Berubah dan Berbuah

Renungan Harian Misioner
Minggu Adven II, 08 Desember 2019
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-2,7-8,12-13,17; Rm. 15:4-9; Mat. 3:1-12

Yohanes Pembaptis ditampilkan sebagai Pendahulu dari “Dia yang datang” (Mesias). Ia tampil dan berkarya di “padang gurun”, sebuah latar yang penuh makna dalam tradisi Alkitab. Padang-gurun mengingatkan pembaca akan perjalanan Umat Israel dari Tanah Perbudakan (baik Mesir maupun Babilonia) ke Tanah Perjanjian. Mereka tidak saja berpindah tempat, tetapi terutama juga berpindah “tuan”: dari tiran (Firaun dan Raja Babel) ke TUHAN. Mereka berubah dari budak tiran menjadi hamba TUHAN. Dengan demikian, gurun menjadi simbol peralihan dan perjalanan pulang, perubahan dari perbudakan kepada kemerdekaan. Latar ini cocok dengan pewartaan Yohanes: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”

Meski dengan gaya berbeda, isi pewartaan Yohanes sama dengan pewartaan Yesus. Israel harus disiapkan untuk memasuki Tanah Perjanjian yang “baru”, di mana Sang Mesias akan menjadi Raja mereka. Itu pesan pertama: kita diajak untuk berubah! Adven adalah kesempatan untuk berubah: “berbalik” (Ibrani: syub) dari semua hal yang memperbudak kita. Kembali ke fitrah kita sebagai ciptaan-Nya, yang harus senantiasa menghadap Dia, bukan membelakangi-Nya. Kembali ke jalan hidup yang berorientasi kepada-Nya (bdk. ay. 2, 6, 8). Kita diajak untuk mengubah arah dan jalan yang selama ini salah ditempuh: jalan kenikmatan semu, jalan egoisme, jalan kekerasan dan kuasa, jalan dominasi dan mau menang sendiri, jalan pendewaan uang dan materi, dll. Pertobatan juga berarti “membalikkan pola-pikir” (Yunani: metanoia): mengubah cara berpikir dan mentalitas. Pertobatan itu sesuatu yang radikal, menukik sampai ke akar, ke inti hati-nurani kita. Percuma saja semua praktik dan pameran kesalehan, kalau mentalitas tetap sama saja.

Kedua, Yohanes juga mengajak kita untuk berbuah (ay. 8). Tidak cukup hanya dibaptis dan mengakui kesalahan. Harus ada bukti dalam tindakan dan perbuatan nyata. Seruan keras ini dialamatkan kepada orang Farisi dan kaum Saduki. Dari segi tingkat kesalehan, kedua kelompok ini jelas di atas rata-rata kesalehan umat biasa. Tetapi bagi Yohanes, justru mereka inilah yang paling membutuhkan pertobatan. Pertobatan amat dibutuhkan oleh mereka yang sudah “merasa aman”. Mereka membanggakan statusnya sebagai “anak Abraham”. Bagi Yohanes, mereka tidak lebih dari “keturunan ular berbisa”: generasi munafik dan licik, bertopengkan agama demi pelbagai kepentingan, merasa sudah mem-booking Surga hanya karena kartu anggota Umat Allah. Keagamaan mereka bagaikan “bisa ular”: memberi teladan buruk dan mematikan kesejatian iman umat.

Ketiga, Yohanes mempersiapkan kita untuk menyambut “Dia yang datang” (ay. 11-12). Dialah yang akan membaptis kita dengan Roh Kudus dan api, bukan lagi dengan air. Yesus, Sang Mesias akan datang untuk membersihkan dan membarui kita secara total dan mendalam. Akan tetapi, kedatangan-Nya juga mempunyai sisi pengadilan. Ia sudah siap dengan “alat penampi” untuk memisahkan gandum dari sekamnya. Hanya orang yang menghasilkan “buah pertobatan” akan bertahan. Mereka akan dikumpulkan dan diselamatkan oleh Sang Mesias, sedangkan mereka yang “tidak berbuah” pasti akan dibuang-Nya ke tempat kebinasaan kekal.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s