Berhati ‘Hamba’ di Masa Adven

Renungan Harian Misioner
Sabtu Adven III, 21 Desember 2019
Peringatan S. Petrus Kanisius
Kid. 2:8-14 atau Zef. 3:14-18a; Mzm. 33:2-3,11-12,20-21; Luk. 1:39-45

Selama masa Adven, Lukas biasanya menyuguhkan pewartaan tobat dari Yohanes Pembaptis. Sang Pendahulu itu memberi petunjuk tentang jalan tobat yang harus kita tempuh. Dalam Luk. 3:7-14 ia menekankan buah pertobatan yang konkret, baik yang umum maupun yang khusus. Mungkin Lukas merasa kita masih bingung dan butuh petunjuk. Maka, di hari-hari terakhir Adven ini, ia menampilkan tokoh teladan yang patut ditiru, tidak tanggung-tanggung: Ibu Yesus sendiri. Mari kita belajar dari sang Bunda, bagaimana sikap yang tepat menyambut sang Putera!

Pertama, Maria bergegas ke pegunungan, ke rumah Elisabet, kerabatnya. Ia mengajar kita bersikap sebagai hamba yang percaya dan taat serta sigap membaca tanda. Malaikat memberi tanda: “Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki” (Luk. 1:36). Tanda itu langsung ditanggapi Maria dengan segera pergi untuk menjadi saksinya. Maria mengajar kita untuk menjadi Hamba Allah: selalu siap menjadi saksi dan bersaksi tentang tanda dan mukjizat Tuhan. Bunda mengantisipasi sikap para gembala di malam Natal. Begitu malekat memberi tanda tentang bayi di palungan, mereka pun segera pergi menyaksikannya (Luk. 2:15). Tanda dari Tuhan adalah pewahyuan tentang karya-Nya. Tidak bolehlah pewahyuan seperti itu kita jadikan aset pribadi. Pengalaman tentang Tuhan janganlah diprivatisasi, tetapi harus menggerakkan hati untuk pergi dan menjadi saksi-Nya, agar dapat dijadikan sebuah kesaksian.

Kedua, Maria adalah ibu yang “diberkati” (ay. 42). Seruan Elisabet terhadap Maria ini mengulangi sapaan malaikat Gabriel sebelumnya, yang menyalami Maria sebagai “engkau yang diberkati” (1:39). Tentu kita lebih terbiasa dengan kata “terpujilah” dalam doa Salam Maria. Tetapi terjemahan “diberkati” lebih cocok untuk menekankan karya dan berkat Allah. Keistimewaan Maria adalah buah rahmat dan berkat Allah yang ada dalam rahimnya (ay. 42), bukan kehebatannya sendiri. Ia hanyalah hamba Allah, seperti yang sudah ia sendiri katakan (Luk. 1:38). Itulah sikap hati seorang hamba: mengakui diri tidak berjasa sedikitpun, karena seluruh yang kita punya, seluruh jati-diri kita, merupakan hasil karya dan rahmat Allah, melalui Dia yang tinggal di dalam diri kita. Kita adalah orang yang diberkati, manusia yang berbahagia, sebab -sejak dibaptis- seluruh diri kita berlabelkan “Christ inside”.

Ketiga, Maria adalah ibu yang “percaya” (ay. 45). Dalam injil Lukas, Maria tampil sebagai ibu Tuhan sekaligus model atau teladan orang beriman. Ia sungguh berbahagia, bukan hanya karena menjadi ibu biologis Tuhan, tetapi terutama karena “ia percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana”. Maria mengajak Saya dan Anda untuk yakin dan percaya akan janji dan firman Tuhan. Masa Adven adalah saat membina dan mempertebal iman. Seakan-akan ia berpesan: isilah masa Adven yang tersisa ini dengan persiapan iman, bukan saja hiasan atau hidangan. Siapkan diri agar lebih percaya, bukan agar lebih bergaya di hari Natal. Doakanlah kami, ya Bunda, supaya dapat percaya dan berhati hamba!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s