Yesus Si RAJA yang Tersalib

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XXXIV, 24 November 2019
HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
2Sam. 5:1-3; Mzm. 122:1-2,4-5; Kol. 1:12- 20; Luk. 23:35-43

Penyaliban bukanlah hukuman biasa. Itu bentuk hukuman luar-biasa, yang dikhususkan kepada musuh negara Roma, para pemberontak kelas kakap. Biasanya proses penyaliban itu sengaja dijadikan display: si terdakwa diarak di jalanan, lalu disalibkan di pinggir kota, supaya dapat disaksikan oleh banyak orang. Pesan penguasa Roma jelas: setiap pemberontak akan mengalami nasib yang sama. Jadi, jangan coba-coba! Salib adalah pameran penghinaan, display penderitaan dan perendahan paling ekstrim. Aneh bin ajaib, bagi iman Kristiani momen itu justru menjadi saat si Terdakwa menjadi Raja, saat si Terhina menjadi Yang Termulia! Dialah Raja dan Penguasa yang sangat tidak biasa!

Pertama, Dialah Raja yang berdoa mohon pengampunan bagi para musuh-Nya. Selama hidup-Nya, Yesus senantiasa berdoa dan mewartakan serta menawarkan pengampunan Bapa kepada manusia pendosa (Luk. 6:37). Itulah yang juga dibuat-Nya di akhir hayat-Nya. Di mata Tuhan, kejahatan manusia banyak kali karena ketidaktahuan, bukanlah kesengajaan (bdk. Kis. 3:17). Oleh karena itu, Yesus tidak berhenti memohonkan pengampunan Bapa bagi manusia. Di tengah dunia yang penuh dendam dan berlogika balas-dendam, sang Raja mengajarkan kasih dan pengampunan tanpa batas. Musuh diampuni, lawan didoakan!

Kedua, Dialah Raja yang tidak hanya mengajar, tetapi menjalankan ajaran-Nya. Dalam penderitaan dan penghinaan akibat ketidakadilan, Dia mempraktikkan apa yang pernah diajarkan-Nya: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk. 6:27-28). Dialah Raja yang mengajarkan kesejatian: hidup yang selaras antara kata dan perbuatan. Ajaran-Nya bukan sekedar pepesan kosong belaka.

Ketiga, Dialah Raja yang menyelamatkan manusia lewat salib dan kematian-Nya. Tiga olokan terhadap-Nya: dari para pemimpin, prajurit dan salah seorang penjahat, semuanya berkaitan dengan verba “menyelamatkan” (ay. 35, 37, 39). Bagi mereka, Raja harus menyelamatkan rakyatnya dengan kekuatan. Raja harus jaya dan mengalahkan lawan. Yesus menjadi Raja justru dengan jalan sebaliknya. Kuasa dan kehebatan-Nya sebagai Raja tidak perlu dipamerkan dengan turun dari salib. Ia menjadi Raja dengan tetap tergantung di salib: sarana hukuman, siksaan dan penistaan. Namun semua penderitaan itu dilewatinya sebagai orang benar. Ia akhirnya dihukum mati, setelah tiga kali dinyatakan tidak bersalah (Luk. 23:4, 14, 22). Ia mau menjadi senasib dengan siapa-saja yang disiksa, ditindas dan direndahkan secara tidak adil.

Keempat, Dialah Raja yang memberi keselamatan “hari ini”. Ia menjanjikan keselamatan kepada si penjahat yang bertobat, pada hari itu juga, langsung setelah kematiannya (ay. 43). Tuhan tidak menjanjikan keselamatan nanti tetapi kini, saat Saya dan Anda mau mengakui kesalahan, menerima pengampunan-Nya dan mengakui kebenaran dari Dia, Sang Raja Penyelamat (ay. 41). Pada saat itulah, kendati dengan semua ancaman, penderitaan dan ketidakadilan, kita semua akan menerima keselamatan-Nya. Pada momen itulah, di mana kita mengakui dan membiarkan Dia merajai hidup kita, dalam seluruh suka-duka keseharian kita, Firdaus tidak lagi jauh, tetapi sungguh terjangkau, bukan nanti tetapi sekarang!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s