Tuhan, Jadikan Aku Pembawa Damai

Paus di Nagasaki, kita tidak bisa mengulangi kesalahan masa lalu
Pada pukul 11:02 pagi hari tanggal 9 Agustus 1945, bom atom meledak di Nagasaki, Jepang. Sepertiga dari kota itu hancur dan sekitar 150.000 orang tewas atau terluka. Banyak yang meninggal setelah pengeboman itu akibat dari keracunan radioaktif.

Hari ini, sebuah monumen peringatan untuk perdamaian menandai tempat di mana bom tersebut jatuh.

Monumen Perdamaian
Paus Fransiskus mengunjungi Monumen Perdamaian di Nagasaki pada hari Minggu pagi. Paus meletakkan bunga di kaki monumen, dan mengingatkan bagaimana “Tempat ini membuat kita bbenar-benar menyadari rasa sakit dan kengerian yang kita manusia mampu timbulkan pada satu sama lain.”

Di samping lokasi Bom Atom berdiri sisa-sisa Katedral Urakami. Dulunya merupakan Gereja terbesar di Asia Timur, kini telah benar-benar hancur oleh bom.

Dalam pidatonya, Paus Fransiskus mengacu pada salib dan patung Bunda Maria rusak yang baru-baru ini ditemukan di situs katedral: “Mereka mengingatkan kita sekali lagi akan penderitaan mengerikan yang tak terkatakan yang dialami para korban pemboman dan keluarga mereka”.

Sebuah rasa aman palsu
“Salah satu keinginan terdalam hati manusia adalah memperoleh rasa aman, kedamaian dan stabilitas. Kepemilikan senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya bukanlah jawaban untuk keinginan ini.”

Paus Fransiskus merenungkan bagaimana “dunia kita ditandai dengan dikotomi sesat yang mencoba untuk mempertahankan dan memastikan stabilitas dan perdamaian melalui rasa aman palsu ditopang oleh mentalitas ketakutan dan ketidakpercayaan, yang ujungnya sampai meracuni hubungan antara manusia dan menghalangi bentuk apapun dari dialog.”

Perdamaian dan stabilitas internasional, “dapat dicapai hanya dengan dasar etika global solidaritas dan kerja sama dalam pelayanan untuk masa depan yang dibentuk oleh saling ketergantungan dan tanggung jawab bersama untuk seluruh keluarga manusia saat ini dan esok.”

Sebuah pemborosan sumber daya
Paus Fransiskus menegaskan kembali bahwa “perlombaan senjata memboroskan sumber-sumber berharga yang sebenarnya bisa digunakan lebih baik untuk kepentingan pengembangan integral dari masyarakat dan untuk melindungi lingkungan alami.

Dalam dunia di mana jutaan anak-anak dan keluarga hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi, uang disia-siakan dan kekayaan dihasilkan melalui pengerjaan, perbaikan, pemeliharaan dan penjualan senjata yang lebih merusak lagi, merupakan sebuah jeritan penghinaan ke surga.”

Sebuah Iklim ketidakpercayaan
Jika kita ingin membangun dunia yang damai, bebas dari senjata nuklir, kita harus melibatkan semua orang, “individu, komunitas agama dan masyarakat sipil, negara-negara yang memiliki senjata nuklir dan juga mereka yang tidak, pihak militer dan sektor swasta; serta organisasi internasional.”

Paus Fransiskus menyerukan sebuah respon “bersama dan terpadu” terhadap ancaman senjata nuklir, “terinspirasi oleh upaya sulit namun terus-menerus untuk membangun rasa saling percaya dan dengan demikian mengatasi iklim ketidakpercayaan yang ada saat ini.”

“Kita menyaksikan sebuah erosi multilateralisme yang kesemuanya lebih serius mengingat pertumbuhan bentuk-bentuk baru dari teknologi militer”, lanjut Paus, menjelaskan bahwa pendekatan ini “sangat aneh dalam konteks keterkaitan saat ini.”

Komitmen Gereja
Paus Fransiskus meneguhkan komitmen Gereja Katolik untuk mempromosikan perdamaian antara bangsa dan negara, dan menyebutnya “tugas yang mana Gereja merasa terikat di hadapan Allah dan setiap orang di dunia kita.”

“Semoga doa, usaha tak kenal lelah dalam mendukung perjanjian, dan desakan dialog menjadi ‘senjata’ yang paling kuat di mana kita menaruh kepercayaan dan inspirasi dari upaya kita untuk membangun sebuah dunia dari keadilan dan solidaritas yang dapat menawarkan jaminan perdamaian yang otentik.

Sebuah tantangan bagi setiap orang
Paus Fransiskus mengatakan ia yakin bahwa sebuah dunia tanpa senjata nuklir adalah mungkin dan diperlukan, karena itu “kita perlu merenungkan dampak bencana penyebaran senjata nuklir, terutama dari sudut pandang kemanusiaan dan lingkungan, dan menolak mempertinggi iklim ketakutan, ketidakpercayaan dan menimbulkan permusuhan karena doktrin nuklir. “

Tugas untuk menciptakan alat yang memastikan kepercayaan dan perkembangan timbal balik merupakan tantangan dan keprihatinan kita semua.”

“Tidak ada yang bisa mengabaikan rasa sakit jutaan manusia yang menderita masalah hati nurani di zaman sekarang ini. Tidak ada yang bisa menulikan telinga terhadap permohonan dari saudara-saudara kita yang membutuhkan. Tidak ada yang bisa menutup mata terhadap kehancuran yang disebabkan oleh sebuah budaya ketidakmampuan berdialog.”

Para Pembawa Damai
Paus mengundang semua orang untuk berdoa setiap hari “untuk perubahan hati dan untuk kemenangan dari budaya kehidupan, rekonsiliasi dan persaudaraan. Sebuah persaudaraan yang dapat mengenali dan menghormati keberagaman dalam upaya untuk memperoleh nasib yang sama.”

Paus Fransiskus mengakhiri dengan mengutip doa damai Santo Fransiskus Asisi:

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai,
bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan,
bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan.

“Di tempat istimewa akan kenangan ini yang membangkitkan kita dari ketidakpedulian kita, semua itu akan lebih berarti bila kita berpaling kepada Allah dengan iman, memohon pada-Nya untuk mengajari kita menjadi pembawa damai yang efektif dan untuk melakukan segala upaya agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.”

24 November 2019
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s