Ingat, Kita “debu tanah” yang Dihembusi “Nafas-NYA”!

Renungan Harian Misioner
Minggu, 01 Maret 2020
HARI MINGGU PRAPASKAH I
Kej. 2:7-9; 3:1-7; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm. 5:12-19 (panjang) atau Rm. 5:12,17-19 (pendek); Mat. 4:1-11

Ini cerita klasik yang sering disebut sebagai kisah tentang ‘dosa asal’ atau ‘asal dosa’. Cerita diawali dengan kebaikan TUHAN terhadap manusia. Manusia fana, yang sudah diciptakan dari material yang sama dengan makhluk lainnya (tanah: Kej. 2:7, 9, 19), kini diberikan ‘unsur pembeda’, yaitu nafas Allah sendiri, yang memberinya kehidupan (Kej. 2:7). Setelah itu, TUHAN menciptakan lingkungan hidup yang indah dan nyaman untuknya (Kej. 2:8) serta menyediakan pelbagai buah yang baik sebagai makanan (Kej. 2:9). Paket lengkap: hidup, rumah, dan nafkah.

Godaan ular justru pertama-tama ingin mengubah gambaran tentang TUHAN yang maha-baik tersebut. Maka, fakta pun ia bolak-balik: dari TUHAN yang memberikan dan mengizinkan semuanya (selain memakan buah dari satu pohon saja), menjadi TUHAN yang melarang semuanya (Kej. 3:1). TUHAN mahabaik, Sang Pemberi kebebasan, diubahnya menjadi TUHAN tirani yang suka melarang dan menghambat kebebasan manusia.

Si perempuan memang mengoreksi pendapat ular, namun ia melebihkan-lebihkan larangan TUHAN tentang buah di tengah kebun: “Jangan kan dimakan, di pegang saja tidak boleh!” (Kej. 3:3). Sabda TUHAN dikenang secara salah. Ada keterbukaan untuk digoda. Si penggoda profesional melihat cela kecil itu, yang dimanfaatkannya secara maksimal. Godaan berkembang jika diberi peluang! Ular lalu mengubah maksud TUHAN dengan larangan tersebut: TUHAN mau membodohi manusia. TUHAN tidak mau disaingi oleh manusia. Kalau makan, justru akan menjadi sama dengan DIA. Itulah yang paling menggoda manusia: mau sama dengan TUHAN, agar tahu segala-galanya dan hidup bebas tanpa batas!

Maka, si perempuan pun jatuh ke dalam jebakan. Ia memakan dan memberikan buah itu kepada suaminya “yang bersama-sama dengan dia” (Kej. 3:6). Eh,ternyata sang suami juga berada di TKP. Ia ikut makan buah terlarang, tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya. Dosa pertama adalah dosa bersama, bukan hanya dosa si perempuan! Julukan ‘perempuan sebagai pendosa pertama’ pastilah berasal dari para pembaca pria!

Akibat dosa memang persis seperti kata ular: “matamu terbuka” (Kej. 3:5), tetapi bukan untuk ‘tahu tentang yang baik dan jahat’ melainkan ‘tahu bahwa mereka telanjang’ (Kej. 3:7). Ketelanjangan yang sebelumnya menjadi simbol keterbukaan dan relasi tidak saling mengobyekkan, sekarang menjadi sesuatu yang memalukan dan berbahaya. Akibatnya, mereka harus saling menutup dan mengamankan dirinya dengan cawat dari dedaunan ara. Membuat pakaian sendiri adalah tanda otonomi. Mereka ingin berpisah dari TUHAN.

Cerita ini mengajar kita tentang inti dosa, yaitu tidak percaya dan tidak menghargai kasih TUHAN. Akibatnya, manusia tidak mau menerima diri sebagai ciptaan yang terbatas. Kita tidak mau diatur dan lebih suka terpisah dari TUHAN, agar hidup bebas tanpa batas! Prapaskah adalah momen untuk kembali ke fitrah kita sebagai debu-tanah: terbatas dan fana (debu), membumi dan bersaudara dengan semua penghuninya (tanah). Jangan lupa, debu-tanah itu juga dihembusi nafas hidup-Nya: agar terus bertobat demi semakin “menyerupai” Sang Pencipta!

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Umat Katolik di Cina: Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pasar tradisional: Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menghunjukkan Masa Prapaskah: untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s