Misionaris dalam Ziarah Menuju Kekudusan

Renungan Harian Misioner
Jumat Biasa XXX, 01 November 2019
HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a

Para sahabat misioner yang terkasih, ziarah kehidupan kita baru saja melewati Bulan Oktober, Bulan Doa bersama Bunda Maria di mana di dalamnya ada juga Perayaan Hari Pangan Sedunia dan Pekan Misi Sedunia ke-93 dengan tema “Dipanggil & Diutus: Gereja Kristus dalam Misi di Dunia.” Panggilan mempersatukan kita dengan Allah, dan Perutusan memberi kita amanat untuk mempertemukan orang-orang lain dengan Allah. Semua orang diberi kesempatan untuk berziarah menuju perjumpaan dengan Allah di dalam semangat kekudusan!

Di dalam ziarah ini ada para kudus yang sudah mencapai garis finish dan sudah berkumpul bersama Allah, dan ada para arwah yang sudah melewati kehidupan duniawi tetapi belum mencapai final. Mereka semua akan kita doakan besok pada 02 November. Dan kelompok ketiga yang berada pada awal masa ziarah ini, yang masih hidup di dunia ini, yakni anda dan saya.

Kita akan merenungkan siapa orang-orang kudus itu, dan bagaimana mereka mencapai garis finish hingga berada bersama Allah, dan apa saja yang boleh kita teladani dari mereka, sehingga pada waktunya kitapun masuk ke dalam persekutuan para kudus di dalam Allah ini!

1. Identitas para kudus: siapa mereka?
Firman Tuhan pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini, memberikan sejumlah petunjuk yang boleh kita pakai untuk menandai identitas para kudus tersebut. Di antara penanda-penanda identitas para kudus ini, adalah:
• Para kudus dikategorikan sebagai para hamba Allah (Why. 7:3).
• Para kudus ini adalah orang-orang yang telah keluar dari kesusahan besar. Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba (Why. 7:14).
• Para kudus adalah mereka yang sudah berbahagia mendiami rumah Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, penerima berkat dari Tuhan karena tidak menyerahkan diri kepada penipuan (Mzm. 24:3-4ab. 5-6).
• Para kudus adalah orang-orang yang menaruh pengharapan kepada Allah, dan menyucikan diri supaya suci seperti Allah yang suci adanya (Yoh. 3:3).
• Mereka miskin (bisa saja secara ekonomis) tetapi tidak meninggalkan Allah karena alasan kemiskinan itu, sebalinya mereka mengandalkan Allah justru karena situasi hidup mereka yang demikian (Mat. 5:3).
• Karena mempertahankan hubungan dengan Allah, maka para kudus sering harus menanggung dukacita akibat ikatan dengan Allah tersebut (Mat. 5:4).
• Para kudus juga dikenal sebagai orang-orang yang selalu mencari kebenaran Allah, (Mat. 5:6).
• Mereka adalah orang-orang yang murah hati (Mat. 5:7).
• Selain murah hati, para kudus adalah orang-orang yang dikenal karena kesucian hati mereka (Mat. 5:8).
• Penanda lain yang ada atau melekat pada identitas para kudus ialah bahwa mereka ini dikenal sebagai para pembawa damai (Mat. 5:9).
• Selain dikenal dengan gambaran yang positif, mereka juga dikenal sebagai orang-orang yang demi kebenaran tidak takut untuk dianiaya (Mat. 5:10).
• Selain aniaya yang mereka alami, para kudus ini juga demi hubungan mereka dengan Allah, telah mengalami celaan dan fitnahan yang keji (Mat. 5:11).

Demikian sejumlah penanda yang muncul dari Firman Tuhan sendiri, yang membantu kita untuk mengenali bahwa orang-orang yang telah menghidupi semuanya ini, baik yang positif ataupun yang negatif, telah mencapai garis finish dalam ziarah hidup mereka, dan telah memenangkan mahkota sebagai orang-orang kudus milik Allah! Mereka telah mencapai tujuan akhir. Meminjam kata-kata Rasul Paulus, para kudus ini adalah “Orang-orang yang telah mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman” (II Tim. 4:7).

2. Misionaris dan panggilan kepada kekudusan
Dalam terang tema Minggu Misi sedunia ke-93, misionaris adalah orang-orang yang diutus untuk mempertemukan orang-orang dengan Allah. Dan setiap orang yang maju untuk masuk ke hadirat Allah, masuk ke dalam perjumpaan dengan Allah, tentu harus mempunyai “kelayakan” atau dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Identitas atau aneka penanda yang melekat pada para kudus dalam poin pertama di atas merupakan syarat-syarat yang wajib ada pada siapapun yang mau masuk ke dalam perjumpaan dengan Allah, dan mengatur hidup sebagai putera-puteri terkasih Allah.

Dalam upaya untuk menghayati cara hidup sebagai anak-anak Allah, dengan penanda yang sudah nyata pada diri orang-orang kudus tersebut, di situlah tugas-perutusan kita sebagai misionaris: mengantar sebanyak mungkin orang kepada cara hidup yang senantiasa terkoneksi dengan Allah (= dalam bahasa Paulus “memelihara iman”), dan juga hidup dalam hubungan baik dengan sesama, yang bisa muncul dalam aneka tindakan seperti membawa damai, lemah-lembut, rendah hati, suci hati, dsbnya.

Dengan cara hidup dalam nilai-nilai yang telah mengantarkan para kudus ke dalam persekutuan final dengan Allah ini, terletak UNDANGAN Allah kepada kita. Siapapun yang menerima panggilan untuk menjadi kudus, hendaklah menghidupi berbagai hal yang telah dijalani oleh para kudus ini. Menyuarakan undangan Allah kepada kekudusan ini, inilah tugas anda dan saya sebagai misionaris. Cara kita mengundang orang-orang ini, seperti yang ditegaskan Paulus kepada Timotius, ialah dengan “memelihara iman.”

Semoga pada akhirnya kita semua dapat mencapai kekudusan dengan memelihara iman, dan merawat hubungan baik kita dengan sesama manusia, siapapun dia, dan apapun latar belakangnya. Amin (RMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s