Zakheus yang Ingin ‘Melihat’ Yesus

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XXXI, 03 November 2019
Keb. 11:22-12:2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes. 1:11-2:2; Luk. 19:1-10

Semua sudah tahu reputasi pemungut cukai. Pendosa publik dan pengkhianat negeri. Apalagi yang satu ini: dia bukan pemungut cukai kelas teri, dia adalah “kepala pemungut cukai” dan “seorang yang kaya” (ay. 2). Kaitannya jelas: karena kepala pemungut cukai, maka ia kaya! Dalam injil Lukas, Yesus sering mengecam orang kaya (Luk. 12:21)! Perikop sebelumnya bahkan menegaskan bahwa seorang kaya tidak mungkin masuk kerajaan Allah! Mungkinkah Zakheus ini menjadi kekecualian? Nama Zakheus memang berarti “orang bersih, benar”, tetapi pekerjaannya membuat dia dicap pendosa! Bagi masyarakatnya, dia adalah seorang yang “hilang” atau minimal “salah tempat”. Tapi bagi Yesus, orang seperti dialah yang harus dicari dan ditemukan!

Terdorong rasa ingin tahu, Zakheus berupaya melihat Yesus. Inilah misi yang mau dia capai: melihat Yesus. Itu saja! Ia ingin melihat Yesus “lewat”: Yesus yang jalan terus, Yesus yang tidak berhenti! Tetapi harapannya terbentur dua halangan mendasar: posturnya yang pendek membuat pandangannya terbatas; statusnya sebagai “pendosa” membuatnya enggan bergabung dengan orang banyak. Apakah Zakheus menyerah dengan halangan fisik dan spiritualnya tersebut? Sama sekali tidak! Ia bahkan “berlari mendahului orang banyak” dan “memanjat pohon ara”. Zakheus menjadi teladan antusiasme dan upaya mengatasi keterbatasan diri. Demi melihat Yesus, ia pun harus mengatasi rasa-malu dan membuang harga-dirinya.

Ternyata Yesuslah yang terlebih dahulu “melihat” Zakheus dan memanggil namanya. Zakheus dihargai sebagai pribadi. Yesus memandangnya pertama-tama sebagai person, seorang yang berpotensi “benar dan bersih”, sesuai dengan namanya! Yesus mau menumpang di rumahnya. Perjumpaan itu jelas bukan kebetulan, namun telah tercatat dalam agenda Tuhan: “hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”. Zakheus pun segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita di rumahnya. Berawal hanya ingin melihat Yesus lewat, akhirnya justru menerima Yesus yang berhenti dan menumpang di rumahnya. Misinya tercapai melebihi ekspektasi.

Tetapi cara melihat orang banyak tidak berubah: bagi mereka, Zakheus tetaplah “seorang pendosa”. Cara-pandang yang dipenuhi asumsi, cap dan stigma. Sekali berdosa, tetap berdosa! Seorang Yahudi yang saleh, apalagi Rabi seperti Yesus, tidak layak bergaul apalagi menumpang di rumahnya! Betapa mudahnya manusia mencap dan mengadili sesama. Betapa sukarnya manusia memberi peluang, melihat potensi dan menerima pertobatan sesamanya!

Zakheus pun berdiri dan mulai berbicara. Kalimat pertama dari mulutnya! Proyek konkret dia tandaskan: pertama, setengah hartanya untuk orang miskin. Kedua, kalau ada yang pernah diperas, akan dikembalikannya 4 kali lipat! Cara-pandangnya tentang bisnis dan harta total berubah: dari menumpuk, menjadi berbagi; dari merugikan, menjadi memulihkan. Sesama diperlakukan sebagai rekanan, bukan obyekan! Itulah wujud konkret ‘pertobatan’nya: mengubah visi, cara-memandangnya tentang pekerjaan, harta dan sesamanya!

Yesus pun memberikan kata-akhir tentang jati-diri Zakheus: dia juga termasuk “Anak Abraham”, pewaris janji-keselamatan yang dahulu diberikan Allah kepada Abraham, yang sekarang dibawa dan dihadirkan oleh Yesus. Zakheus adalah manusia “hilang” yang sudah dicari dan ditemukan kembali serta diselamatkan oleh Yesus, Sang Anak Manusia! Misi dan pencarian Zakheus tercapai: ia bertemu dengan Yesus. Akan tetapi, bukan sekedar bertemu dengan Yesus si selebritis yang kebetulan lewat, tetapi berjumpa dengan Yesus, TUHAN dan Sang Penyelamat.

Labelling orang banyak kerap menyebabkan seseorang memandang diri sendiri separuh harga, tidak pantas, lalu enggan bergabung dengan kerumunan. Namun, asumsi negatif, cap dan stigma tidak dapat menolong seseorang berbalik dari kedosaan. Tuhan punya cara berbeda, Ia menghampiri, menyapa secara pribadi, membuka peluang perjumpaan hati yang akhirnya menggetarkan nurani dan menghidupkan cinta si pendosa. Zakheus pun dapat melihat “kebaikan dan kebenaran” yang ada dalam dirinya. Cinta Yesus menyembuhkannya, membuatnya pun mampu mencintai sesama.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s