Hati-Hati Tergelincir dalam Dosa

Homili Paus: keduniawian, sebuah kemunduran perlahan-lahan ke dalam dosa
Salah satu kejahatan di zaman kita adalah tergelincir ke dalam keadaan di mana orang kehilangan akal sehat. Paus Fransiskus mengutarakan hal itu dalam homilinya pada Misa Jumat pagi di Casa Santa Marta, mencatat bahwa bahkan seorang raja suci seperti Daud telah jatuh ke dalam pencobaan ini. Keduniawian, adalah akar dari semua ini.

Merenungkan Raja Daud dalam Bacaan Pertama, Paus Fransiskus mencatat bahwa Raja Israel itu telah menyelinap ke dalam kehidupan yang nyaman, lupa bahwa ia dipilih oleh Allah. Paus berbicara mengenai kehidupan yang normal dan tenang di mana hati tetap tidak terganggu bahkan ketika berhadapan dengan dosa-dosa yang paling serius. Hal itu adalah keduniawian yang merampas kita dari rasa berdosa dan kejahatan.

Keduniawian
Paus Fransiskus menyebutkan dosa-dosa Daud, antara lain: melakukan sensus rakyat dan kisah Uria yang dibunuhnya setelah menghamili istrinya, Batsyeba. Daud memilih pembunuhan karena rencananya untuk memperbaiki semuanya setelah perzinahan, gagal total. Daud kemudian melanjutkan kehidupan normalnya dengan tenang dan hatinya tidak tergerak.

Paus Fransiskus bertanya-tanya bagaimana Daud yang agung, yang kudus, yang telah melakukan begitu banyak hal baik dan yang begitu dipersatukan dengan Allah, dapat melakukan itu. Ini jelas tidak terjadi dalam semalam, Daud tergelincir perlahan-lahan. Bapa Paus mencatat bahwa ada dosa-dosa pada saat kejadian tertentu, seperti kemarahan atau penghinaan yang tidak dapat dikendalikan seseorang, tetapi ada juga dosa-dosa di mana seseorang tergelincir perlahan-lahan, karena semangat keduniawian. Semangat dunia, yang mengarahkan Anda untuk melakukan hal-hal ini seolah-olah semuanya normal. “Sebuah Pembunuhan…!”

Tergelincir ke dalam dosa
“Perlahan-lahan” adalah kata keterangan yang sering digunakan Paus untuk menjelaskan bagaimana cara dosa perlahan-lahan menguasai seseorang yang tenggelam dalam kenyamanannya. Bapa Paus mengakui bahwa semua orang berdosa, namun kadang-kadang kita berdosa pada momen tertentu, seperti marah atau menghina orang lain, tetapi kemudian kita bertobat. Kadang-kadang, sebaliknya, “kita membiarkan diri kita tergelincir ke dalam keadaan di mana kehidupan tampak normal saja”, seperti misalnya tidak membayar pembantu kita selayaknya atau hanya membayar setengah dari apa yang harus dibayarkan kepada para pekerja di ladang.

Bapa Suci berkata bahwa mereka tampak seperti orang-orang baik yang menghadiri Misa setiap hari Minggu dan yang menyebut diri mereka orang Kristiani. Bapa Paus menjelaskan bahwa mereka melakukan semua ini dan dosa-dosa lain karena mereka telah tergelincir ke dalam keadaan di mana mereka telah kehilangan kesadaran akan dosa, yang, menurut Paus Pius XII, adalah salah satu kejahatan di zaman kita. Seseorang dapat melakukan apa saja… dan, pada akhirnya, seseorang menghabiskan seumur hidupnya untuk memecahkan masalah.

Tamparan kehidupan
Paus menunjukkan bahwa ini bukanlah sesuatu yang kuno. Dia mengingat sebuah kejadian baru-baru ini di Argentina di mana beberapa pemain rugby muda membunuh seorang kawan mereka dalam sebuah pertarungan kehidupan malam. Anak-anak itu, menjadi “segerombolan serigala”, yang membuat kita kemudian mempertanyakan mengenai pendidikan anak muda dan masyarakat. Kita sering membutuhkan sebuah “tamparan kehidupan” untuk dapat berhenti tergelincir ke dalam dosa. Dibutuhkan seseorang seperti nabi Nathan, yang diutus oleh Tuhan kepada Daud, untuk menunjukkan kesalahannya.

Paus Fransiskus mendesak umat Kristiani untuk berpikir sedikit tentang atmosfer spiritual kehidupan seseorang. “Aku harus berhati-hati dan selalu membutuhkan seseorang untuk mengingatkanku akan kebenaran, mendapat teguran dari beberapa teman, Bapa pengakuan, suami, istri atau anak-anak, yang sedikit dapat membantuku” Kisah kejatuhan Raja Suci seperti Daud, harus membuat kita sadar bahwa hal tersebut juga bisa terjadi pada kita dan untuk itu kita harus berhati-hati. Kita juga harus mewaspadai suasana tempat kita tinggal. Paus Fransiskus mengakhiri dengan memohon Tuhan mengirimkan seorang nabi kepada kita, tetangga seperti nabi, seorang putra, seorang ibu atau seorang ayah, yang menampar kita sedikit ketika kita tergelincir ke dalam atmosfer di mana semuanya tampak sah saja.

31 Januari 2020
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s