Tips Menghidupkan Daya Filter dalam Diri

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 11 Januari 2020
P. S. Teodosius Cenobiarch
1Yoh. 5:14-21; Mzm. 149:1-2,3-4,5,6a,9b; Yoh. 3:22-30

Sahabat-sahabat Tuhan Ytk, salam jumpa lagi di akhir pekan kedua di bulan Januari 2020 ini. Di temu berhikmah kita kali ini kita mau mendalami satu hal penting di awal tahun ini yakni pentingnya memiliki sikap bijak seperti Yohanes Pembaptis dalam menghadapi arus zaman ini dan pandangan-pandangan keliru yang mudah beredar di tengah publik. Kita semua tahu fenomena banyaknya informasi yang datang silih berganti setiap hari melalui medsos dan aneka sarana komunikasi lainnya. Tak sedikit juga informasi yang memiliki kepentingan tertentu semakin beredar luas sehingga sering membingungkan bahkan meresahkan publik.

Prediksi John Naisbitt jauh hari sebelumnya melalui bukunya Megatrend bahwa akan ada hujan informasi setiap hari seiring perkembangan teknologi muktahir kini terbukti. Naisbitt sebenarnya memiliki satu pesan penting bagi kita melalui buku tersebut. Dia mau mengingatkan kita untuk memiliki ‘daya filter’ dalam diri kita di tengah hujan informasi yang terjadi, sehingga kita tidak mudah terbawa arus pemikiran orang atau pengetahuan, apalagi ada tendensi mau memutlakkan sesuatu yang sebenarnya masih bersifat parsial dan pada tataran ide pribadi.

Karena itu baiklah kita dalami pesan berhikmah kisah perdebatan para murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Yahudi dalam injil hari ini, karena kejadian ini tak terlepas dari informasi dan pemahaman keliru dalam diri mereka. Kisah ini bisa dijadikan petunjuk bijak bagi kita bagaimana menghadapi situasi demikian. Sikap bijak dan jawaban jitu Yohanes Pembaptis menunjukkan kualitas dirinya yang hidup dalam bimbingan Roh Tuhan sehingga memampukan dia memiliki daya filter dalam dirinya memilah dan memilih mana yang baik, benar dan yang sejati dalam hidupnya. Kemampuan inilah yang membuat dia begitu mudah ‘menangkap’ alasan pokok mengapa perdebatan itu terjadi, maka diapun menghantar kedua belah pihak menyadari akar persoalan yakni karena mereka mencoba memahami karya misionernya dari perspektif mereka dan budaya berpikir orang Yahudi. Dalam nada self-reflection dia memberikan solusi bijak dengan mengajak mereka menempatkan Tuhan sebagai penuntun hidup mereka sekaligus membiarkan diri mereka hanyalah sebagai alat Tuhan yang berkarya untuk mengabdi Tuhan sesuai kehendak Tuhan: “Ia (Tuhan) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Jawaban bijak Yohanes Pembaptis menunjukkan kualitas diri Yohanes Pembaptis sebagai hamba Tuhan sejati yang melihat dirinya hanya alat Tuhan guna mengagungkan Tuhan melalui hidup dan karyanya. Hal ini tidak terlepas dari kedekatan Yohanes Pembaptis dengan Tuhan dan kebiasaannya senantiasa melihat diri sebagai abdi Tuhan yang hidup dalam tuntunan kehendak Tuhan. Persis hal yang sama disampaikan Santo Yohanes yang diperdengarkan kepada kita melalui bacaan pertama hari ini. Melalui kata-kata bijak kedua hamba Tuhan kita, mereka mau menegaskan pentingnya membiarkan Allah merajai diri kita dan menuntun kita pada jalan yang baik, benar dan menyentosakan hidup kita.

Sikap membiarkan Tuhan menjadi penuntun hidup kita membantu kita menghadapi situasi-situasi hidup yang kita alami dalam terang kehendak Tuhan. Kita pun akan berproses untuk semakin mematangkan iman kita kepada Tuhan dan mengandalkan Dia dalam ziarah hidup kita. Ketika hal itu tidak terjadi dalam ziarah kita maka kita bisa saja terjerumus dalam sikap seperti dalam kisah injil hari ini, menganggap pemikiran sendiri yang benar dan menyalahkan orang atau pihak lain. Seiring nasihat Santo Yohanes agar waspada terhadap segala berhala, maka baiklah kita renungkan hal-hal ini agar egosentrisme atau etnosentrisme serta tendensi senantiasa membenarkan pemikiran-pemikiran kita tidak menjadi salah bentuk berhala yang kita hidupi di zaman kita ini.

Semoga kedekatan kita dengan Tuhan dan kesediaan kita meluangkan ruang dan waktu membaca serta merenungkan Sabda-Nya semakin menumbuhkan daya filter dalam diri kita serta memampukan kita menghadapi perkembangan zaman ini dengan bijak seturut kehendak Tuhan. Tuhan memberkati kita.

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mempromosikan perdamaian dunia: Semoga umat Kristiani, para penganut agama-agama lain, dan semua orang yang berkehendak baik mau mempromosikan perdamaian dan keadilan di dunia ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Membangun solidaritas: Semoga demi solidaritas nyata terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, keluarga-keluarga Katolik mau menentukan porsi makan secukupnya supaya tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan seluruh umat di Keuskupan kami kepada Roh Kasih-Mu, agar semakin mengimani Allah Bapa, yang Maha Adil dengan mewujudkan keadilan sosial. Kami mohon…

Amin

One thought on “Tips Menghidupkan Daya Filter dalam Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s