Kita ‘Ada’ karena Cinta Allah Semata

Renungan Harian Misioner
Senin Adven IV, 23 Desember 2019
Peringatan S. Yohanes dr Kety
Mal. 3:1-4; 4:5-6; Mzm. 25:4bc-5ab,8- 9,10,14; Luk. 1:57-66

Lukas 1-2 mengarah ke depan: dalam dua bab ini sudah disinggung tema-tema besar yang akan diuraikan selanjutnya. Kedua bab ini juga mengarahkan kita ke belakang: ke janji-janji Allah dahulu melalui para nabi-Nya. Trio-tokoh kunci cerita ini: Zakharia, Elisabet dan Yohanes menjadi “penyambung” antara PL dan PB. Mereka mengarahkan kita kepada akar iman kita dalam PL, sekaligus menghantar kita kepada kebaruan karya Allah dalam PB.

Pertama, kelahiran Yohanes bukanlah kebetulan sejarah, tetapi bagian dari rencana Allah. Lukas menegaskan hal ini sejak awal. Ia ingin menulis tentang peristiwa-peristiwa yang “telah terpenuhi” (Luk. 1:1). Kelahiran Yohanes pun terjadi pada saat “waktunya telah genap” (ay. 57). Bacaan pertama pun menegaskan hal yang sama: kedatangan Yohanes adalah bagian dari rencana Allah sendiri (Bdk. Mal. 3:1-4). Jati-diri, misi dan panggilan kita sudah menjadi agenda Allah sejak semula.

Kedua, cerita ini berpusat pada pemberian nama bagi sang bayi yang baru lahir. Saat berumur 8 hari, bayi laki-laki Yahudi harus disunat (Kej. 17:9-14, Im. 12:3) dan diberi nama. Nama sang bayi harus sesuai dengan nama yang telah diberikan Allah (Luk. 1:13). “Nomen est omen”: nama adalah pratanda, kata orang Latin. Nama Yohanes berasal dari kata Ibrani Yohanan yang berarti: TUHAN mengasihi/merahmati/berbaik-hati. Yohanes adalah rahmat/pemberian kasih TUHAN. “Rahmat” TUHAN menjadi tema utama bab pertama Lukas (Luk. 1:50, 54, 58, 72, 78). Nama Yohanes menyadarkan kita akan jati-diri kita masing-masing sebagai pemberian kasih TUHAN sendiri. Kita bernilai karena kita adalah pemberian-kasih TUHAN, yang pada gilirannya harus kita bagi dan abdikan bagi sesama dan dunia.

Ketiga, cerita ini menempatkan iman kita pada akar keyahudian. Zakharia, adalah imam-yahudi yang melayani TUHAN di Bait Allah. Elisabet berasal dari keturunan Harun, sang imam pertama Israel. Bukan saja berasal dari keturunan mulia, praksis hidup keduanya pun tanpa-cela. Lukas menandaskan itu secara maksimal: “keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Luk. 1:6). Iman kita bertumbuh dari rahim keyahudian yang mewariskan dua sikap dasar di hadapan TUHAN: hidup-benar (setia) dan taat. Relevansi konkretnya: jati-diri dan panggilan seorang anak akan berkembang di tengah keluarga yang hidup-benar di hadapan TUHAN dan taat pada hukum-Nya.

Keempat, kelahiran Yohanes menimbulkan reaksi yang berbeda: dari tetangga dan sang ayah. Para tetangga berupaya memberi nama, sesuai kebiasaan dan adat-istiadat. Zakharia, melalui istri dan tulisan tangannya menegaskan nama yang sesuai dengan perintah Allah. Dari sang ayah, kita belajar untuk tetap setia pada Tuhan, meski ada tawaran dan tekanan, bahkan dari adat, tetangga dan kerabat dekat! Reaksi para tetangga dan kerabat atas “karya Allah” inipun hanya heran (ay. 63), takut (ay. 65a), dan “berdiskusi” (ay. 65b). Justru Zakharia memberi kita teladan bagaimana bersikap di hadapan karya TUHAN: “ia berkata-kata dan memuji Allah (ay. 64).

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s