Seluruh Kehidupan Yesus adalah Misi

Renungan Harian Misioner
Minggu, 02 Februari 2020
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
Mal. 3:1-4; Mzm. 24:7,8,9,10; Ibr. 2:14-18; Luk. 2:22-40 (panjang) atau Luk. 2:22-32

Rumusan Liturgis masa kini menggunakan kata “Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah”: melanjutkan Kisah Natal melalui segi ritual, karena kelahiran di kandang pada saat terjadinya sama sekali bukanlah ritus, melainkan semacam ‘insiden’. Dalam pada itu, serupa dengan beberapa kisah sebelumnya, nampak segi ‘misi’. Di kandang, misi diungkapkan melalui pengabaran Malaikat kepada para Gembala, orang-orang sederhana, “Sisa-sisa Suci” Umat Israel, yang menanti-nantikan Mesias. Sesudahnya, misi diperlihatkan melalui petunjuk dari Bintang Khusus dan penjelasan kepada para Cendekiawan, bahwa tempatnya sudah tertulis dalam Alkitab. Selanjutnya, misi disingkapkan di balik malapetaka dan ziarah panjang dari Israel ke Mesir, agar Sang Putera memancarkan cahaya-Nya di ‘tanah, yang menjadi awal ziarah Musa dan Israel, menuju Tanah Terjanji’. Sesudah itu, melalui gerak batin Yusuf, misi diarahkan ke Galilea, tempat Yesus dibesarkan sebagai Kanak-Kanak. Dalam peristiwa hari ini, misi diwartakan kepada Simeon, Hannah dan seluruh ‘hadirin’, betapa Yang Mahakuasa menyatu dengan Kanak-Kanak Yesus, dengan ketaatan pada Tradisi Anak Cucu Abraham-Ishak-Yakub. Misi diwahyukan dan diwujudkan dengan segala jalan, sebagaimana nanti akan diuraikan Sang Putera dalam percakapan dengan Nikodemus: “Roh Berhembus Di mana Dia mau”.

Dalam Bacaan Injil Lukas, kita dapat melihat bahwa Yesus memenuhi Taurat sejak kecil dalam rangka penebusan. Kerap kali kita memandang pemenuhan Pengutusan Yesus pada Wafat-Nya di Kayu Salib dengan Kebangkitan-Nya dalam Paskah. Benar. Namun, sebagai Sang Putera, yang menjadi manusia, dinamika pertumbuhan juga diikuti: mulai lahir, menjadi Kanak-Kanak dan nantinya taat kepada Orang tua-Nya serta Pengutusan Final. Dengan demikian, misi dilaksanakan oleh Sang Putera, juga sejak lahir dan bayi. Ia menjadi manusia lahir-batin.

Kemudian, Yesus dipersembahkan seharga burung tekukur: Kebanyakan manusia, yang menjadi saudara-saudari-Nya Yesus adalah ‘orang Kecil’. Harga awal Penjelmaan Yesus, dalam ukuran kemanusiaan adalah ‘murah’: siapa pun dapat bersama Sang Putera, mempersembahkan diri untuk melaksanakan misi dengan sesederhana apa pun. Silakan bergabung.

Simeon menyambut pemenuhan Janji Allah: Simeon sudah lama – sampai tua – melaksanakan misinya sebagai pemuka umat Yahudi. Menjelang tutup usia, ia diikutsertakan dalam ‘missio’ Yesus, yang sederhana. ‘Missio’ tidak diukur menurut keperkasaan dan ketokohan manusiawi, melainkan pada peristiwa-peristiwa sederhana, yang dihayati manusia, dengan bergabung dengan Paguyuban Umat Beriman, sebagai dilambangkan dengan Kenisah, tempat orang menyambut Kehendak Allah.

Hana menyambut pemenuhan Janji Allah: Nabi perempuan ini bukan tokoh besar dalam dunia Yahudi. Dia tercatat dalam Sejarah Keselamatan, dalam ‘misi penyerahan diri’ dalam kesetiaannya berdoa, berpuasa, menghadapkan hidupnya kepada Allah. Karunianya tidaklah diketahui sebelumnya; ia memperoleh anugerah perjumpaan dengan Sang Mesias, ya karena ia siaga dan setia di hadapan Allah dalam Kenisah. Tradisi Israel menyempurnakan misinya dengan kesetiaannya membaktikan hidupnya pada doa dan lakutapa.

Keluarga Nasaret, tempat Yesus-Sang Putera tumbuh: bagian akhir kisah misi Yesus adalah proses penyatuan Kanak-Kanak Yesus secara semakin lama sadar, keterlibatan-Nya dalam komunitas manusiawi ‘seadanya’ sebagai bagian dari keluarga sederhana Nasaret dan dengan cara-cara sederhana anak kecil. Misi dilaksanakan Utusan Bapa lewat hal-hal kecil, sehari-hari, karena Yesus telah memberi teladan di Nasaret.

Marilah kita berdoa, agar Roh yang menjiwai Yesus juga menggerakkan kita menjadi misionaris yang sehari-hari, melalui misi, yang disediakan Allah melalui Sang Putera sesuai dengan Kebijaksanaan-Nya.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mendengarkan jeritan para migran: Semoga tangis saudara-saudari kita para imigran, korban kejahatan perdagangan manusia didengarkan, ditanggapi secara serius, dan ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Panggilan hidup bakti: Semoga para imam dan kaum religius mampu menjadikan hidupnya inspirasi dan kesaksian bagi kaum muda agar mereka terdorong untuk berani mengikuti panggilan menjadi imam dan hidup membiara. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kesediaan para Pelayan Pastoral dan Kader awam di Keuskupan agar semakin bersikap dan bertindak adil, dan menjadi cermin Keadilan Ilahi. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s