Mengenang Arwah – Melempar Jangkar ke Surga

Homili Paus dalam Misa bagi Jiwa-Jiwa: Tempat Umat Kristiani berada di tangan Tuhan yang terluka
Untuk Hari Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Paus Fransiskus mempersembahkan Misa Kudus di Katakombe Priskila di Roma.

Mengunjungi katakombe untuk pertama kalinya, Paus Fransiskus mempersembahkan Misa bagi jiwa-jiwa semua umat beriman pada Hari Semua Jiwa.

“Perayaan pesta untuk semua orang meninggal di katakombe, memiliki beberapa makna”. Secara khusus, hal ini mengingatkan kita pada orang-orang yang telah dianiaya karena iman – tidak hanya orang Kristiani kuno, tetapi orang Kristiani masa kini, yang harus berpura-pura mengadakan pesta atau merayakan ulang tahun agar dapat berpartisipasi dalam liturgi. Bapa Suci mengingat sekali lagi bahwa ada banyak tempat, bahkan hingga hari ini, realitas yang ada; bahkan ada lebih banyak orang Kristiani yang dianiaya dewasa ini dibandingkan pada zaman penganiayaan.

Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus memusatkan perhatian pada tiga kata: identitas, tempat, dan harapan.

Sabda Bahagia: identitas orang Kristiani
Identitas seorang Kristiani, sekarang ini sama dengan dulu di masa lalu. “Identitas orang Kristiani adalah: Sabda Bahagia. Tidak ada yang lain”. Dan untuk lebih memahami hal ini, Paus menunjuk ke bagian Injil yang lain, pasal dua puluh lima dari Matius, di mana Yesus berkata bahwa kita akan diadili berdasarkan pada bagaimana kita memperlakukan “saudara-saudaraku yang paling hina ini”. “Melalui dua bagian ini, Sabda Bahagia dan protokol agung [Matius 25], kita akan tunjukkan, dengan menjalaninya, identitas kita sebagai orang Kristiani”.

Di tangan Tuhan
Katakombe mengingatkan kata kedua, “tempat”. Di mana “tempat” bagi orang Kristiani? Merujuk pada Kitab Kebijaksanaan 3:1, Paus Fransiskus berkata “tempat orang Kristiani ada di tangan Tuhan, di mana Tuhan menginginkan [mereka]”. Tangan Tuhan, adalah tangan-tangan “terluka” Yesus, satu-satunya Anak Bapa, yang “ingin membawa luka-luka itu kepada-Nya sehingga dapat dilihat oleh Bapa dan Ia menjadi perantara bagi kita”.

Harapan kita ada di surga
Orang-orang Kristiani, dengan kartu identitas mereka, dan keamanan di tangan Tuhan, “adalah laki-laki dan perempuan harapan”. Kata ketiga ini dapat ditemukan dalam bacaan untuk hari itu, yang berbagi “visi akhir di mana semuanya dibuat kembali, di mana semuanya diciptakan kembali, tanah air tempat kita semua akan pergi”. Dengan menggunakan analogi sebuah jangkar, “harapan kita ada di surga, harapan kita ada di sana, dan kita, dengan tali di tangan kita, menopang diri kita sendiri dengan melihat tepi sungai yang harus kita lintasi”.

Sekalipun kita tidak dapat melihat sisi yang lainnya (seberang), kita harus berpegangan pada tali. “Ini penting, berpegang teguh pada tali!” Seringkali, “kita hanya melihat tali, bahkan bukan pada jangkar, atau pantai lainnya… tetapi dengan berpegangan pada tali, Anda akan tiba dengan selamat” di sisi lainnya.

03 November 2019
Oleh: Christopher Wells
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s