Perangi ‘Ketidakpedulian’ dengan Bergandengan Tangan

Pesan Paus pada korban “tiga bencana beruntun” di Jepang: Kita merupakan bagian dari satu sama lain
Paus Fransiskus bertemu dengan korban gempa bumi, tsunami dan kecelakaan nuklir yang melanda kota Jepang Fukushima pada tahun 2011.

Para korban yang selamat dari gempa tsunami dan bencana nuklir yang melanda Jepang pada tahun 2011 berbagi pengalaman mereka pada hari Senin dalam pertemuan dengan Paus Fransiskus di Tokyo pada hari Senin.

Kesaksian mereka yang selamat
Guru TK Toshito Kato, yang kotanya tersapu oleh tsunami, mengatakan bahwa meskipun itu adalah bencana, “Saya telah memperoleh lebih dari apa yang telah hilang.” Dia berbicara mengenai “pentingnya mengajarkan pada anak-anak betapa berharganya kehidupan.”

Tokuun Tanaka, seorang biksu Buddha yang kuilnya tidak jauh dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima, ketika ditanya bagaimana caranya menanggapi bencana alam, mengatakan “butuh kejujuran dan perenungan yang rendah hati, pemahaman yang dalam, dan memutuskan apa yang seharusnya penting untuk dilakukan.” Dia menekankan, “Yang terpenting adalah mau mendengarkan suara bumi.”

Matsuki Kamoshita berusia delapan tahun ketika ia dan keluarganya dievakuasi ke Tokyo pasca kecelakaan nuklir di Fukushima. Dia mengatakan orang dewasa harus mengungkapkan kebenaran tentang efek dari kontaminasi radioaktif.

Dia meminta Paus Fransiskus untuk ikut berdoa, “sehingga kita dapat menghargai rasa sakit setiap dari kita dan mengasihi sesama kita.” Dan ia meminta, “Mari berdoa bersama kami agar orang-orang dari seluruh dunia akan berupaya untuk menghilangkan ancaman paparan radiasi dari masa depan kita.”

Harapan untuk masa depan yang lebih baik
Setelah mendengar kesaksian dari korban, Paus Fransiskus berterima kasih kepada mereka yang telah bersedia mengekspresikan “kesedihan dan rasa sakit”, juga “harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik.”

Paus meminta waktu sejenak untuk mengheningkan cipta sebelum ia melanjutkan, “agar kata pertama kita menjadi salah satu doa” bagi mereka yang meninggal, keluarga mereka, dan juga bagi mereka yang masih hilang. “Semoga doa ini mempersatukan kita dan memberi kita keberanian untuk melihat ke depan dengan harapan.”

Bersyukur untuk bantuan
Bapa Suci berterima kasih kepada mereka yang telah merespon dengan dukungan murah hati kepada para korban, baik berupa doa dan barang serta bantuan keuangan.

“Kita seharusnya tidak membiarkan tindakan amal ini hilang seiring berlalunya waktu atau menghilang begitu saja setelah kejutan awal, sebaliknya kita harus meneruskan dan mempertahankannya.” Paus mengimbau pada “semua orang baik untuk membantu para korban tragedi agar bisa terus menerima bantuan sangat mereka butuhkan.”

“Tak seorang pun membangun kembali hanya dengan dirinya sendiri
Paus menekankan akan kebutuhan yang paling mendasar, termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Ini, merupakan “panggilan untuk ikut mengalami solidaritas dan dukungan dari masyarakat. Tak seorang pun dapat ‘kembali membangun’ hanya dengan dirinya sendiri; tak seorang pun yang bisa memulai sendiri.”

Setelah memuji Jepang yang menunjukkan “bagaimana orang-orang bisa bersatu dalam solidaritas, kesabaran, ketekunan dan ketahanan”, Paus mengundang para pendengarnya “untuk bergerak maju setiap hari, sedikit demi sedikit, untuk membangun masa depan yang didasarkan pada solidaritas dan komitmen antara satu sama lainnya”.

Sebuah budaya yang mampu memerangi ketidakpedulian
Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan dari Tokuun tentang bagaimana menanggapi isu-isu utama seperti perang, pengungsi, makanan, kesenjangan ekonomi, dan tantangan lingkungan, dan mengatakan kita tidak bisa menghadapi masalah ini secara terpisah.

Kita harus mengakui bahwa semua tantangan ini saling berhubungan. Namun, “hal yang paling penting adalah untuk maju dalam membangun budaya yang mampu memerangi ketidakpedulian. Kita perlu bekerja sama mengasuh sebuah kesadaran bahwa jika salah satu anggota keluarga kita menderita, maka kita semua ikut menderita. Keterikatan yang nyata itu tidak akan terjadi kecuali jika kita mampu menumbuhkan kebijaksanaan akan kebersamaan.”

Penghapusan tenaga nuklir
Merenungkan terutama mengenai kecelakaan di pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Paus Fransiskus mengatakan bahwa selain masalah ilmiah dan medis, “juga ada tantangan besar lainnya untuk memulihkan struktur masyarakat.” Hal ini mengangkat isu kekhawatiran mengenai penggunaan tenaga nuklir yang berkelanjutan; dan Bapa Paus mencatat seruan Para Uskup Jepang untuk penghapusan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Dalam zaman di mana “ada godaan untuk membuat kemajuan teknologi dengan mengukur kemajuan manusia”, penting untuk berhenti sejenak dan merenungkan “siapa kita… dan kita ingin menjadi apa.”

Sebuah jalan baru untuk masa depan
Dalam pemikiran akan “masa depan rumah kita bersama, kita perlu menyadari bahwa kita tidak bisa membuat keputusan-keputusan egois, dan bahwa kita memiliki tanggung jawab besar akan keputusan-keputusan untuk masa depan.” Kesaksian dari masing-masing korban, mengingatkan kita pada kebutuhan untuk menemukan jalan baru bagi masa depan, sebuah jalan yang berakar dalam sikap menghormati setiap orang dan juga dunia yang alami.”

Bergandengan tangan, bersatu hati
Menutup pesannya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “dalam upaya yang sedang berlangsung bagi pemulihan dan membangun kembali setelah tiga bencana yang terjadi, banyak tangan harus bergandengan dan banyak hati harus bersatu” sehingga korban bencana dapat “didukung dan tahu bahwa mereka belum dilupakan.”

Sekali lagi berterima kasih pada semua orang yang “telah mencoba untuk meringankan beban para korban,” Bapa Paus menyatakan harapannya “bahwa belas kasih bisa menjadi jalan yang memungkinkan semua orang untuk menemukan harapan, stabilitas, dan keamanan untuk masa depan.” Dan Paus berdoa, “Semoga Tuhan mengaruniakan pada anda semua, dan orang-orang yang Anda cintai, berkat-berkat kebijaksanaan-Nya, kekuatan-Nya dan kedamaian-Nya.”

25 November 2019
Oleh: Christopher Wells
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s