Hatimu Sumber Segala “Perbuatanmu”

Renungan Harian Misioner
Minggu, 16 Februari 2020
Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (ay. 17). Perkataan Yesus ini menjadi kunci untuk memahami rangkaian pernyataan Yesus selanjutnya, juga tentang hubungan Yesus dengan Hukum Taurat. Hal pertama yang harus ditegaskan adalah: Yesus tidak pernah ingin menghapus atau menggantikan Hukum Taurat. Ia “membarui” cara Hukum agama Yahudi itu dipahami dan dilaksanakan. Ia “menggenapinya”, dalam arti: menafsirkan Taurat sesuai maknanya yang terdalam. Sebagai “Anak Allah”, jelas Yesus paling tahu apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya, yang menjadi inti/akar semua peraturan dalam Taurat dan pesan para Nabi. Jadi, tafsiran-Nya atas Taurat didasarkan pada otoritas-Nya sendiri sebagai Anak Allah. Itu ditegaskan-Nya secara meriah dan berulang: “kamu mendengar bahwa… tetapi Aku berkata…”.

Kedua, Yesus menggenapi Taurat dengan menekankan hati sebagai sumber segala tindakan manusia. Perintah Taurat “Jangan membunuh” jelas dan kiranya susah dilanggar secara publik dan terbuka. Akan tetapi itu belum cukup. Dendam serta kemarahan yang terus disimpan dan mengakar dalam hati manusialah yang harus dicabut. Itulah sumber kekerasan dalam tindakan dan kata-kata (umpatan dan caci-maki, ay. 22). Kehendak Allah yang mau Yesus tegaskan di balik perintah ini adalah: manusia harus secara positif berupaya untuk hidup dalam kasih persaudaraan (bdk. Mat. 22:37-40; 23:23).

Perintah “jangan berzina” juga jelas dan tegas. Berhubungan dengan isteri/tunangan pria lain akan dihukum secara maksimal: dirajam sampai mati. Jelas orang tidak berani melanggarnya. Tetapi, bagi Yesus itu belumlah cukup, sebab hukuman ini hanya melindungi hak suami (isteri adalah “milik suami”) dari tindakan zina. Padahal, Taurat juga sudah melarang orang mengingini isteri orang lain (Kel. 20:14; Ul. 5:18, 21). Maka, Yesus menggenapi hukum Taurat dengan menegaskan bahwa: semua perempuan (bukan hanya isteri) harus dilindungi dari pelbagai sikap dan tindakan yang “mengobyekkan” mereka. Memandang setiap perempuan dengan nafsu birahi (bdk. 2Pet. 2:14,17; Sir. 9:8) sudah berzina dalam hati, dan terutama: sudah berzina terhadap perempuan itu. Hak perempuan itulah, bukan saja hak seorang suami, yang Yesus bela.

Ketiga, radikalisasi pemahaman Taurat oleh Yesus ini seringkali juga berarti pembatalan huruf hukum. Hukum Taurat memperbolehkan suami menceraikan isterinya (ay. 31; Bdk. Ul. 24:1-4), tetapi Yesus melarang perceraian (ay. 32). Dalam tradisi Yahudi, perceraian adalah hak pria saja. Perempuan tidak berhak menceraikan suaminya. Yesus menafsirkan hukum ini secara baru: yang Ia perjuangkan adalah keadilan. Tafsiran-Nya membidik kesewenangan pria, dan membela para isteri dan perempuan. Bagi Yesus, justru pria yang menceraikan istrinya harus dipersalahkan, karena ia membuat istrinya itu berzina. Dalam tradisi Yahudi, umumnya hanya istri (atau pria yang belum beristri) yang berzina, karena suami dapat berpoligami. Yesus justru menegaskan: pria yang menikahi perempuan yang sudah diceraikan juga berdosa zina (ay. 32). Hukum Taurat ditafsirkan demi menjamin keadilan bagi semua, khususnya pihak yang selama ini dirugikan!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mendengarkan jeritan para migran: Semoga tangis saudara-saudari kita para imigran, korban kejahatan perdagangan manusia didengarkan, ditanggapi secara serius, dan ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Panggilan hidup bakti: Semoga para imam dan kaum religius mampu menjadikan hidupnya inspirasi dan kesaksian bagi kaum muda agar mereka terdorong untuk berani mengikuti panggilan menjadi imam dan hidup membiara. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kesediaan para Pelayan Pastoral dan Kader awam di Keuskupan agar semakin bersikap dan bertindak adil, dan menjadi cermin Keadilan Ilahi. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s