Apa Hikmah Pesta Pemberkatan Basilika Lateran

Renungan Harian Misioner
Sabtu Biasa XXXI, 09 November 2019
Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran
Yeh. 47:1- 2,8-9,12 atau 1Kor. 3:9b-11,16-17; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 2:13-22

Sahabat-sahabat Tuhan Ytk! Selamat jumpa lagi di pekan kedua di Bulan November 2019 ini. Berkenaan dengan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran, kita diajak merenungkan hikmah di balik pesta ini dan hubungannya dengan Sabda Tuhan hari ini. Pertanyaan mendasar yang hendak kita dalami adalah mengapa Pemberkatan Basilika Lateran perlu dipestakan setiap tahun dan apa hubungannya dengan Sabda Tuhan hari ini?

Paling kurang ada dua fakta sejarah di balik Basilika Lateran yang bisa membantu kita menemukan jawaban atas pertanyaan reflektif tersebut. Pertama, Basilika ini merupakan basilika pertama dalam sejarah Gereja Katolik yang dibangun di atas reruntuhan benteng kekaisaran Romawi. Benteng kokoh yang dibangun Septimius Severus pada tahun 194 tersebut diruntuhkan oleh pasukan Kaisar Konstantinus Agung yang berhasil mengalahkan pasukan Maxentius dalam Perang Jembatan Milvian. Sebuah simbol akan kesementaraan dan kerapuhan hal-hal duniawi termasuk kekuasaan duniawi yang pada gilirannya akan digantikan oleh hal-hal sejati dan kekuasaan Allah sendiri.

Kedua, di samping bangunan Gereja pertama yang dibangun setelah benteng diruntuhkan, dibangun pula istana Kekaisaran dan ditempati oleh Suku Laterani yang pada saat itu bertugas sebagai administrator Kekaisaran. Dalam perjalanan waktu, istana ini diambil oleh pihak Kekaisaran karena Plautius Laterani yang saat itu bertugas sebagai administrator kekaisaran dicurigai bersekongkol mengkhianati Kaisar. Dan penguasaan Istana Lateran ke tangan Kekaisaran sepenuhnya terjadi pada saat Kaisar Contantinus I menikahi istri keduanya, Fausta, saudari Maxentius.

Dalam perjalanan waktu, Istana yang pada saat itu bernama “Domus Fausta (Rumah Fausta) didonasikan seluruhnya kepada Uskup Roma yang pada masa itu dijabat oleh Paus Militiades dan digunakan pertama kali sebagai tempat pertemuan para Uskup pada tahun 313. Setelah diadakan pemugaran sekian lama akhirnya Paus Slivester I meresmikan Gereja Lateran itu sebagai Basilika Lateran dan mengganti nama Domus Fausta menjadi Domus Dei (Rumah Allah) dan didedikasikan kepada Kristus, Sang Penebus.

Inilah Basilika pertama dalam sejarah Gereja Katolik yang menjadi simbol persatuan antara Allah dan umat-Nya, serta simbol persatuan Gereja Katolik Roma di seluruh dunia. Maka peristiwa Pemberkatan Basilika Lateran diperingati setiap tahun oleh Gereja Katolik demi memperteguh rasa persatuan di antara semua umat Katolik di seluruh dunia. Maka Gereja memilih teks-teks Biblis yang berkaitan dengan Bait Allah guna mempertegas peran Gereja sebagai simbol kehadiran dan peran dalam hidup umat-Nya.

Penglihatan Nabi Yehezkiel mengingatkan kita pada peran Allah sebagai Benteng kehidupan kita dan Bait Kudus yang mengalirkan sumber berkat dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Demikian pun tulisan St. Paulus mengingatkan kita juga bahwa kita adalah Bait Allah (Domus Dei) tempat tinggal Roh Allah. Maka kita perlu membuka diri bagi Roh Allah untuk mendiami, menguasai dan membimbing hidup kita sehingga menghasilkan buah-buah Roh kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam hidup kita.

Kelalaian memperhatikan hal ini bisa membuat kita seperti orang-orang Yahudi pada masa Yesus yang menjadikan Bait Allah sebagai tempat mengejar impian-impian duniawi. Kealpaan kita memberi tempat bagi Allah dan Roh dalam diri dan hidup kita, akan mengubah Domus Dei kita menjadi ‘domus fausta’. Maka sikap tegas Yesus menjadi bahan refleksi bagi kita.

Kekokohan Domus Dei sebagai benteng dan Bait Allah dalam diri dibangun seiring kesadaran kita akan peran Allah sebagai benteng hidup dan sumber yang mengalirkan berkat dan rahmat bagi kita. Semakin kita bertumbuh dalam pengenalan dan pengakuan akan peran Tuhan dan bimbingan Roh-Nya dalam hidup kita, bangunan Bait Allah dalam diri kita semakin dikokohkan, dan pada waktunya kita menjadi aliran sumber berkat dan rahmat melalui hidup dan karier pengabdian kita.

Semoga Pesta Pemberkatan Basilika Lateran ini mengajak kita berani meruntuhkan benteng-benteng duniawi yang mungkin ada dalam kehidupan kita dan menggantinya dengan benteng-benteng surgawi. Kita juga diajak berani mengubah ‘domus fausta’ keduniaan yang ada dalam diri dan hidup kita menjadi Domus Dei sehingga diri dan hidup kita menjadi suatu aliran rahmat dan berkat Tuhan bagi sesama melalui kesaksian dan pengabdian kita.

Saya menutup refleksi biblis ini dengan lirik lagu yang cukup terkenal di kalangan umat Katolik Indonesia: BETAPA INDAH RUMAH-MU TUHAN:
1. Betapa indah rumah-Mu Tuhan, Raja alam raya. Burung pipit serta layang-layang Kau berikan sarang. Betapa kurindu tinggal di rumah-Mu, sorak dan sorai bagi-Mu.
2. Bahagia yang senantiasa datang ke rumah, tempat tangis jadi mata air mengalirkan rahmat. Langkah makin gagah, tiada pernah lelah, Tuhan menyambut datangnya.
3. Ya Tuhan dengarkanlah doaku, pandang niat kami, kami rela nanti saat-Nya masuk ke rumah-Mu, Dikaulah bentengku, Allah perisaiku, kami percaya selalu.

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s