Bersama Stefanus Memandang ke Langit Terbuka

Renungan Harian Misioner
Kamis, 26 Desember 2019
Pesta S. Stefanus
Kis. 6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22

Penginjil Matius berkisah mengenai Yesus yang berpesan sebelum mengutus murid-murid-Nya: “Waspadalah terhadap semua orang! Sebab ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama; dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya..” Ironis bukan? Diserahkan kepada majelis agama yang seharusnya menjadi tokoh pemimpin yang benar. Lalu kalimat, menyesah kamu di rumah ibadatnya, lebih ironis lagi. Rumah ibadat bukan lagi tempat suci dan sumber kebenaran, tetapi menjadi rumah kesakitan dan jagal.

Namun, Yesus berpesan: “Janganlah kamu khawatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.” Yesus tidak berpesan pada murid-murid untuk merancang perkataan mereka, mempersiapkan diri mereka dengan sebaik mungkin agar bisa menjawab dengan tepat dan lantang. Sebaliknya, Ia berkata: Jangan khawatir… Tidak penting menyiapkan kata-kata atau argumen, yang perlu adalah “waspada” pada semua orang dan jangan khawatir; serahkan semua kepada-Nya. Dia yang akan menaruh perkataan pada mulut murid-murid, pada saat itu juga.

Apa makna di dalam pesan Yesus tersebut? Percaya. Yesus meminta para murid untuk percaya pada-Nya. Percaya Dia tidak akan meninggalkan kita sendirian. Percaya berarti beriman. Iman yang teguh tak tergoyahkan oleh apa pun juga. Dan dalam iman itu ada keberanian. Keberanian untuk tidak gentar dan terus berjalan maju, mengikuti jalan kehidupan yang telah ditentukan-Nya untuk kita masing-masing.

Santo Stefanus tak pernah menjadi gentar. Ketika pun situasi menjadi sulit dan nyawanya terancam, ia tak pernah kehilangan kepercayaan akan Tuhan. Ia tidak membiarkan dirinya jatuh dalam keraguan. Ia tidak berbalik takut dan khawatir serta menuntut Tuhan karena penganiayaan yang harus dihadapinya. Dan di puncak deritanya itu, Tuhan membuka langit, memperlihatkan padanya bahwa Kerajaan Allah telah menantinya. Kehidupan kekal telah menantinya, bersama Tuhan.

Masa Natal ini kita dilingkupi oleh sukacita kelahiran Yesus. Namun, baiklah kita tidak hanya membiarkan pernak-pernik Natal menyita seluruh perhatian kita. Ada kelahiran, berarti ada kehidupan. Kehidupan selain mengandung cahaya, harapan, semangat dan kebahagiaan, juga tak lepas dari masa-masa yang sulit, perjuangan, jalan yang berkerikil dan tebing yang terjal. Ada masa-masa gelap dan penderitaan yang mungkin muncul di sepanjang jalan kehidupan.

Menyambut kehidupan berarti juga siap menyambut segala apa yang datang bersamanya. Dan menyadari bahwa pada akhirnya kita akan sampai pada titik akhir kehidupan itu sendiri, kematian. Ada awal, ada akhir. Ada permulaan, ada garis finish. Mengingat kelahiran Yesus, kita bersukacita mensyukuri rahmat kehidupan. Mengenang kematian Yesus di kayu salib dan momen kemartiran Santo Stefanus, mari kita sadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Mereka telah mengajarkan kita bagaimana menjalani kehidupan hingga maut menjemput: mencintai hingga sehabis-habisnya. Mencintai sesama, mencintai Tuhan, dan menatap kehidupan dengan berani dalam iman yang teguh pada Tuhan. Karena kita percaya bahwa di akhir kehidupan nanti, langit pun akan terbuka, menyambut kita semua dalam kehidupan baru, yang kekal bersama-Nya.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Masa depan kaum muda: Semoga setiap negara berketetapan hati dalam menentukan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mendahulukan dan menjaminkan masa depan kaum mudanya, terutama mereka yang menderita dan putus harapan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kesetiaan Pasutri: Semoga kesetiaan janji perkawinan pasutri tidak luntur karena perkara-perkara sepele dalam hidup harian yang justru sering memicu perselisihan dalam keluarga. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami menyambut hikmat Roh Kudus untuk mengambil peran penting dalam membangun kebijakan damai dan ketekunan dalam keluarga di tempat tinggal maupun di tempat pengabdian mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s