Stop Membuang Orang!

Paus mendesak untuk memberi kesempatan bagi tahanan memperbarui diri dan berintegrasi kembali
Paus Fransiskus pada hari Jumat bertemu dengan sekitar 50 orang peserta dalam sebuah konferensi internasional tentang pelayanan pastoral Gereja Katolik di penjara.

Paus Fransiskus mendesak perubahan pandangan dan pendekatan dalam memperlakukan tahanan yang harus ditawarkan kesempatan yang sama untuk reformasi, pengembangan, dan reintegrasi.

Paus membuat pernyataan itu kepada para peserta dalam konferensi internasional dengan tema, “Pembangunan Manusia Integral dan Pelayanan Pastoral Katolik di Penjara”. Pertemuan tanggal 7 – 8 November itu diselenggarakan oleh Dikasteri Vatikan untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral.

Perkembangan manusia yang integral
Paus mengatakan, “Banyak kali masyarakat, melalui keputusan legalistik dan tidak manusiawi, dibenarkan oleh tujuan mencari kebaikan dan keamanan, melakukan isolasi dan menahan mereka yang bertindak melawan norma sosial, menjadikan itu sebagai solusi utama untuk masalah kehidupan bermasyarakat.”

Paus menyesalkan bahwa sejumlah besar sumber daya publik dialokasikan untuk menekan para pelanggar aturan tersebut daripada digunakan untuk benar-benar mencari promosi pengembangan integral manusia, yang dapat mengurangi penyebab/sumber yang mendorong terjadinya tindakan ilegal.

Paus berkata, “Lebih mudah dan nyaman untuk menekan daripada mendidik, menyangkal ketidakadilan yang ada di masyarakat dan untuk menciptakan ruang-ruang ini untuk menyingkirkan para pelanggar dalam kelompok yang terlupakan daripada menawarkan kesempatan yang sama untuk bisa berkembang bagi semua warga negara.” Paus mengatakan ini adalah “Cara mendidik bagaimana membuang orang”.

Reintegrasi
Paus Fransiskus mencatat bahwa tempat-tempat penahanan sering gagal mempromosikan reintegrasi ke dalam masyarakat karena mereka kekurangan sumber daya yang memadai dan juga karena kepadatan yang berlebihan yang telah mengubah penjara menjadi tempat nyata dari apa yang disebut Paus sebagai, “depersonalisasi”. Sebaliknya, reintegrasi sosial yang sesungguhnya, dimulai dengan menjamin peluang untuk pembangunan, pendidikan, pekerjaan yang layak, akses ke layanan kesehatan, serta menghasilkan ruang publik bagi partisipasi masyarakat.

Paus mendesak masyarakat saat ini untuk mengatasi stigmatisasi seseorang yang telah melakukan kesalahan karena, “alih-alih menawarkan bantuan dan sumber daya yang memadai untuk menjalani kehidupan yang bermartabat, kita terbiasa membuang orang itu daripada melakukan upaya bagi mereka untuk dapat kembali kepada cinta Tuhan di dalam hidupnya.”

Seringkali, seseorang yang keluar dari penjara menghadapi dunia asing yang tidak menerimanya sebagai orang yang dapat dipercaya, yang menyangkalnya, dan tidak memperoleh kemungkinan bekerja untuk mendapatkan penghidupan yang bermartabat.

Dengan demikian, orang-orang ini dicegah untuk mendapatkan kembali martabat mereka sepenuhnya, Paus memperingatkan, mereka sekali lagi terekspos pada bahaya kurangnya kesempatan pembangunan, di tengah-tengah kekerasan dan ketidakamanan.

Bapa Suci mengatakan bahwa para tahanan ini, yang telah menjalani hukuman mereka atas kejahatan yang dilakukan, tidak boleh dikenai hukuman sosial baru dengan penolakan dan ketidakpedulian. Keengganan semacam itu, memaparkan mereka untuk jatuh kembali pada kesalahan yang sama.

Jendela dan cakrawala
Mengesampingkan teks bahasa Spanyol yang telah disiapkannya, Paus menawarkan kepada para peserta dua gambar untuk dibawa pulang ke negara dan wilayah mereka. Pertama, seseorang tidak dapat berbicara tentang pembayaran hutang para tahanan tanpa menawarkan mereka sebuah jendela dan seseorang tidak dapat mengubah hidupnya jika tidak melihat cakrawala. Paus meminta para peserta untuk memastikan penjara mereka selalu memiliki jendela dan cakrawala. “Bahkan hukuman seumur hidup, yang bagi saya masih bisa diperdebatkan, harus memiliki cakrawala.”

Gambar kedua diambil dari pengalaman Paus sendiri di Penjara Devoto di kota asalnya, Buenos Aires, di mana ia biasa melihat barisan panjang para ibu dari para tahanan yang menjadi sasaran pemeriksaan keamanan, yang seringkali tampak memalukan. Demi anak-anak mereka, para perempuan ini tidak malu dilihat oleh semua orang. Paus mendesak agar Gereja belajar tentang bagaimana menjadi ibu dari para perempuan ini bagi saudara-saudari yang sedang berada dalam tahanan.

08 November 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s