Jumlah Versus Mutu

Renungan Harian Misioner
Senin Biasa XXXIV, 25 November 2019
Peringatan S. Katarina dr Aleksandria
Dan. 1:1-6,8-20; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; Luk. 21:1- 4

Dalam Bahasa Latin ada peribahasa “non multa sed multum”, yang berarti “bukan banyaknya jumlah tetapi mutu”. Banyaknya jumlah belum tentu bermutu dan yang bermutu belum tentu banyak jumlahnya. Dalam pengalaman hidup, manusia cenderung mengejar banyaknya jumlah atau mengutamakan kuantitas, bukan mutu, bukan kualitas. Kisah Daniel dengan kawan-kawan dalam bacaan pertama berbicara tentang manusia bermutu, yang jumlahnya tidak banyak. Mereka menjadi orang-orang pilihan karena memiliki kualitas di atas rata-rata. Mereka dilukiskan sebagai “pemuda-pemuda tidak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan luas dan mempunyai pengertian tentang ilmu”.

Ternyata kualitas Daniel dengan kawan-kawan, bukan hasil pemeliharaan istimewa dengan fasilitas memadai yang mereka terima, tetapi lebih karena karunia atau rahmat. Kendati mereka tidak makan-makanan bergizi, mereka tetap lebih sehat dan gemuk. Kemampuan Daniel, Hananya, Mizael dan Azarya tetap melampaui kemampuan para pemuda lainnya yang dipersiapkan intensif oleh istana Nebukadnezar. Mereka berkualitas karena karunia dan campur tangan YAHWEH. Mereka berkenan di hadapan raja Nebukadnezar melampaui pemuda lainnya.

Perkenanan mereka bukan pertama-tama hasil rekayasa manusia, tetapi lahir dari mutu atau kualitas diri mereka, yakni kualitas spiritual dan moral, hidup benar dan berkenan pada Allah. Itulah ukuran kualtas serta mutu mereka. Mereka tidak mengandalkan hal-hal yang dicari dan ditemukan manusia, tetapi mengandalkan rahmat yang memberi mereka kualitas hidup. Hidupnya tidak bersandar pada banyaknya sarana serta harta yang mereka miliki sebagai jaminan hidup, tetapi bersandar pada Allah sebagai satu-satunya sandaran dan sumber hidup mereka.

Mereka mengabdi dan bekerja dengan benar dan adil, demi pengabdian kepada Yahweh, bukan untuk mendapatkan hormat dan fasilitas dari sang raja Nebukadnezar yang memang memerlukan manusia bermutu dan berintegritas. Pilihan-pilihan yang mengutamakan kualitas dan integrirtas, saat ini lebih hanya sekedar wacana saja. Dalam kenyataannya orang tidak memperjuangkan mutu dan integritas, tetapi posisi, nama besar, pengaruh dan kekayaan. Semua itu mengelabui manusia, menjamin sarana dan fasilitas hidup yang nyaman, tetapi tidak menawarkan sesuatu yang bermutu, yang berkualitas dalam bentuk mutu, integritas serta kualitas diri seacara moral dan spiritual.

Demikian pula Injil hari ini, memberikan ilustrasi atau kisah inspiratif, di mana janda miskin yang hanya memberikan kolekte beberapa peser, dinilai lebih bermutu dan berkenan pada Allah, karena dia memberikan segalanya kepada Allah. Ia memberikan sandaran hidup seluruhnya, harta yang dia miliki diberikan kepada Allah dalam wujud derma ke dalam peti persembahan. Apa yang bernilai pada Allah, bukan banyaknya yang kita berikan tetapi kualitas pemberian yang merupakan simbol dari penyerahan diri seluruhnya kepada Allah.

Seringkali yang kita anggap banyak yang kita berikan pada Tuhan, sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari yang kita terima. Kita tidak mengembalikan semuanya. Si janda hanya memiliki sedikit, itulah seluruh hartanya dan dia serahkan semua kepada Allah. Yesus memuji si janda: “janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu… Ia memberi dari kekurangannya”. Memberi dari kekurangan selalu lebih mulia dan tulus, dibandingkan memberi banyak tanpa ketulusan dan totalitas. Ketika jumlah diperlawankan dengan mutu, maka mutu lebih utama dan bernilai di hadapan Tuhan.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s