“Yesus, Ingatlah Akan Aku”

Homili Paus di Nagasaki: belas kasih adalah cara otentik untuk membentuk sejarah
Merayakan Misa publik pertama di Jepang pada Pesta Kristus Raja di hari Minggu, Paus Fransiskus menarik perhatian pada sosok pencuri yang baik dalam Injil Lukas. Sikap dan pengakuan iman, membuat kengerian dan ketidakadilan Kalvari, menjadi pesan harapan bagi seluruh umat manusia.

Paus Fransiskus memilih pembelaan dari Pencuri Baik sebagai topik homilinya: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga, engkau akan ada bersama-sama Aku di dalam Firdaus.” itu adalah perkataan Yesus kepada si pencuri. “Dan tidak ada yang melebihi momen tersebut untuk meneguhkan seluruh makna hidup Yesus: selalu dan di mana pun menawarkan keselamatan,” kata Paus di Misa sore di Stadion Baseball Nagasaki.

Cinta mengatasi kebencian, keegoisan
”’Selamatkan dirimu sendiri!’ Teriakan-teriakan ejekan mencemooh ditujukan kepada korban penderitaan yang tidak bersalah, tidaklah akan menjadi kata yang terakhir. “Sebaliknya, ejekan itu akan membangkitkan respon dari orang-orang yang membiarkan hati mereka disentuh, yang memilih kasih sayang sebagai cara otentik untuk membentuk sejarah.”

St. Paulus Miki dan para sahabat serta ratusan martir yang memberikan hidup mereka sebagai saksi yang berani, mengundang kita mengikuti jejak mereka untuk mengakui dengan berani bahwa cinta dicurahkan di dalam pengorbanan bagi kita oleh Kristus yang disalibkan mampu mengatasi segala macam kebencian, keegoisan, dan ejekan. “Hal ini mampu mengalahkan semua bentuk pesimisme yeng tergesa-gesa atau kelambanan yang nyaman yang melumpuhkan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan baik.”

Mereka yang ditolak adalah Sakramen hidup dari Kristus Raja kita
Sebagai murid misionaris dan saksi serta bentara yang akan datang, kita tidak bisa mengundurkan diri ketika menghadapi kejahatan dalam berbagai bentuknya. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi ragi Kerajaan Kristus di mana pun kita berada: di dalam keluarga, di tempat kerja atau pun di masyarakat luas. Kita dapat menjadi saluran pembuka kecil di mana Roh dapat terus meniupkan harapan di antara orang-orang.

Kerajaan surga, tujuan kita bersama, tidak hanya mengenai esok melainkan juga hari ini, di tengah ketidakpedulian yang begitu sering mengelilingi kita dan membisukan yang sakit dan cacat, orang tua dan orang-orang yang ditinggalkan, para pengungsi dan pekerja imigran. Semua dari mereka, adalah sakramen Kristus yang hidup dari Raja kita, karena Yesus sendiri ingin dikenali di wajah mereka.

Keberanian untuk bersuara
Paus mencatat bahwa di Kalvari, sementara banyak suara tetap diam dan lain-lain mencemooh, suara pencuri baik terdengar membela korban tak berdosa dari penderitaan. “Ini adalah pernyataan iman yang berani, masing-masing dari kita memiliki kemungkinan yang sama, kita dapat memilih untuk tetap diam, untuk mengejek atau berbicara.”

Menarik perhatian pada Nagasaki, Paus mengatakan kota ini “menanggung di dalam jiwanya luka yang sulit sembuh, bekas luka yang lahir dari penderitaan tidak dipahami yang dialami oleh begitu banyak korban tak berdosa dari perang masa lalu dan orang-orang masa kini, ketika Perang Dunia Ketiga sedang dilancarkan sedikit demi sedikit.”

Seperti pencuri yang baik, “Mari kita mengangkat suara kita di sini dan berdoa bersama bagi semua orang yang sekarang telah menderita dalam daging mereka dari dosa ini yang berteriak ke surga.”

24 November 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s