Apakah Kita Masih Butuh Tanda dari Surga?

Renungan Harian Misioner
Senin, 17 Februari 2020
P. Tujuh Saudara Suci Pendiri Tarekat Hamba-Hamba SP. Maria
Yak. 1:1-11; Mzm. 119:67,68,71,72,75,76; Mrk. 8:11-13

Siapakah Yesus sebenarnya? Pertanyaan mengenai siapa Yesus merupakan pertanyaan pokok yang memenuhi pikiran orang-orang Farisi. Benarkah Yesus adalah utusan Allah? Benarkah Ia adalah Mesias? Apakah Ia seorang tokoh spiritual? Orang-orang pada zaman Yesus mengharapkan bahwa kedatangan Mesias akan disertai dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang yang luar biasa. Para pemimpin agama mencobai Yesus untuk melihat apakah Ia memiliki suatu tanda yang otentik dari surga untuk mendukung pernyataan-Nya bahwa diri-Nya adalah Mesias. Orang-orang pada zaman Yesus, terutama para pemimpin agama sepertinya mengalami semacam “trauma” terkait mesias. Mesias-mesias palsu masa lalu telah membuat pernyataan yang luar biasa untuk menarik hati para pengikutnya, misalnya dengan mengatakan bahwa mereka mampu membelah sungai Yordan menjadi dua bagian atau mampu merobohkan tembok Yerusalem.

Bacaan Injil hari ini bercerita bagaimana orang-orang Farisi bersoal jawab dengan Yesus. Mereka tidak hanya bersoal jawab dengan Yesus, tetapi juga mencobai Yesus dengan meminta daripada-Nya suatu tanda dari surga. Yesus mengetahui maksud hati orang-orang yang datang untuk mencobai-Nya. Mereka amat tertarik dalam mencari tanda-tanda untuk membuktikan bahwa mereka benar dan Yesus salah. Yesus mengungkapkan maksud hati mereka yang sesungguhnya, yakni mereka datang untuk bersoal jawab dengan-Nya dan untuk mencobai-Nya (Mrk. 8:11) karena mereka tidak percaya bahwa Ia berbicara atas nama Bapa-Nya yang di surga. Mereka tidak ingin memercayai pernyataan Yesus bahwa diri-Nya untuk Mesias dan Penyelamat sejati. Sayangnya, mereka buta terhadap kebenaran pewartaan Yesus bahwa Bapa telah mengutus-Nya. Dialah Putra Tunggal Allah yang diutus untuk membebaskan mereka dari dosa, setan dan kematian. Tak ada mukjizat yang akan meyakinkan mereka karena hati mereka penuh dengan kecenderungan untuk mencari kebanggaan diri dan kemuliaan bagi diri mereka sendiri. Padahal semua yang dilakukan Yesus sudah lebih dari tanda. Mukjizat yang dilakukan Yesus, pengajaran Yesus, kuasa Yesus dengan terang-benderang menunjukkan bahwa Ia berasal dari Bapa yang di surga. Kebencian mereka akan Yesus dan kedegilan hati mereka telah membutakan mata hati mereka untuk melihat kehadiran Allah melalui hidup dan karya Yesus.

Apa makna bacaan Injil hari ini bagi kita? Kita diajak untuk tidak berpikir, bersikap dan bertindak seperti orang-orang Farisi yang karena kebencian dan kedegilan hati tidak mampu mengenal siapa Yesus di hadapan Allah dan siapa Yesus bagi mereka. Kita pun diajak untuk senantiasa meyakinkan diri kita bahwa Yesus adalah Putra Tunggal Allah yang datang dari Bapa di surga untuk membebaskan kita dari kekuasaan dosa, setan dan kematian. Kematian-Nya di salib untuk menebus dosa-dosa kita dan membuka bagi kita pintu air cinta Allah yang berbelas kasih dan pengampunan yang menyembuhkan. Yesus sendiri mampu membebaskan kita dari rasa bersalah, hukuman, kesombongan, dan ketakutan. Yesus sendiri menganugerahkan kepada kita hidup yang berkelimpahan, damai, dan sukacita melalui karunia Roh Kudus. Tuhan sendiri menyatakan diri-Nya dan membuat kehadiran-Nya kita kenal melalui berbagai cara: dalam Sabda-Nya (kabar gembira yang diwartakan-Nya) dan “pemecahan roti” dalam Ekaristi (Dia adalah Roti Hidup), dalam Gereja-Nya (Tubuh Kristus), dan dalam ciptaan-Nya. Bahkan, melalui berbagai situasi dan peristiwa kehidupan kita sehari-hari, Tuhan Yesus terus-menerus berbicara kepada kita dan menuntun kita. Apabila kita mencari Tuhan Yesus, yakinlah kita akan menemukan-Nya. Kita pun harus semakin yakin bahwa Ia akan memberikan kita apa yang kita butuhkan untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Yang paling penting dari semuanya adalah bahwa Yesus meyakinkan kita akan kehadiran-Nya bersama kita setiap saat dan meyakinkan kita akan janji-Nya, yakni Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Jika kita sudah mengenal siapa Yesus di hadapan Allah dan siapa Yesus bagi kita, apakah kita masih butuh tanda dari surga?

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mendengarkan jeritan para migran: Semoga tangis saudara-saudari kita para imigran, korban kejahatan perdagangan manusia didengarkan, ditanggapi secara serius, dan ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Panggilan hidup bakti: Semoga para imam dan kaum religius mampu menjadikan hidupnya inspirasi dan kesaksian bagi kaum muda agar mereka terdorong untuk berani mengikuti panggilan menjadi imam dan hidup membiara. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kesediaan para Pelayan Pastoral dan Kader awam di Keuskupan agar semakin bersikap dan bertindak adil, dan menjadi cermin Keadilan Ilahi. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s