Menyambut si Bayi Juruselamat Sejati

Renungan Harian Misioner
Selasa Adven IV, 24 Desember 2019
Peringatan Adam dan Hawa
Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14

Perhatikan porsi ayat yang dipakai Lukas menyangkut Injil malam Natal ini! Dari 14 ayat, hanya dua ayat berbicara tentang peristiwa kelahiran Yesus (ay. 6-7). Latar ceritanya diberikan lebih detil: lima ayat (ay.1-5). Porsi terbesar cerita ini (7 ayat!) justru diberikan pada makna kelahiran Yesus. Alokasi ayat ini sudah memperlihatkan tekanan pewartaan Lukas.

Pertama, peristiwa kelahiran itu sendiri dicatat secara singkat saja. Di sini pun Lukas berfokus pada latar atau tempat Yesus dilahirkan. Yesus lahir di palungan, karena tidak ada tempat lain di rumah, tempat mereka menginap. Maklum, Betlehem penuh dengan tamu yang datang memenuhi kewajiban sensus. Pasti semua ruang dan kamar terisi penuh. Yusuf dan Maria memilih tempat khusus, yang ada dalam rumah itu juga. Lukas kiranya punya pesan khusus: sang Penebus tetap datang, meski sering tidak mendapat tempat. Rencana Allah tetap jalan, meski manusia sering memberi-Nya tempat yang kurang layak. Jangan dilupakan bahwa palungan adalah tempat makanan binatang. Di sanalah ternak menemukan dan mencari sumber hidupnya. Pesan Lukas jelas: Dia yang lahir di palungan adalah sumber makanan sejati Saya dan Anda (bdk. Yes. 1:3). Apakah kita sungguh mencari Dia sebagai sumber hidup kita? Apakah kita mencari makanan-sejati pada sumber yang tepat, ataukah kita mencarinya di tempat dan sumber lain?

Kedua, latar kelahiran Yesus sungguh sarat makna. Lukas sengaja menempatkan kelahiran Tuhan pada latar global dan universal. Ia lahir pada zaman Kaisar Augustus. Kaisar agung Roma ini berhasil menghentikan perang saudara yang berkepanjangan dan menjamin perdamaian. Ia menjaga tata-tertib dengan pedang dan pajak. Keamanan dan damai berbayar nyawa dan uang. Ia dipuja sebagai Juruselamat dan dikultuskan sebagai dewa. Natal menawarkan konsep kuasa yang berbeda: Juruselamat dan Raja Damai sejati adalah si Bayi, bukan sang Kaisar Agung. Kedamaian sejati berasal dari bayi dalam palungan, bukan dari penguasa di istana. Damai-sejahtera akan Ia hadirkan lewat jalan damai bukan kekerasan, lewat keadilan (justice) bukan kemenangan perang (victory). Itu bedanya Injil kita dari injil penguasa dunia: memperjuangkan keadilan lewat jalan dialog dan perdamaian, bukan jalan kekerasan, paksaan apalagi perang.

Ketiga, pesan Natal disampaikan para malaikat. Makna Natal diwahyukan “dari atas” bukan hasil pemahaman manusia. Pesan itu diberikan kepada para gembala. Kabar Baik disampaikan kepada kelompok pinggiran. Intinya adalah: bayi yang lahir di pinggiran ibu-kota, yang terbaring lemah dalam palungan, adalah Juruselamat dan Tuhan (ay. 11). Dialah yang akan membawa sukacita, keutuhan dan perdamaian kepada umat-Nya. Ia membawa keselamatan itu kepada mereka yang sederhana dan dipinggirkan, tetapi yang terbuka untuk pergi menemui-Nya. Dalam palungan, seperti para gembala, Saya dan Anda pun akan berjumpa dengan sumber hidup sejati: sang Juruselamat dan Tuhan kita. Itulah satu-satunya alasan kita untuk bersuka-cita (ay. 10). Salam yang kita ucapkan dan Damai yang kita bagikan pun menjadi penuh makna.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s