TUHAN Memanggil – Ayo Bergegas!

Renungan Harian Misioner
Senin, 13 Januari 2020
P. S. Hilarius
1Sam. 1:1-8; Mzm. 116:12-13,14,17,18-19; Mrk. 1:14-20

Kita seringkali mendengar kisah panggilan orang-orang terkenal atau orang yang sukses dalam karirnya yang kemudian memilih jalan untuk menjadi pengikut Yesus, bukan saja menjadi orang Kristiani, namun bahkan menjadi imam, biarawan atau biarawati.

Bacaan Injil hari ini mengenai panggilan para murid Yesus. Bagian pertama mengisahkan ajakan pertobatan dari Yesus, dan bagian kedua mengungkapkan kisah panggilan para murid. Penginjil Markus menampilkan dua bagian pokok yang menghantar kita pada refleksi hari ini. Pertama, seruan pertobatan menjadi ajakan awal bagi para pengikut Yesus. Pertobatan hendaknya menjadi dasar dari panggilan kemuridan kita. Pengenalan akan Yesus membawa orang pada pertobatan sebelum memilih untuk menjadi pengikut-Nya.

Kedua, kisah panggilan para Rasul memperlihatkan bahwa panggilan itu tidak ditujukan pada orang-orang dengan status sosial tertentu. Apa yang menjadi kriteria bagi Yesus dalam memilih murid-murid-Nya? Yesus tidak mempertimbangkan kecakapan atau kecerdasan seseorang! Yesus mengenal karakter mereka masing-masing. Para nelayan yang sehari-hari berjuang di danau untuk menafkahi keluarga, justru menjadi orang-orang yang dipilih-Nya untuk menjadi rasul-rasulnya. IA pasti mengamati mereka dan tahu bahwa mereka adalah nelayan yang tulus, bersemangat, dan pekerja keras. Ketika IA memanggil mereka, merekapun sedang sibuk bekerja. Yesus tahu bahwa mereka akan sanggup memikul tanggung jawab besar jika IA harus meninggalkan mereka. IA tidak memilih orang-orang Farisi atau ahli-ahli Taurat yang paham akan kehidupan religius, untuk dijadikan-Nya fondasi bagi Gereja-Nya. Yesus membutuhkan tim yang bisa bekerja sama dengan baik untuk memenuhi misi-Nya. Saat inipun, Gereja membutuhkan orang-orang seperti para Rasul untuk menjadi pewarta Kabar Sukacita. Tanpa orang-orang yang bersemangat dan berkomitmen, misi Kristus dan Gereja-Nya tidak akan berhasil.

Reaksi para Rasul menanggapi panggilan Yesus spontan dan bersemangat. Kita mungkin berpikir, betapa tidak bertanggung jawab dan bodohnya mereka, melepaskan pekerjaan dan mengikuti panggilan Yesus yang belum pasti akan memberikan jaminan hidup. Mereka juga tentu belum tahu apa sebenarnya tugas mereka nantinya. Namun, ketika Yesus berkata,”Ikutilah Aku dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia” mereka segera meninggalkan jala dan mengikuti Dia. Bahkan kedua anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes, segera meninggalkan ayah mereka. Dapat kita bayangkan reaksi sang ayah saat itu. Mungkin marah dan sakit hati ditinggalkan anak-anaknya. Namun tidak tampak keraguan sedikitpun dalam diri Para Rasul saat menanggapi panggilan-Nya. Mereka dengan segera mengikuti DIA tanpa berpikir lagi mengenai pekerjaan, bahkan tanggung jawab mereka pada keluarga. Kerinduan mereka adalah mengikuti Yesus, menjadi bagian dari hidup dan perjalanan Yesus. Inilah gambaran jawaban kita juga akan panggilan Tuhan. Ketika Tuhan memanggil kita, jawaban kita adalah menanggapi secara total, penuh ketaatan mutlak, tanpa syarat dan tentunya penuh gairah.

