Keramahan adalah Budaya Kita – Umat Kristiani

Paus Fransiskus memimpin sebuah pelayanan doa ekumenis untuk penutupan Pekan Doa bagi Persatuan Kristiani yang menyerukan budaya yang lebih ramah, di antara kita sebagai orang Kristiani dan di antara saudara-saudari kita dari berbagai aliran kepercayaan.

“Keramahtamahan adalah tradisi milik komunitas dan keluarga Kristiani,” kata Paus Fransiskus selama homilinya di sebuah pelayanan doa ekumenis yang menutup Pekan Doa Tahunan bagi Persatuan Kristiani.

Keterbukaan dan kepedulian terhadap yang lain, khususnya bagi para migran, adalah tema di inti Pekan Doa yang melibatkan partisipasi para pemimpin Kristen dari semua denominasi, yang berkumpul di Roma dari tanggal 18 hingga 25 Januari.

Paduan Suara Kapel Sistine Vatikan dan Paduan Suara Biarawan Benediktin bernyanyi pada pelayanan di Basilika Santo Paulus di luar Tembok yang secara tradisional jatuh pada Hari Pertobatan Santo Paulus.

Tema untuk Pekan Doa 2020 dipilih oleh sekelompok perwakilan dari Gereja-Gereja Kristen di Malta. Tema itu berasal dari Kisah Para Rasul: “Mereka Menunjukkan Kebaikan Yang Tidak Biasa kepada Kita”.

Paus Fransiskus mulai homilinya dengan merenungkan bacaan hari itu dan mengingat kembali bahwa tiga kelompok berbeda berada di atas kapal yang membawa Santo Paulus ke Roma sebagai tahanan: sekelompok tentara, sekelompok pelaut, dan sekelompok tahanan – yang paling lemah dan paling rentan.

Bapa Paus mengatakan bahwa ketika kapal itu kandas di lepas pantai Malta, para prajurit berencana untuk membunuh para tahanan untuk memastikan tidak ada yang melarikan diri, tetapi mereka dihentikan oleh seorang perwira yang ingin menyelamatkan Paulus.

Percaya pada Tuhan
“Meskipun dirinya termasuk yang paling rentan, Paulus menawarkan sesuatu yang penting bagi teman-teman seperjalanannya. Ketika semua orang kehilangan semua harapan untuk bisa selamat, Rasul membawa pesan harapan yang tak terduga.”

Paulus memercayai seorang malaikat yang berpesan kepadanya untuk tidak takut, dan kepercayaannya terbukti kuat ketika semua isi kapal diselamatkan dan suatu waktu di Malta dapat mengalami keramahtamahan, kebaikan, dan kemanusiaan dari penduduk pulau itu.

Catatan dari Kisah Para Rasul ini, “juga berbicara tentang perjalanan ekumenis kita menuju persatuan yang diinginkan oleh Tuhan.”

Mendengarkan mereka yang kecil dan yang lemah
Pertama-tama, “kisah itu memberi tahu kita bahwa mereka yang lemah dan rentan, mereka yang hanya memiliki sedikit materi untuk ditawarkan, namun mereka menemukan kekayaan mereka di dalam Tuhan, dapat menyampaikan pesan-pesan berharga untuk kebaikan semua orang.”

Bapa Paus mengundang mereka yang hadir untuk memikirkan komunitas Kristiani yang terkecil dan paling tidak penting, dengan mengatakan bahwa “jika mereka mengalami Roh Kudus, jika mereka digerakkan oleh kasih kepada Allah dan sesama, mereka memiliki pesan untuk dipersembahkan kepada seluruh keluarga Kristiani.”

Mari kita berpikir, tentang komunitas Kristiani yang terpinggirkan dan dianiaya: “Seperti dalam kisah karam kapal Paulus, seringkali yang terlemahlah yang membawa pesan keselamatan yang paling penting.”

Tuhan, menyelamatkan kita “bukan dengan kekuatan dunia ini, tetapi dengan kelemahan salib.”

Dan memperingatkan godaan agar tertarik pada logika duniawi, Bapa Paus mendesak semua orang Kristiani untuk mendengarkan mereka yang kecil dan yang lemah, “karena Allah suka mengirim pesan-pesan-Nya melalui mereka yang paling mirip dengan Putra-Nya yang menjadi manusia.”

Mengatasi Perpecahan
Bapa Paus menjelaskan bahwa kisah dalam Kisah Para Rasul juga mengingatkan kita bahwa prioritas Allah adalah keselamatan semua orang.

Keinginan Tuhan agar semua orang diselamatkan, “adalah undangan untuk tidak mengabdikan diri secara eksklusif pada komunitas kita sendiri.”

Bapa Paus mengatakan bahwa jika kita mengatasi perpecahan kita, masing-masing orang dapat berkontribusi untuk keselamatan semua.

“Di antara orang-orang Kristiani juga, setiap komunitas memiliki hadiah untuk ditawarkan kepada yang lain. Semakin kita mampu melihat melampaui kepentingan sepihak dan mengatasi warisan dari masa lalu, dalam keinginan untuk bergerak maju menuju tempat pendaratan bersama, semakin mudah kita akan mengenali, menyambut dan berbagi hadiah ini.”

Keramahtamahan
Akhirnya, Paus memusatkan perhatian pada aspek ketiga yang menjadi pusat Pekan Doa ini: keramahtamahan.

Paus merenungkan bagian di mana Santo Lukas mengatakan, sehubungan dengan penduduk Malta, “Penduduk asli menunjukkan kebaikan hati yang tidak biasa” dengan mengingat tindakan penyambutan dan sikap yang ditunjukkan kepada para pengembara dari kapal yang karam, yang kemudian dibayar kembali oleh Paulus.

“Dari Pekan Doa ini kita ingin belajar menjadi lebih ramah, pertama-tama di antara kita sebagai orang Kristen dan di antara saudara-saudari kita dari berbagai aliran kepercayaan. Keramahan menjadi tradisi milik komunitas dan keluarga Kristiani.”

Paus Fransiskus mengakhiri salam penutup kepada para wakil denominasi Kristen yang berkumpul dengannya untuk mengakhiri Pekan Doa untuk Persatuan Kristen dan berkata: “Bersama, tanpa pernah lelah, mari kita terus berdoa dan memohon kepada Tuhan karunia persatuan penuh di antara kita sendiri.”

25 Januari 2020
Oleh: Linda Bordoni
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s