempat menemukan program-program yang dapat mengarahkan anak muda untuk mencintai dan memajukan desanya sendiri. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami mendukung nasionalisme orang muda kami, sehingga meneruskan perannya bekerja sama dengan rekan-rekan muda lain membangun persaudaraan secara bijaksana. Kami mohon…

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s