Melihat gairah Para Rasul yang menanggapi panggilan Yesus dengan segera, kita mungkin bertanya, apa yang membuat mereka seperti itu? Reaksi mereka tentunya bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Mereka pasti sudah mendengar banyak kisah tentang Yesus, sejak kemunculan Yesus secara publik, yang dibicarakan di mana-mana, yang membuat siapapun ingin dekat dan menjadi pengikut-Nya. Seperti halnya Yohanes Pembaptis memiliki murid-murid, demikianpun, siapapun orang pada saat itu pasti juga ingin menjadi orang yang terlibat lebih dekat dengan Yesus, menjadi murid-Nya. Namun bukan karena popularitas Yesus yang membuat Para Rasul memutuskan untuk mengikuti-Nya, melainkan mereka melihat perhatian-Nya kepada orang-orang kecil, hidup, dan pengajaran-Nya. Itu yang membuat mereka jatuh cinta. Penginjil Markus juga menegaskan bahwa Orang yang memanggil para murid ini bukanlah orang biasa, melainkan Sabda Allah sendiri, Anak Allah! Dan karena yang memanggil bukan hanya manusia tetapi Allah sendiri, maka tanggapan terhadap panggilan-Nya harus total, utuh, dengan segera dan tanpa syarat. Inilah sikap iman yang benar akan panggilan Tuhan! Dalam sikap iman yang demikian, kita hanya bisa menjawab “YA” dengan ketaatan mutlak dan tanpa syarat, sebagaimana Bunda Maria ketika mendapat kabar dari malaikat Gabriel.

Pertanyaan bagi kita, apakah kita juga akan dengan segera meninggalkan segala kelekatan kita, atau rasa nyaman kita untuk menanggapi panggilan-Nya? Perubahan zaman membuat orang lebih mengandalkan kemampuan diri sendiri. Bahkan keberhasilan dalam teknologi seolah-olah menggantikan peran Tuhan dalam hidup. Kita sering menjadi tidak lagi percaya pada-Nya dan hanya mengandalkan apa yang kita miliki. Penginjil Markus mengajak kita untuk segera meninggalkan segala kelekatan kita dan berani menjawab panggilan-Nya. Panggilan Tuhan selalu seturut dengan kehendak-Nya dan bukan kehendak manusia. Panggilan itu seringkali di luar nalar manusiwi kita, tidak didasarkan pada keahlian/keterampilan atau pengetahuan kita. Panggilan itu seperti menentukan pilihan dalam pernikahan, didasarkan pada hati dan bukan pada nalar kita.

Tuhan memanggil orang sesuai dengan misi-Nya. Kitapun dipanggil untuk melanjutkan karya misi yang telah dimulai oleh Putera-Nya sendiri. Namun apakah kita sudah sungguh-sungguh jatuh cinta pada Yesus sehingga siap untuk dengan segera mengikuti-Nya dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya seturut dengan panggilan yang dipilih-Nya bagi kita? Tuhan memanggil di manapun kita berada, dalam situasi apapun, dan pekerjaan apapun yang kita lakukan. Namun, apakah kita sadar bahwa ini adalah panggilan-Nya bagi kita dalam hidup ini?

Seperti para Rasul, kita belajar mengikuti Yesus, mengenal ajaran-Nya dan melakukan seperti yang dilakukan Yesus. Dengan baptisan yang kita terima, kita telah diberi Roh Kudus untuk memampukan kita untuk menjadi pembawa Kabar Sukacita bagi banyak orang. Marilah kita berdoa memohon kepada Bapa, agar IA memampukan kita untuk menjadi Rasul-Nya yang sejati di zaman ini, menjalankan panggilan dengan sukacita dan penuh cinta, agar banyak orang juga semakin mengenal DIA.

(RP. Josep Gabriel, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mempromosikan perdamaian dunia: Semoga umat Kristiani, para penganut agama-agama lain, dan semua orang yang berkehendak baik mau mempromosikan perdamaian dan keadilan di dunia ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Membangun solidaritas: Semoga demi solidaritas nyata terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, keluarga-keluarga Katolik mau menentukan porsi makan secukupnya supaya tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan seluruh umat di Keuskupan kami kepada Roh Kasih-Mu, agar semakin mengimani Allah Bapa, yang Maha Adil dengan mewujudkan keadilan sosial. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s