Kecemburuan & Fitnah Menuntun Kita pada Peperangan

Homili Paus: Banyak perang yang menyala hari ini – perdamaian sejati ditanam di dalam hati
Merayakan Misa pada hari Kamis, Paus Fransiskus menunjukkan jalan menuju perdamaian dengan mengatakan, seseorang harus “tetap tinggal di dalam Tuhan” dengan mencintai “hal-hal kecil”. Perdamaian di dunia, dimulai dari damai di hati.

Menurut Paus Fransiskus, kita tidak bisa “menjadi orang Kristiani” jika kita adalah “penabur peperangan” dalam keluarga kita, lingkungan dan tempat kerja. “Semoga Tuhan memberi kita Roh Kudus untuk dapat tetap tinggal di dalam-Nya dan mengajari kita cara mencintai, secara sederhana, tanpa berperang melawan orang lain.”

Paus merenungkan Surat Kedua St. Yohanes, yang mendesak orang Kristiani di jalan menuju perdamaian dengan tetap tinggal di dalam Tuhan dengan cinta yang tampak di dalam hal-hal kecil.

Saat berbicara mengenai perdamaian, kita segera terpikir mengenai peperangan-peperangan yang terjadi dan mengenai adanya keamanan yang damai di dunia, di negara lain atau situasi lain. Paus mencatat bahwa bahkan pada hari ini, dengan banyaknya api perang yang menyala, pikiran kita segera membangkitkan perdamaian, memohonnya dari Tuhan bagi dunia dan semua orang.

Tetaplah tinggal di dalam Tuhan
Paus Fransiskus mendesak semua orang untuk bertanya pada diri sendiri tentang perdamaian di rumah, apakah hati kita damai atau menginginkan perang, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dan membuat diri kita didengarkan. “Perdamaian masyarakat” atau sebuah negara “ditanam di dalam hati”. Paus mengingatkan orang Kristiani bahwa kecuali kita memiliki damai di dalam hati kita, kita tidak dapat memikirkan perdamaian di dunia. Dan St. Yohanes menunjukkan dalam bacaan pertama hari itu, jalan menuju perdamaian di dalam diri, adalah dengan tetap tinggal di dalam Tuhan.

Paus Fransiskus menunjukkan bahwa Tuhanlah yang membuat perdamaian dengan mengirimkan Roh Kudus untuk menciptakan damai di dalam diri kita. “Jika kita tetap tinggal di dalam Tuhan hati kita akan damai;” dan jika kita tetap tinggal di dalam Tuhan ketikapun kita tergelincir pada sebuah dosa atau kekurangan kita, Roh Kudus akan memperingatkan kita tentang kesalahan atau kekeliruan ini.

Menurut Paus Fransiskus, cara untuk tetap tinggal di dalam Tuhan, seperti dikatakan St. Yohanes, adalah dengan saling mencintai. Inilah rahasia menuju perdamaian.

Perang adalah godaan setan
Cinta sejati, bukanlah sinetron dan acara televisi, tetapi sesuatu yang mendorong kita untuk berbicara “baik” dengan orang lain. Jika seseorang tidak dapat berbicara dengan baik tentang orang lain, lebih baik ia menutup mulutnya, karena berbicara buruk tentang orang lain dan “menguliti” mereka, itu adalah perang.

Cinta, diungkapkan melalui “hal-hal kecil”. “Jika ada perang di hati saya, akan ada perang di keluarga saya, di lingkungan saya dan tempat kerja saya”. Kecemburuan, iri hati, fitnah, menuntun kita untuk berperang satu sama lain. Mereka “menghancurkan”, mereka seperti “kotoran”.

Bapa Suci mendesak orang-orang Kristiani untuk bertanya kepada diri mereka sendiri berapa kali mereka berbicara “dengan roh perdamaian” dan berapa kali “dengan roh perang”.

Paus Fransiskus mencatat bahwa cara kita biasanya bertindak dalam keluarga, di lingkungan dan tempat kerja adalah dengan sebuah sikap perang. Hal tersebut menghancurkan dan meracuni yang lain, yang, bukanlah merupakan cinta dan keamanan yang damai, yang kita doakan. Dalam hal ini, tidak ada Roh Kudus. Tak peduli apakah seorang awam, imam, religius, uskup, Paus atau siapa pun, hal itu terjadi pada diri kita masing-masing – reaksi langsung kita adalah mengutuk orang lain. “Perang, adalah godaan iblis.”

Perdamaian – karunia Roh Kudus
Ketika iblis mengatur agar kita pergi berperang dan menyalakan api perang, dia merasa senang karena dia tidak harus bekerja lagi. “Kita menjadi orang-orang yang bekerja untuk saling menghancurkan satu sama lain”, “kita menjadi orang-orang yang melanjutkan peperangan, kehancuran”, menghancurkan “pertama-tama” diri kita sendiri, “karena kita membuang cinta” dan kemudian membuang yang lainnya. Paus mencatat betapa kita kecanduan dengan kebiasaan ini, meracuni orang lain. Itu adalah benih yang ditabur iblis di dalam diri kita. Sebagai penutup, Paus berdoa untuk keamanan yang damai, yang merupakan “karunia Roh Kudus”, dengan berusaha untuk tetap tinggal di dalam Tuhan.

09 Januari 2020
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s