Kita Semua Butuh Penyembuhan

Pesan Paus kepada Caritas Roma: Gila-gilaanlah dalam mencintai dan menolong orang lain
Jumat malam menjadi semacam pertemuan keluarga informal untuk Paus Fransiskus ketika ia mengunjungi “Cittadella della Carita – Santa Giacinta” (Benteng Cinta Kasih – St. Jacinta), sebuah pusat Caritas di Roma. Kunjungannya tersebut untuk memperingati 40 tahun Keuskupan Roma.

“Gila-gilaanlah dalam mencintai, tergila-gilalah dalam berbagi kerentanan diri dengan mereka semua yang rentan”. Ini adalah nasihat Paus Fransiskus, pada tanggal 29 November, kepada lebih dari seribu tamu, sukarelawan, animator, dan pekerja Caritas Roma, yang berkumpul di Cittadella della Carita.

Sangat tersentuh oleh kesaksian Ornella dan Alessio, seorang sukarelawan dan tamu yang diselamatkan dari jalan, Paus merenungkan kata “kerentanan”. Berbicara secara spontan, Paus menjelaskan bahwa kata itulah yang menyatukan kita semua, dan itu tidak sesuai dengan cara kita berpikir.

Baik mereka yang berteriak minta tolong dan mengetuk pintu, maupun mereka yang memiilih untuk membungkuk untuk menyentuh luka saudara-saudari mereka, mereka semua rentan.

“Kita semua rentan dan untuk dapat bekerja di Caritas, kita harus mengenali kata itu, menjadikannya bagian dari hati kita.” Seseorang yang meminta bantuan berarti ia mengatakan, “Saya rentan”, dan menolong siapapun artinya memberikan pertolongan itu dari kerentanan diri sendiri. “Ini adalah perjumpaan antara luka yang berbeda, kelemahan yang berbeda, tetapi kita semua lemah, kita semua rentan.”

Kerentanan Tuhan
Paus menjelaskan bahwa kesadaran akan kerentanan manusia ini berasal dari Tuhan yang telah lebih dulu menjadi rentan bagi kita. “Dia menjadi salah satu dari kita: Dia tidak memiliki rumah untuk dilahirkan, Dia menderita penganiayaan dan harus melarikan diri ke negeri lain. Dia miskin, menjadi seorang migran dan itulah yang menyebabkan kita bisa berbicara dengan-Nya tanpa rasa takut.”

“Kita memiliki kartu identitas yang sama: rentan, dicintai, dan diselamatkan oleh Tuhan,” seseorang tidak dapat membantu dan mendekati orang miskin dari kejauhan. “Kita harus menyentuh luka; mereka adalah luka Yesus. “

Luka-luka dan sakit kita
Dengan menyentuh luka-luka dan sakit dari sesama kita, membuat kita menyadari luka-luka dan sakit kita sendiri. Ini, adalah rahmat besar yang diungkapkan oleh orang miskin untuk kita – membuat kita menyadari kerentanan kita.

Setiap orang memiliki kerentanannya sendiri, tetapi sebutannya tetap sama: rentan. Hal ini menunjukkan bahwa kita semua membutuhkan keselamatan dan penyembuhan. “Dan Tuhan tidak membawa keselamatan hanya dengan perintah. Dia melakukannya dengan berjalan bersama kita, dengan mendekati kita di dalam Yesus. ”

Tergila-gila untuk mencintai
Lebih lanjut Paus Fransiskus menjelaskan bahwa satu-satunya proklamasi Injil Cinta Kasih yang mungkin adalah kesaksian, bukan proselitisme. Dalam hal ini, Paus memberikan contoh orang Samaria, yang meskipun bukan seorang religius, namun ia membantu orang yang terluka oleh perampok dan membawanya ke sebuah penginapan, membayar pemilik penginapan untuk merawat orang tersebut.

Pemilik penginapan itu, pasti mengira orang Samaria itu orang gila. “Kegilaan untuk mencintai, kegilaan dalam menolong, kegilaan untuk berbagi kerentanan diri dengan orang-orang yang rentan; bahkan sampai benar-benar menjadi gila. Inilah programnya: menjadi gila. Pikirkanlah mengenai penjaga penginapan tersebut.

30 November 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s