Jagalah Dirimu!

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan Biasa XXXII, 11 November 2019
PW. St. Martinus dari Tours, Uskup
Keb. 1:1-7; Mzm. 139:1-3,4-6,7-8,9- 10; Luk. 17:1-6

Jagalah dirimu! Demikian, pernyataan Tuhan Yesus setelah memberitahu murid-murid-Nya perihal penyesatan. “Tak mungkin tidak akan ada penyesatan!” (Luk. 17:1). Penyesatan merupakan tindakan-tindakan yang membuat orang lain meninggalkan jalan yang benar atau sesuatu yang menyebabkan seseorang berbuat dosa karena pikiran, sikap, dan teladan sehingga mengakibatkan hukuman yang berat. Yesus tidak sedang membicarakan penyesatan dalam kehidupan jasmani seperti sesat di hutan, tetapi penyesatan dalam kehidupan rohani. Kesesatan rohani disebabkan oleh kuasa kejahatan (iblis). Iblislah senantiasa menghendaki manusia tersesat secara rohani sehingga manusia tidak mengerti arah hidup, tidak mengerti kehendak Allah, dan tidak mengerti hal yang benar dan salah.

Pernyataan Yesus “jagalah dirimu” diikuti dengan pernyataan: “Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia. Dan jika ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jika ia berbuat dosa terhadapmu tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata, ‘Aku menyesal’, engkau harus mengampuni dia” (Luk. 17:3-4). Apa hubungan antara tindakan “menjaga diri” dengan tindakan “menegur dan mengampuni” saudara yang berbuat dosa? Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa tanggung jawab kepada saudara – sesama – yang lemah, yang mudah dipengaruhi oleh berbagai godaan atau bujukan jahat, dan yang tidak berdaya merupakan tanggung jawab moral yang tidak boleh kita abaikan. Setiap orang beriman dipanggil untuk melindungi sesama yang lemah dari kemungkinan perbuatan jahat. Selain itu, kita dipanggil untuk berbela rasa kepada sesama agar mereka dilindungi dari berbagai kemungkinan batu sandungan atau skandal yang bakal mendatangkan hukuman dan penderitaan. Selanjutnya, Yesus mengingatkan para murid-Nya dulu dan kita yang hidup zaman ini untuk senantiasa mampu menunjukkan kemurahan dan pengampunan.

Apabila kita tidak menegur dan mengampuni “sesama” yang berbuat dosa, kita sebenarnya termasuk orang yang melakukan penyesatan. Mengapa? Dengan tidak menegur sesama yang berbuat dosa, sebenarnya kita membiarkan orang itu disesatkan oleh kekuatan jahat, kita membiarkan orang berjalan di jalan yang salah, kita membiarkan orang itu menjauh dari Allah. Demikian pula, dengan tidak mengampuni sesama yang berbuat dosa, kita sebenarnya sedang bekerja sama dengan kuasa kejahatan untuk menggiring orang itu kepada hukuman dan penderitaan.

Tentu, bukanlah sesuatu yang gampang untuk menegur dan mengampuni sesama yang berbuat dosa, apalagi teguran dan pengampunan dilakukan secara terus-menerus tanpa batas. Murid-murid Yesus pun merasakan beratnya beratnya perintah Yesus sehingga mereka minta supaya Yesus menambahkan iman mereka. Iman, sekecil apa pun akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi berbagai wujud penyesatan dan untuk menghindarkan diri dari pikiran, sikap dan tindakan yang menyesatkan orang lain.

Bagaimana cara kita menjaga diri? Pertama, kita tidak menjadikan diri kita sebagai penyesat sesama kita, yaitu dengan cara menegur dan mengampuni mereka yang berbuat dosa. Apabila kita membiarkan sesama tetap berada di jalan yang salah atau tetap menjauhkan dirinya dari Allah, Bapa Yang Mahamurah, kita sebenarnya secara tidak langsung termasuk dalam golongan penyesat yang disebut “celaka” oleh Yesus. Kedua, kita tidak membiarkan diri menjadi korban penyesatan, yaitu dengan mencintai kebenaran, mengarahkan pikiran kita kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan mencari Dia dengan tulus hati (Keb. 1:1). Apabila kita berjuang melakukan itu, kita pun akan sanggup menghadapi berbagai bentuk penyesatan yang menjauhkan kita dari Allah dan Yesus Putera-Nya.

Hari ini, kita memperingati St. Martinus dari Tours, Uskup. Kisah hidupnya memperlihatkan bahwa St. Martinus sungguh-sungguh pribadi yang mencintai kebenaran, pribadi yang senantiasa mengarahkan pikirannya kepada Allah, dan pribadi yang senantiasa mencari dan menemukan Yesus dalam diri sesama. Cita-cita ayahnya yang menghendaki Martinus menjadi perwira Romawi tidak menyesatkan panggilan hidupnya, yakni menjadi “tentara” Kristus. Penilaian atasan dan teman-temannya atas dirinya sebagai pengecut ketika ia mengundurkan diri dari dinas militer Romawi tidak menyesatkan keputusannya untuk berdiri di garis terdepan demi membela ajaran iman yang benar. Ia amat giat mewartakan Yesus melalui khotbah-khotbahnya. Ketika menjadi uskup, St. Martinus tidak disesatkan oleh kemewahan duniawi. Ia tidak mempunyai istana yang istimewa atau megah, hanya sebuah bilik sederhana di samping sakristi Gereja. Ia berjalan kaki, naik keledai atau dengan perahu layar untuk mengunjungi semua desa di keuskupannya. Ia berani melawan penguasa yang sesat demi membela kebenaran dan keadilan.

Semoga berkat doa dan teladan hidup St. Martinus, kita pun mampu menjaga diri dari berbagai bentuk penyesatan dan tidak melibatkan diri dalam berbagai pikiran, sikap dan tindakan yang menyesatkan sesama.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s