Meneladani Yesus Memeluk Mereka yang Lemah

Homili Paus di Tokyo: Injil Kehidupan mendesak kita untuk menjadi “rumah sakit lapangan”
Paus Fransiskus merayakan Misa pada Senin sore di stadion Tokyo Dome. Dalam khotbahnya, Paus mengatakan bahwa kita perlu untuk meluruskan prioritas kita, sejalan dengan kehidupan Yesus.

Sebagai titik awal dari khotbahnya pada hari Minggu, Paus Fransiskus menarik perhatian pada Khotbah di Bukit, dan mengatakan hal tersebut menunjukkan keindahan jalan panggilan kita untuk bisa sampai kepada Yesus, di mana di dalam Dia kita memiliki kebebasan menjadi anak-anak yang dikasihi Allah.

Rintangan untuk menjadi anak-anak Allah
Namun sepanjang jalan, Paus mengamati, kebebasan menjadi anak-anak Allah dapat ditekan dan dilemahkan oleh lingkaran setan dari kecemasan dan kompetisi. Sebuah pengejaran yang hingar-bingar akan produktivitas dan konsumerisme menjadi satu-satunya kriteria untuk mengukur atau menentukan siapa kita atau apa yang pantas dari diri kita.

Paus memperingatkan bahwa kriteria ini perlahan-lahan membuat kita tidak peka terhadap hal-hal yang benar-benar penting dan merindukan hal-hal yang berlebihan atau fana.

Paus mencatat bahwa di Jepang, dengan ekonomi yang sangat maju, banyak orang yang secara sosial terisolasi di pinggiran yang tidak mampu memahami arti hidup dan keberadaan mereka. Paus menyesalkan bahwa rumah, sekolah dan masyarakat, yang dimaksudkan untuk menjadi tempat di mana kita mendukung dan membantu satu sama lain, sedang terkikis oleh persaingan yang berlebihan dalam mengejar keuntungan dan efisiensi. Akibatnya, banyak yang kehilangan perdamaian dan stabilitas mereka.

Menetapkan prioritas yang tepat
Sebagai penangkal ini, Paus Fransiskus menawarkan kata-kata Yesus setelah Khotbah-Nya di Bukit: “Jangan khawatir tentang kehidupan-Mu… tentang esok.” Paus mengatakan kata-kata ini bukanlah merupakan dorongan untuk mengabaikan apa yang terjadi di sekitar kita atau untuk tidak bertanggung jawab pada tugas-tugas sehari-hari. Sebaliknya, ini merupakan undangan untuk menempatkan prioritas kita secara tepat, sesuai dengan cara ini: “Carilah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dahulu, dan kemudian semua hal-hal ini akan menjadi milikmu juga”.

Dengan demikian, Tuhan mengundang kita untuk mengevaluasi kembali keputusan kita sehari-hari dan tidak terjebak atau terisolasi dalam mengejar kesuksesan dengan menempuh segala cara, termasuk dengan hidup kita sebagai bayarannya.

“Sikap duniawi yang hanya melihat laba atau keuntungan seseorang di dunia ini, dan sebuah keegoisan yang hanya mengejar kebahagiaan individu, pada kenyataannya meninggalkan kita diperbudak dan merasa sangat tidak bahagia, serta menghambat perkembangan otentik dari keharmonisan dan kemanusiaan masyarakat yang sesungguhnya.”

Merangkul kehidupan seperti hakikatnya
Kebalikan dari sebuah kondisi terisolasi, tertutup dan bahkan dari “Aku” yang sesak napas, adalah menjadi “kita” yang dibagikan, dirayakan dan dikomunikasikan. Dalam hal ini, “kepedulian otentik untuk kehidupan kita sendiri dan hubungan kita dengan alam tidak dapat terlepas dari persaudaraan, keadilan, dan kesetiaan kepada orang lain.”

Oleh karena itu, komunitas Kristiani diundang untuk melindungi semua kehidupan dengan kebijaksanaan dan keberanian serta bersaksi melalui cara hidup yang ditandai dengan rasa syukur dan kasih sayang, kemurahan hati dan mau mendengarkan. Komunitas Kristiani yang mampu merangkul dan menerima kehidupan seperti itu, dengan semua kesederhanaan dan kerapuhannya, seperti pada orang cacat atau lemah, orang asing, seseorang yang melakukan kesalahan, seseorang sakit atau dalam penjara.

Dalam hal ini, Yesus memimpin dengan memberikan teladan. Dia memeluk orang yang sakit kusta, yang buta, lumpuh, orang-orang Farisi, orang berdosa, pencuri di kayu salib dan bahkan mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya.

Komunitas Kristiani adalah sebuah rumah sakit lapangan
Paus mengatakan bahwa pewartaan Injil Kehidupan secara mendesak mengharuskan kita sebagai komunitas untuk menjadi rumah sakit lapangan, siap untuk menyembuhkan luka dan selalu menawarkan jalan rekonsiliasi dan pengampunan. Bagi orang Kristiani, satu-satunya yang mungkin menjadi ukuran yang kita dapat kita pakai dalam menilai setiap orang dan situasi adalah bahwa belas kasih Bapa diperuntukkan bagi semua anak-anaknya.

Dengan cara ini, kita bisa menjadi ragi kenabian bagi sebuah komunitas yang semakin melindungi dan peduli pada semua kehidupan.

25 November 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

One thought on “Meneladani Yesus Memeluk Mereka yang Lemah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s